Arsip untuk Februari, 2008

28
Feb
08

Ayat Ayat Cinta v Para Pencari Tuhan

OST Ayat Ayat Cinta
Penyanyi: Rossa
Pencipta lagu: Melly Goeslaw

Desir pasir di padang tandus
Segersang pemikiran hati
Terkisahku di antara
Cinta yang rumit

Bila keyakinanku datang
Kasih bukan sekedar cinta
Pengorbanan cinta yang agung
Kupertaruhkan

Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak mungkin ku jaga
Ayat-ayat cinta bercerita
Cintaku pada-Mu

Bila bahagia mulai menyentuh
Seakan ku bisa hidup lebih lama
Namun harus kutinggalkan cinta
Ketika kubersujud

POSTER FILM AYAT AYAT CINTAPOSTER FILM AYAT AYAT CINTA

“Di Atas Sajadah Cinta”, begitu judul serial teve (FTV) di sebuah stasiun televisi nasional beberapa waktu lalu. Seperti bisa ditebak, inilah serial teve bernuansa islami alias cerita reliji. Pemainnya waktu itu yang saya ingat Cindy Fatikasari dan Teuku Ryan. Tayangan ini sempat diiklankan beberapa kali, tagline-nya pertama di layar kaca, diambil dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy, alumni Kairo, Mesir.
Sejak itu perburuan mencaritahu siapa penulis ini dan karya-karyanya semakin gencar saya lakukan. Salah satunya ya ke toko buku. Tapi tak mudah memang mencari buku-buku apalagi novel yang berkategori bestseller di kota Tarakan. Pesan dulu baru buku datang. Kalaupun dapat buku bestseller, kata teman-teman saya “Anda sedang beruntung kali ini”.
Beberapa kali ke toko buku, sampai akhirnya saya menjumpai beberapa karya Kang Abik –panggilan akrab Habiburrahman El-shirazy. Salah satunya novel Ayat Ayat Cinta. Waktu itu hanya melihatnya saja. Sama sekali tak berkeinginan untuk membeli. Mungkin karena terlalu lama kali ya, jadi mood untuk baca novelnya langsung hilang.
Ketika novel ini akan dibuat film, saya masih belum tergoda untuk membeli atau membacanya. Saya berpikir, dengan kesibukan saya yang bejibun, kapan ada waktu untuk membacanya?
Sampai suatu ketika, promo filmnya yang dibintangi Fedi Nuril (Fahri), Rianti Cartwright (Aisha),  Carissa (Maria), Zaskia Adya Mecca (Noura), dan mantan Putri Indonesia 2004 yang pernah ke Tarakan, Melanie Putria (Nurul)  gencar diperbincangkan. Barulah saya surfing ke dunia maya. Pertama dapat profil Kang Abik, terus novelnya. Ups… bukannya ilegal mengunduh novel di internet? Tapi telanjur download dan saya mendapatkan novel yang sudah diedit dalam bentuk e-book format CHM File. Ada juga sih yang e-book versi PDF hanya tak seindah format CHM File tersebut. Dalam format ini kita membaca novel seperti membaca di sebuah buku yang sudah usang banget. Soalnya latarnya coklat. Terus di pertengahan kita membacanya ada suara-suara pemain filmnya, sepertinya si editor ingin nuansa filmnya masuk ketika orang membacakan novelnya. Terus kita juga bisa mengunduh Original Sound Track (OST) Ayat Ayat Cinta yang dinyanyikan Rossa. So, sepanjang baca novel kita bisa mendengarkan karya terbaru pencipta lagu Melly Goeslaw. Tumben Melly buat lagu religi. Keren abis!
Saya menghabiskan waktu sekitar 6 jam membacanya tanpa henti, eh, terpotong waktu salat deh kayaknya. Pukul 4 sore sampai malam. Dari ruangan saya di lantai 4, nyambung lagi abis salat di ruangan redaksi, nyambung lagi di halaman parkir Radar Tarakan.
Pun ketika di rumah, nyambung lagi sampai malam membacanya berulang-ulang. Mengharubiru memang. Di tambah suara-suara ketika persidangan Fahri yang dituduh telah memerkosa Noura, gadis yang notabene pernah ditolongnya. Wah, seru! Meski belum lihat filmnya.
Selengkapnya baca novel ini lebih asyik, karena belum tentu versi saya sama dengan versi Anda. Pemahaman saya tentang islam yang masih setengah-setengah juga menjadi faktornya. So, penasaran dengan sosok Fahri yang dicintai Aisha, Noura, Maria dan Nurul? Sebaiknya baca dulu novelnya baru nonton filmnya, atau sebaliknya. Jangan membanding-bandingkan karena masing-masing punya plus dan minusnya. Bisa pusing sendiri entar. Ayat Ayat Cinta the movie tayang serentak di bioskop 28 Februari 2008. Lha, bioskop di Tarakan mana? Yah, ketinggalan lagi deh dengan kota-kota lain di Indonesia.
PPT 2 SEGERA HADIR
Waktu puasa lalu, apa yang membuat kita betah bangun sahur? Apalagi kalau bukan tayangan Para Pencari Tuhan (PPT). Sinetron komedi reliji-nya Dedy Mizwar ini menawarkan suasana yang berbeda dengan sinetron reliji pada umumnya. Segar dan dijamin menontonnya berkali-kali pun tidaklah bosan. Kali ini Dedy Mizwar yang juga membuat sinetron Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat, serta film Naga Bonar jadi Dua, masih memakai grup lawak jebolan ajang pencari bakat, Bajaj, untuk produksi PPT 2. Bagaimana seru, lucu, dan mengharukannya cerita PPT 2 kali ini dengan OST-nya sama dengan judul lagunya grup band Ungu, kita tunggu saja. (*)

25
Feb
08

Gue, Loe, Angkot dan Tabrakan Maut

Dear My Diary,
Minggu 24 Februari 2008
Kampung Empat Tarakan

Di tengah rintik hujan dan udara dingin yang sampai ke tulang
Kembaliku ke laptop Flybook V33i kesayanganku
Menuliskan kembali rangkaian kata-kata
Pembangun jiwaku
Yang mengingatkanku
untuk lebih menghargai hidup
hidup cuma sekali friend
Detik ini kita hidup
Mungkin sedetik kemudian kita mati
Dan ketika kembaliku ke Ilahi nanti
Setidaknya goresan pena dunia mayaku
Menyapa khalayak dalam salam damai penuh cinta dariku
Today’s Campaign:
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer)

Dear my diary,
Gue nggak setuju kalau angkot dalam tabrakan maut itu disalahin. Terkecuali fakta-fakta di lapangan memang mengarah ke kesalahan angkot itu ya silakan hukum dia. Maksud gue gini. Angkot itu emang jelek friend. Nah, udah jelek jangan dijelek-jelekin lagi. Lihat dong kejadiannya gimana dari keterangan para saksi yang ada.
Kenapa gue bilang angkot itu jelek. Stigma angkot sekarang itu sopirnya suka ugal-ugalan di jalan raya, suka berhenti sembarangan saat menaikkan dan menurunkan penumpang, suka putar balik arah sembarangan di saat ramai, sopirnya suka nggak berpakaian rapi, bau lagi, kayak orang nggak mandi. Belum lagi angkot jelek masih beroperasi di tengah kota. Mbok ya dicat, dirapikan, ditambahi tong sampah kecil, dipasangi audio stasiun radio favorit yang memutar lagu-lagu terkini seperti Yovi and The Nuno, Andra and The Backbone, Nidji, Peterpan, The Titans, The Rock, Dewa, Mulan Jameela, Duo Maia, T2 dan lain-lain. Terus ditambah pengharum ruangan atau apalah, sehingga membuat betah penumpang. Ini belum kelengkapan surat-surat lo ya.
Gue bisa bilang begitu karena gue suka naik angkot. Loe nggak tahu kan? Ya sedikit banyak gue tahulah. Apalagi kalau gue lagi nyetir mobil, yang paling gue takutkan angkot yang mendadak berhenti di depan gue. Nah, loe. Ketimbang ribut terpaksalah pelan-pelan di belakangnya.
Masih adakah angkot yang baik. Ada sih satu dua bisa diitung deh. Karena yang jelek banyak makanya stigma negatif itu melekat. Padahal kalau angkot itu rapi, bersih, wangi dan taat pada aturan lalu lintas, gue bisa banggain pada daerah lain. Bukannya kota-kota modern, termasuk Singapura itu warganya tertib berlalu lintas? Lha Tarakan kan kota berjuluk The New Singapore, kalau angkotnya jelek begini malulah. Think about it!!!
So, stigma angkot yang melekat begitu jeleknya nggak bisa dong ditimpakan juga pada sopir angkot seorang dalam tabrakan maut itu. Terlebih lagi ada anggapan bila roda dua bertabrakan dengan roda empat pasti yang salah roda empat. Enak aja! Lihat dulu dong kejadiannya lewat saksi-saksi yang ada. Baru sampai pada kesimpulan.
Polisi mesti ekstra kerja keras untuk mencari saksi-saksi. Sehingga lebih adil, lebih fair dalam melihat sebuah kejadian. Soalnya pertanggungjawaban poilisi itu bukan hanya di dunia saja, lho. Di akhirat kelak mereka juga akan dimintai pertanggungjawaban. Disini, keprofesionalan polisi dipertaruhkan. Ayo dong bantuin polisi.
Dear my diary,
Gue dilaporin teman-teman kalau saksi-saksi mata yang melihat tabrakan maut itu pada takut, nggak mau dijadiin saksi polisi. Katanya ribet. Menurut teman gue. Ketimbang jadi saksi mending diam aja?
What?????
Mbak, orang nggak mau jadi saksi karena ribet dipersulit polisi.
Masa sih?????
Bayangin, katanya, saksi harus mau dipanggil polisi kapan pun, ditanyain ini itu yang pertanyaannya banyak banget, ongkos pulang pergi ditanggung saksi, lha kalau saksinya orang nggak punya, uangnya pas-pasan kan kasihan.
What?????
Cara berpikirmu kok ndeso banget sih? (ndeso = meminjam istilah Tukul Arwana, presenter Empatmata)
Udeh deh gue nggak bisa ngomong. Gue cuma ingat sang guru saat di pengajian bilang. “Katakanlah kebenaran itu meskipun itu pahit. Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan jangan tolong menolong dalam perbuatan keji dan mungkar.”
Gue pernah lho jadi saksi kasus apa ya. Lupa. Waktu itu gue dipanggil Polda Kaltim. Waktu itu Polda Kaltim masih di kantor lama dekat Pemkot Balikpapan. Nyusahin sih, mana gue sibuk banget. Ini udah panggilan kedua kalinya menuju ketiga baru dijemput paksa. Wah,… deg degan juga. Untunglah pas ada acara di Surabaya, gua mampir ke Balikpapan dan bersama seorang teman diperiksa polisi. Mulanya suasananya garing, karena gue menyangka polisi masih pakai mesin ketik zaman baheula yang bunyinya tak tik tok tak tik tok. Begitu masuk ke ruangan eh ada komputer. Pertanyaan-pertanyaan sudah ada tinggal menuliskan jawaban-jawaban saya apa. Gue jadi geli dibuatnya. Ternyata polisi-polisinya gaul banget. Suasana pemeriksaan nggak seseram yang gue bayangkan. Yang bisa gue jawab, ya gue jawab apa adanya. Yang nggak tahu, gue jawab nggak tahu. Begitu selesai gue ditraktir polisi makan bakso dekat kantornya. Alamak! Kapan lagi ditraktir polisi. Hehehe.

Tapi mbak, kata teman saya lagi. Kenapa orang-orang nggak mau cepat menolong setiap ada kecelakaan lalu lintas ya, ya, lantaran faktornya sering ditanyai rumah sakit siapa yang bakal menanggung biayanya, padahal mereka kan cuma mengantarkan korban, misalnya. Belum lagi ada mitos, kalau korban meninggal di kendaraan si penolong maka dijamin si pemilik kendaraan bakal sial terus?
What?????
Hari gene loe masih berpikir soal hartamu satu-satunya bakal berkurang, hanya gara-gara menolong orang? Loe juga masih berpikir soal mitos. Capek deh!
Guru spiritual saya bilang,”Anakku letakanlah duniamu di tanganmu. Jangan kau meletakkan duniamu di dalam hatimu.” Nasihat ini maknanya dalam banget. Tapi, sudahlah, dunia, dunia, sering membuatku terlena.

Dear my diary,
Gue kasihan sama korban. Gue pengen berkunjung ke rumah keluarganya yang berduka. Gue pengen berziarah ke makamnya. Tapi kapan ya, gue sibuk banget. Tapi gue juga nggak rela kalau sopir angkot di tabrakan maut itu dihukum. Karena menurut gue faktor-faktor lain juga mestinya jadi pertimbangan polisi dong. Misalnya Penerangan Jalan Umum (PJU) yang mati sehingga tak menerangi jalanan raya. Marka jalan yang tidak bersinar saat ditimpa sorot lampu kendaraan. Kayaknya udah beberapa kali lho kecelakaan ada di situ.
Gue termasuk yang nyaris jadi korban kecelakaan di tempat itu juga tempo hari. Karena kondisi gelap tiba-tiba saja sebuah mobil memotong jalan mobil gue, mobil itu persis lewat begitu saja di depan gue dari arah bandara. Untungnya feeling gue bilang stop. Kalau gue juga ngebut, terjadi deh kecelakaan itu. Marka jalan juga nggak terang-terang amat, jadi agak sulit kalau kita bilang sudah minggir, di tengah atau melewati batas marka yang ditetapkan. Pernah juga saya disalip mobil dan motor lain dari belakang. Laju banget. Wah, kok ngebut-ngebutan sih. Mungkinkah juga lantaran saya terlalu hati-hati di jalan raya.
Dulu juga waktu mau dibuat median jalan, kan median yang dibangun nggak diterangi lampu, pas jam 3 pagi gue sama teman-teman percetakan ngeliat sebuah mobil dari arah juata yang nggak tahu ada bangunan median langsung menghantam median. Wah, teman-teman langsung membawa ke rumah sakit. Pernah juga waktu gue ikut mengantar film untuk percetakan dari kantor lama ke kantor baru (waktu itu kantor baru Radar Tarakan masih dibangun), teman gue menghentikan mobil tiba-tiba di jalan raya yang gelap. Ternyata ada sapi di depan mobil. Untungnya feeling teman gue jalan, padahal kondisi gelap. Sapi itu duduk-duduk manis lagi di jalanan raya.
Pernah juga sapi-sapi yang diikat di padang rumput dekat bandara oleh pemiliknya, lepas saat jalanan ramai di malam hari. Teman-teman yang mengusirnya malah kewalahan. Akhirnya saya kontak rekan saya di satpol PP untuk mengamankan sapi itu. Biar pemiliknya didenda biar kapok. Punya sapi kok nggak diurusin malah nyusahin banyak orang. Dikadangkan kek, apa kek, gitu.
Sekarang trennya, depan Radar Tarakan yang gelap itu jadi tempat trek-trekan anak-anak motor, pakai taruhan berjuta-juta lagi. Belagu amat sih, mau minta diliput Radarkah? Ogah! Kalau itu anak-anak Cimot, gue nggak mau ada liputan lagi, nggak mau ada acara modifikasi lagi, nggak mau mengapresiasi apapun kegiatan mereka. Titik nggak pakai koma. Gue bilang begini karena gue fans berat cimot. Organisasi anak-anak motor yang eksis. Meskipun gue nggak punya motor.
“Mbak boss (ada lagi istilah nama panggilan untuk saya. My name is Anny, you know?), yang trek-trekan bukan Cimot bah. Jadwal konvoi cimot sudah dilaporin ke polisi. Ada hari khususnya, bukan malam minggu. Nantilah kita lapor lagi ke polisi untuk klarifikasi,” kata salah seorang pengurus Cimot.
Pokoknya gue nggak mau ada korban lagi. Mau masuk koran kok jadi korban trek-trekan di jalan raya. Jadi mayat lagi. Nggak keren amat! Mati sia-sia, bukan mati secara terhormat. No way! Nggak ada sebuah karya yang bisa dibanggain buat keluarga, sahabat, pacar dan orang-orang terdekat loe.
Dear my diary,
Aku capek, makan dulu ya…. Pasca kejadian tabrakan maut itu, mood-ku untuk makan hilang. Apalagi kalau masih ingat korban. Tapi perutku sudah keroncongan nih, sebelum lagunya berubah menjadi lebih nge- rock mending gue makan dulu deh. Ciao….

23
Feb
08

Lelaki dengan Wajah Berlumur Darah

“Mbak, pasien lakalantas itu sudah tiada. Maksudnya, ketika tiba di Pertamedika nyawanya sudah tiada. Maafkan kami Mbak. Kami sudah berusaha. Tapi memang pasien yang tiba barusan di UGD sudah tidak bernapas lagi,” kata rekan saya dari Pertamedika Tarakan. Nada suaranya sangat hati-hati seolah mencoba menenangkan.
Innalillahi wainna ilaiihi rojiun

Saya menghela napas panjang dan berkata,”That’s OK, Mbak. Kita sudah berusaha. Allah juga yang menentukan. Thanks for all crew Pertamedika Hospital.”

Saya memang menghubungi rekan saya di pertamedika via telepon untuk segera menolong korban lakalantas yang terjadi di depan Kantor Radar Tarakan, Jumat malam lalu. Saya juga bilang ke rekan saya itu bila tak ada keluarga korban yang menjamin, maka segala tagihannya atas pasien itu menjadi tanggung jawab saya.

Dalam hati ada sesal mendalam. Saya mengutuk diri saya sendiri. “Anny, loe terlambat. Terlambat menolong orang yang sudah sekarat ke rumah sakit. Loe jahat.”

Astagfirullahal adzim…

Rentetan kejadian demi kejadian kembali muncul di hadapan saya. Seperti sebuah film yang diputar ulang. Dimulai ketika saya tengah berada di depan Pos Satpam sehabis magrib, untuk berkoordinasi dengan rekan saya yang akan menjemput praktisi radio di sebuah hotel di bilangan Jl Yos Sudarso. Kebetulan ada diskusi dengan mengundang para pimpinan dan kru radio se-Tarakan di Radar Tarakan.
“Oke, ya, jemput tamunya sekarang. Karena acara dimulai jam 8 malam,” kata saya kepada rekan saya tadi.

Tiba-tiba terdengar bunyi keras sekali.

Brak!!!

Spontan saya menoleh ke arah jalan raya utama depan Radar Tarakan yang gelap. Entah mengapa Penerangan Jalan Umum (PJU) tidak menyala. Hanya satu yang menyala dekat tangga Radar Tarakan, tangga yang menghubungkan jalan pertama dan jalan kedua. Itupun saya masih meraba-raba apa gerangan yang sedang terjadi. Sebuah mobil meluncur dari arah Juata dan berhenti terseok-seok menuju jalur seberang, tepatnya di depan kantor kesehatan Bandara Juwata. Sejurus kemudian angkot berasap.

“Kenapa itu, kenapa itu,” kata rekan saya.

“Pecah ban kali,” kata yang lain.

Suasana hening. Semua mata terpaku ke angkot tersebut. Seperti menantikan sesuatu. Mungkin juga takut kalau kalau mobil meledak. Sebab sudah mengeluarkan asap.

“Kayaknya ada korban,” ujar rekan saya sambil berlari ke arah angkot yang berhenti itu. Sejurus kemudian tetangga dan pengemudi motor yang melintas di jalanan mendekati angkot.

Saya berlari ke arah jembatan dan mendapati korban sudah digotong ramai-ramai ke pinggir jalan dekat PJU. Segera saja, korban dikerubungi banyak orang. Aslinya saya penakut sekali. Melihat korban kecelakaan apalagi. Tapi entahlah sepertinya saya ingin tahu, meskipun kemudian saya gemetar dan blank. Untuk sesaat saya nggak tahu apa yang harus dilakukan. Kaki saya sepertinya sulit bergerak.

Seorang ibu di sebelah saya dengan mengiba meminta tolong.

“Cepat, cepat tolong dia. Bawa ke rumah sakit. Kasihan, mbak,” katanya penuh harap.

Saya memegang pundak ibu itu untuk menenangkan. Saya baru ingat rekan saya yang membawa mobil menjemput tamu. Mudahan belum begitu jauh dia membawa mobil. Begitu menengok ternyata mobil saya itu masih berada di depan kantor.

“Friend, putar balik mobil. Bawa korban ke rumah sakit. Sekarang.”

Saya berteriak tanpa sadar kalau di sekeliling saya sudah banyak orang.

“Mbak, saya disebelah mbak,” katanya

“Oke. Putar balik mobil ya.”

Saya menoleh ke kiri dan kanan jalan memang sudah banyak orang dan kendaraan roda dua. Beberapa orang berinisiatif meminta tolong pada mereka. Entahlah mengapa tak ada yang tergerak untuk segera menolong korban. Saya langsung bilang,”Pak, pakai mobil saya saja. Itu masih putar.”

Rupanya masih dari arah juata, sebuah angkot lain lewat. Sopirnya sempat ragu-ragu, dengan melewati begitu saja korban, tapi rupanya angkot itu masih menunggu. Mungkin dia menunggu ada yang menjamin korban berada di rumah sakit.

Saya akhirnya melihat korban juga setelah beberapa orang yang mengerumuni korban berpindah tempat. Allahu Akbar, wajahnya berlumuran darah. Pasti sakit sekali. Saya langsung menoleh ke arah lain. Duh, kenapa ngeliat sih. Lutut kaki saya sempat bergetar. Ditambah lagi rasa mual yang menyergap tiba-tiba. Rasanya mau pingsan. Tapi saya kuat-kuat kan saja. Saya mengejar angkot yang tampak ragu-ragu tadi.

“Pak, pak, pak, tolong. Saya anny Radar Tarakan, bapak bawa korban ke Pertamedika sekarang. Saya minta tolong Pak. Rekan saya dari Radar Tarakan akan ikut di angkot bapak.”

Kali ini saya yang masih terengah-engah sehabis berlari mengejar angkot ganti mengiba pada sopir angkot itu. Akhirnya dia mengangguk dan membukakan pintu.

Duh, syukurlah. Alhamdulillah ya Allah.

“Pak, pak, korbannya angkat,” kata saya lagi pada kerumunan orang-orang.

Beberapa orang lantas menggotong korban ke dalam angkot. Hanya satu di antaranya yang ikut dengan memeluk korban agar tubuhnya tak jatuh.

“Ini. Ini. Ini bagaimana ini,” kata bapak yang mendekap korban meminta penjelasan.

Dalam situasi seperti ini saya tidak mau berdebat. Saya mengerti mungkin bapak itu tengah meminta penjelasan siapa nanti yang akan menanggung biaya rumah sakitnya.

“Pak, nanti bapak bilang ke Pertamedika, atas tanggungan Anny Radar Tarakan. Saya akan menghubungi Pertamedika segera. Ini rekan saya dari Radar Tarakan yang akan ikut bersama bapak. Oke, Pak.” kata saya lagi berusaha menjelaskan.

Saya sempat ragu, Pertamedika or RSUD? “Tapi dijawab ke Pertamedika saja lebih cepat.”

Salah satu rekan saya sempat bilang. “Mbak, korbannya itu sudah meninggal.”

Saya sempat melihat kaki dan tubuh korban dalam keremangan angkot, sebelum pintu mobil belakang ditutup. Kaku. Mungkin benar apa yang dikatakan rekan saya tadi. Korban itu sudah meninggal? Tapi saya segera menepisnya dengan masih optimistis. Masih ada waktu untuk menyelamatkan nyawa korban ini, pikir saya. Berusaha, berusaha, berusaha.

“Eh, loe ke Pertamedika sekarang. Gue nggak mau tahu. Oke. Sekarang!” kata saya ke rekan saya tadi.

Angkot yang membawa korban pun meluncur dan saya segera menghubungi rekan saya di Pertamedika. Pikiran saya masih ke korban yang dibawa angkot.

Allah, selamatkan nyawa orang itu di detik-detik yang masih tersisa. Aku mohon kepada-Mu selamatkan orang itu. Orang yang sama sekali tak saya kenal. Orang yang ditolong ramai-ramai tapi tak kami kenal siapa dia. Pasti dia kesakitan sekali. Kasihani dia ya Allah.

Saya membayangkan perjalanan ke Pertamedika akan lama karena menuju ke rumah sakit di bilangan jalan Mulawarman itu harus berputar dulu ke depan kantor polisi di jalan Yos Sudarso, masih untung kalau tak terkena lampu merah dua kali. Tapi sudahlah saya berusaha menepis hal-hal buruk. Saya memilih berdoa dalam hati. Sampai akhirnya datang kabar duka itu dari rekan saya di Pertamedika.
Tanpa terasa mata saya berkaca-kaca. Ups, waduh cepat-cepat saya menguceknya. Saya malu kalau terlihat rekan-rekan Radar Tarakan yang rata-rata cowok, bisa diolok abis entar. Saya juga malu kalau menangis saat menyambut rekan-rekan radio se-Tarakan. Saya harus terlihat riang, tegar dan penuh semangat. Biar mereka semangat juga. Walah dhalah saya kok lupa, kalau saya kan manusia biasa yang punya hati dan perasaan.

Dengan langkah gontai, seperti orang yang kalah perang saya masuk ke kantor Radar Tarakan. Saya memilih menuju tempat acara di lantai 4 Gedung Silver untuk sejenak menenangkan diri. Beberapa rekan Radar Tarakan sempat menemani saya dan mengambilkan segelas air putih. Seteguk air cukuplah menghilangkan dahaga sejenak. Sambil menunggu waktu, saya menuliskan kembali rentetan kejadian tabrakan itu menurut versi saya. Mengapa saya tulis? Karena yang ada dalam benak saya ya menuliskan kejadian itu dan mem-posting-nya ke blog saya di http://bloganny.wordpress.com.

Belum selesai saya menulis, acara diskusi sudah dimulai. Suasana diskusi yang seru sesaat bisa melupakan peristiwa tadi. Ketika acara usai, saya kembali teringat sosok lelaki berlumur darah yang tergolek di pinggir jalan dekat jembatan Radar Tarakan dan lagi-lagi saya menyesali kenapa saya merasa terlambat menolongnya. Meski segala daya upaya sudah dikerahkan untuk menolongnya.

Kenapa juga orang lain yang berkerumun itu tak lekas menolongnya. Apakah takut kalau-kalau salah menolong? Apakah takut nanti bakalan jadi saksi di kepolisian? Apakah takut nanti bakalan mengganti biaya rumah sakit, padahal kondisi kocek pribadi saja sedang sulit? Saya berusaha mengerti, memahami semua ini. Tak baik menyalahkan orang lain. Toh, semuanya sudah berupaya dengan kadar kemampuan masing-masing.

Saya masih tak percaya korban itu secepat itu meninggal. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Seandainya PJU di sekitar lokasi kejadian menyala, seandainya, seandainya…

Tapi toh tetap tak mengembalikan nyawa korban

Ya Allah
Seandainya nanti di akhirat orang itu menuntut saya bagaimana?
Apa yang harus saya jelaskan di hadapanmu ya Allah.
Maafkan hambamu Ya Allah
Ampunilah kami Ya Allah
Hujan deras malam itu makin membuat basah hati ini.
Semogalah lelaki yang tak saya kenal itu memaafkan saya
(anny@radartarakan.com)

22
Feb
08

Cerita Sandal, Sepatu dan Ibu-ibu

“Seru ya, kapan lagi sepatuku disemir Mbak Anny Radar Tarakan? Hehehe,” seru Mbak Novi saat antre di depan toilet di komplek perkantoran Pemkot Tarakan. Kontan saja banyak ibu-ibu yang tertawa mendengarnya.

Saya hanya bisa tertawa dan membalas,”Awas, ye, Tagihan belakangan. Sudah tahu sandal disemir. Mana ada sandal disemir.”

“Lagian disuruh pakai sepatu, mbak Anny malah pakai sandal. Aneh, nih,” kata Novi nggak mau kalah.

“Kirain apa dikasih amplop. Eh, isinya kertas tisu. Disuruh nyemir pula. Lain kali mudahan aku bisa ikut lagi, aku bawa semir sendiri aja dari rumah.”

Pernyataan ibu inipun langsung disambut tawa ibu-ibu lainnya.

“Sepatuku ini baru, lho. Jadi nggak banyak kotorannya. Tadi pas break (istirahat sejenak) diambilkan bapaknya anak-anak di rumah. Soalnya kan panitia dah bilang disuruh pakai sepatu,” ujar seorang ibu sambil memperlihatkan sepatunya yang bersih.

“Wah, bapak ternyata sayang banget ya sama ibu. Hebat. Emang beli sepatunya dimana, Bu,” kata Novi.

“Ini bukan sepatu baru beli bah. Ini lama nggak kupakai-pakai sejak masih baru dibeli dulu. Kusimpan aja,” si ibu itu menerangkan.

“Ooooooo,” kata Novi sambil manggut-manggut.

Sebenarnya masih banyak cerita sepatu dan ibu-ibu. Kebetulan saat pelaksanaan ESQ ada sesi dimana para pesertanya, nggak peduli dia pejabat, pegawai, tua, muda, terhormat dan berpangkat atau yang biasa-biasa saja bergantian menyemir sepatu rekannya.

“Yang bersih ya ibu-ibu dan bapak-bapak. Termasuk yang didalam dan dibawah sepatu wajib dibersihkan juga,” kata M Subhan, trainer ESQ angkatan ke-5.

Kontan saja seisi ruangan serbaguna bergemuruh suara tawa. Tentu saja ada hikmah dibalik menyemir sepatu. Seperti melatih kesabaran, ikhlas, rendah hati, saling menghargai dll. Justru kalau bertemu Mbak Novi, penyiar RRI, yang paling saya ingat adalah cerita sepatu itu.

Selama tiga hari saya pindah kantor (baca: sementara) dari Gedung Silver Radar Tarakan di Jl Mulawarman (depan Bandara Juwata) ke Ruang Serbaguna Pemkot Tarakan. Saya ke sana sebagai warga biasa, menanggalkan atribut jabatan saya. Tepatnya saya mengikuti training Emosional Spiritual Quotient (ESQ) yang pelaksanaannya sudah kali kelima. Saya ikut training di angkatan ke-5.

Menjadi orang biasa, pura-pura tak dikenal, merendahkan hati, rela antre? Hmm… mulanya berat. Berat banget. Karena terbiasa disanjung puji, terbiasa dilayani, terbiasa dihormati dan segala macamnyalah. Ya, seperti di iklan akhirnya dibuat enjoy ajalah. Full selama tiga hari saya hanya 1 persen mikirin Radar Tarakan dan radionya, sedangkan 99 persen hati dan pikiran saya ke materi training. Sayang dilewatkan. Karena undangan training ini sempat saya cueki sebanyak 5 kali. 4 kali dari panitia ESQ Tarakan –waktu itu Bapak Agang Sinja, selebihnya tawaran dari sahabat baik untuk mengikuti acara serupa di Jakarta. Baru tawaran keenam dari panitia ESQ Tarakan yang tiba-tiba entah kenapa saya bisa memenuhinya. Seperti sudah ada yang mengatur.

Mulanya telepon dari ibunda Yetty –anggota DPRD Tarakan yang juga ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Tarakan, kemudian dari panitia ESQ Haryanto. Saya cek, jadwal saya kosong di tiga hari itu. Padahal biasanya selalu penuh. Bagaimana dengan teman-teman saya, ah… dah terbiasalah. Karena di Radar Tarakan ada atau tak ada saya Radar Tarakan harus tetap terbit, radio tetap mengudara. So, mereka sudah bisa mandiri. Bukankah kebahagiaan seorang pemimpin itu ketika dia bisa “melahirkan” pemimpin-pemimpin baru? Ya, proseslah. Toh, saya juga masih harus banyak belajar dan berproses.

Mengikuti training ESQ bagi saya penyesuaian diri. Mulai tempat, saya terbiasa dengan ruangan kaca penuh cahaya. Karena konsep desain gedung radar tarakan yang terbuka, full kaca dan alucupon (dinding dari bahan baja ringan). Sinar matahari bisa menerobos masuk ke kaca-kaca gedung silver, bisa merasakan rintik-rintik hujan yang terlihat membasahi tanah, bisa merasakan semilir angin bila jendela kaca dibuka, bisa melihat panorama Tarakan dari ketinggian atau melihat pesawat terbang take off dan landing. Tapi selama tiga hari semua peserta ESQ yang berjumlah 198 orang termasuk saya berada di ruangan tertutup dan disuguhi visualisasi ala bioskop 21.

Dua hari pelaksanaan acara, setiap pagi selalu turun hujan. Hari pertama malah banjir dimana-mana. Hari kedua hujan sebentar. Nah, baru hari ketiga hari yang cerah. Kok mirip album terbaru Peterpan “Hari Yang Cerah” ya. Toh, biarpun banjir, basah kuyup, peserta tetap datang. Ruangan selalu penuh. Selalu bersemangat. Peserta tak hanya dari kalangan pemkot Tarakan, tapi juga dari polres, pengadilan, KPU, panwaslu, PKK, organisasi wanita dan sejumlah tokoh masyarakat serta MUI.

Apa yang menyebabkan mereka dari berbagai latar belakang itu tetap datang? Karena materinya yang menyentuh hati dan rasa kemanusiaan kita tentang betapa agung ajaran yang dibawa Rasulullah SAW itu. Di saat-saat kritis, genting, tiada satupun penolong, hanya Allah-lah tempat kembaliku (cerita pengalaman pilot garuda yang mendarat darurat di Bengawan Solo), tentang kemajuan bangsa-bangsa dan semangat untuk perubahan. Subhanallah, Ya Rabb betapa indah jalan lurus itu bila ditempuh dengan ikhlas mendekatkan diri pada-Mu. Kumpulkanlah kami di hari yang Engkau tentukan nanti dengan mereka yang memilih-Mu, mencintai-Mu dan berpegang teguh pada ajaran Rasul-Mu dan akhirnya kepada-Mu lah nanti kembaliku.

(kenangan saat mengikuti Training ESQ di Gedung Serbaguna Pemkot Tarakan 2007, Angkatan ke-5. Sebenarnya sudah lama ditulis. Tapi baru dipublikasikan sekarang. Untuk para alumni ESQ, salam semut aja deh. Selamat pagi….)

22
Feb
08

Duh, Malunya, Bosku Rela Jadi “Sopirku”

Keliling Tarakan, Belajar Mengemudi Mobil (2-Habis)

Menjelang detik-detik selesai kursus mengemudi mobil, tahapan lain yang saya lalui adalah mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM). Saya pilih tidak mengurusnya sendiri tapi satu paket dengan biaya kursus. Mau enaknya aja nih. Ya, kan saya nggak punya waktu banyak. Selain itu saya orangnya mudah bosan kala antre atau menunggu. Wah, nggak suka banget.
Nah, saya dan instruktur saya menuju Kantor Polres Tarakan. Jarang-jarang ke Polres membuat saya dag dig dug. Bukan takut tapi grogi berat. Inilah kali kedua saya ke Polres pasca saya menabrak mobil pengacara Tarakan tempo hari. Sebelumnya memang sudah beberapa kali ke Polres untuk suatu urusan, tapi bisa diitung dengan jari. Nggak perlu proses lama-lama karena semuanya sudah diuruskan. Tinggal foto, jadi deh SIM saya. Senang, bangga, setelah jatuh bangun eh maksudnya belajar mati-matian mengemudi mobil. Ibarat anak sekolah yang lulus ujian. Gembiranya ya seperti itu.
Eiiiiit, tapi tunggu dulu. Apa cukup sampai disitu? Ternyata tidak, karena saya masih ada sesi belajar mengemudi untuk kendaraan pribadi, pengenalan mobil, cara merawat dan lain-lain.
O, ya, selama menjalani sesi terakhir ini saya sempat ditegur instruktur saya lantaran mulai ngebut saat melewati jalan berlubang. Ceritanya gembira nih.
“Kalau cara mengemudi Mbak seperti itu. Mobil yang bagus bisa rusak dong,” katanya kali ini serius.
Saya pun menjawab,”Lho, bukan salah saya dong. Mana jalanan bagus di Tarakan. Kalau nggak berlubang, rusak digerus air, terendam air, bergelombang, tambal sulam, ya gitu deh. Sebentar-sebentar dibaiki, sebentar-sebentar rusak.”
“Hindari jalanan rusak dan jangan ngebut. Oke,” kali ini instruktur saya tegas.
Wah, saya jadi takut. Kali ini, galak amat instruktur saya ini. Hehehe. Padahal biasanya dia suka melucu, tapi bukan pelawak. Sedikit tentang instruktur saya ini, dia mantan karyawan Radar Tarakan, kemudian mengundurkan diri dan bekerja di tambang batu bara. Setelah itu banting stir menjadi instruktur kursus mengemudi mobil. Istrinya yang cantik, dulunya adalah wartawati Radar Tarakan.
Dia sering berkata,”Kalau saya ajarin mengemudi Mbak, hari-hari harus ada kemajuan ya. Seperti yang selalu mbak katakan dulu ketika saya jadi anak buah mbak. Nah, sekarang mbak jadi siswa saya. Jadi saya mau mbak bisa mengemudi mobil, oke.” Wah, ternyata hidup berputar ya, kadang kita diatas, kadang kita berada di bawah.
Mengapa saya cepat bisa mengemudi mobil, salah satunya karena di-deadline. Selebihnya lantaran metode di kursus ini adalah siswa –istilah untuk mereka yang mengikuti kursus—diwajibkan menjemput siswa lainnya saat latihan. Dengan medan yang berbeda-beda diharapkan terbiasa dan bisa saling tukar informasi serta pengalaman baru. Seru pokoknya. Teman satu latihan saya adalah Mbak Erna. Istri salah seorang pengusaha Tarakan. Rumahnya di Gunung Lingkas. Jalan menuju rumahnya tuh sempit banget dan berputarnya juga sulit. Tapi saya harus bisa membawa mobil bahkan menjemputnya. Teman kursus saya lainnya adalah, anak dari pemilik salah satu hotel di Gunung Lingkas, saya lupa namanya. Dan seorang ibu yang tinggal di dekat Garindo Sebengkok. Lebih susah lagi berputar di halaman rumahnya yang sempit plus mepet dengan jalan. Acara jemput menjemput selesai dan akhirnya saya dilepas instruktur saya untuk mengemudikan mobil sendirian.
Usai kursus mengemudi, belajarnya saya lanjutkan sendiri. Beberapa teknik saya hapalkan sendiri. Harus bisa mandiri tanpa instruktur. Pun ketika bos saya dari Balikpapan datang. Terpaksalah lantaran saya belum pede mengemudi, akhirnya bos saya itu sendiri yang mengemudi. Saya disampingnya. Begitulah. Malu iya, grogi iya, gimana gitu. Antara tega dan nggak tega. Harus tega, ketimbang saya grogi dan nabrak, hehehe. Untungnya bos saya itu pengertian.
Nah, lain lagi saat saya membawa mobil ke Pantai Amal dan sepulangnya saya dari sana membawa penumpang. Ceritanya ada undangan Telkom di Bais Hills Pantai Amal. Jam 8 pagi. Waduh, menuju Pantai Amal itu terbayang kan tingginya gunung yang hendak dilewati. Supaya nggak malu dengan undangan lainnya, saya pilih pagi-pagi ke sana. Undangan jam 8, jam setengah 8 saya sudah sampai. Gathering lancar. Pas pulangnya seorang ibu dari RRI hendak menumpang, kan satu jalan. Kalau lewat Kampung Empat, ya lewat RRI. Waduh, grogi berat. Tapi saya memberanikan diri dengan berkata terus terang dengan ibu itu, kalau saya masih belajar. Alhamdulillah, beliaunya baik sekali. Akhirnya saya sukses mengantarkannya hingga halaman RRI. Malah di-support terus untuk bisa.
Ada cerita lucu lagi saat saya harus menjamu tamu dari Bulungan. Karena lagi-lagi grogi, saya meminta tamu itu untuk membawakan mobil menuju ke tempat kita makan. Ramai-ramai dengan teman-teman iklan. Sepulangnya, tamu tadi minta diri untuk berhenti di depan hotel di bilangan jalan Mulawarman. Jadilah saya yang akhirnya mengemudikan mobil. Tahu ajakan, teman-teman iklan gimana reaksinya. Antara takut dan nggak mau ditinggal di jalanan. Saya jadi geli dibuatnya. Peraturannya dilarang berkomentar yang membuat saya grogi. Oke. Sepanjang perjalanan itu saya diam, tapi mereka asyik melucu yang membuat saya tersenyum. Pas mau berbelok ke a rah kantor dari arah warung buah-buahan, salah satu teman iklan nyeletuk. Waduh, nggak nyampe nih dan mobil pun akhirnya berhenti. Di-starter lagi dan akhirnya sampai kantor juga. Begitu keluar dari mobil semuanya berucap syukur. “Alhamdulillah selamat,” kata mereka hampir berbarengan. Wah, ngolok nih teman-teman iklan. Belum tahu dia kalau saya juga dag dig dug.
Untuk menghindari grogi saat membawa penumpang lain saya sering mengajak serta adik saya. Itu pun dengan pesan dilarang cerewet. Alhasil, adik saya cuma diam saja di mobil sambil mendengarkan radio. Begitupun bila teman-teman saya hendak menumpang. Saya memilih menjadi penumpang ketimbang sopir.
Tampaknya memang saya harus sesering mungkin membawa mobil, sesering mungkin ngajak jalan tean-teman, untuk menghilangkan rasa grogi saat membawa penumpang. Ya, belajar lagi deh. (anny@radartarakan.com)

19
Feb
08

Alamak, Ngobrol kok di Tengah Jalan

Keliling Tarakan, Belajar Mengemudi Mobil (1)

Biasanya disopiri, sekarang saya membawa mobil sendiri. Ingin mandiri? Nggak juga. Lagi pengen aja. Soalnya kalau lagi bosan naik mobil, ya saya naik ojek, naik angkot, atau minta antar teman-teman naik motor. Ya, suka-sukalah. Karena menurut saya apapun alat transportasinya pasti punya kisah tersendiri untuk dituangkan ke dalam tulisan.
Sebenarnya sejak lama ingin mengendarai mobil sendiri hanya tidak sempat untuk kursus mengemudi. Sampai suatu ketika deadline dari kantor pusat bahwa saya harus bisa mengemudi sendiri atau mobil akan ditarik, baru deh kalang kabut. Belajar sana sini dengan teman satu kantor. Sampai akhirnya pede bawa mobil sendiri. Bukannya di jam-jam sibuk jalanan, melainkan berangkat dari rumah pukul 4 atau 5 pagi, kemudian pulang ke rumah pukul 1 dinihari.
Suatu ketika pertengahan Desember lalu, saya telat bangun pagi dan hujan, nekat ke kantor mengendarai mobil karena sudah ditunggu relasi. Kejadian deh, nabrak mobil yang tengah parkir di Jl Sudirman. Waktu itu jam-jamnya sibuk pulang anak-anak sekolah. Berurusan di kepolisian tentu saja, sampai akhirnya keputusan saya harus siap mengganti kerusakan mobil.
Kapok? Nggak sih. Penasaran iya. Kok bisa nabrak ya. Pikir saya. Padahal saya sudah berada di jalur yang benar. Kok bisa nabrak ya. Masih untung tak ada korban jiwa, hanya kerusakan mobilnya salah seorang pengacara Tarakan. Spion kanannya hancur dan body kanan mobil tergores. Duh, kalaulah ada sidang yang tertunda, pastilah gara-gara saya sehingga Pak Pengacara itu harus berada juga di kepolisian untuk dimintai kesaksian. Apakah hanya cukup dengan mengganti saja? Tidak. Saya harus kursus mengemudi. Waktunya? Ini dia. Harus ada jadwal rutin yang dikorbankan. Apakah hanya ini saja pengorbanannya? Tidak. Bonus akhir tahun saya dipotong untuk biaya kursus mengemudi, gaji saya juga siap-siap dipotong untuk mengganti biaya bengkel. Terkesan habis-habisan? Yup, untuk menebus rasa bersalah, sekaligus penasaran. Saya harus bisa mengemudi. Bukan asal mengemudi, tapi bagaimana mengemudi aman, nyaman dan beretika di jalanan. Satu-satunya jalan ya kursus.
Saya mengambil kelas khusus dengan 24 kali pertemuan. Setiap hari pertemuan selama 1 jam belajar mengemudi. Teori sekaligus praktek. Saya juga meminta kelas tambahan untuk sesi mobil pribadi. Biasanya kalau disopiri aktifitas saya didalam mobil ya dengerin musik, ber-HP ria, SMS-an, baca koran atau majalah bisnis. Pokoknya apa yang terjadi di luar mobil cueklah, kan ada sopir. Tapi begitu bawa mobil sendiri ya otomatis keadaan di luar harus saya perhatikan semuanya.
Pertama kali kursus langsung dibawa ke jalan raya yang ramai. Kata instruktur saya ini untuk melatih keberanian saya melintas di jalanan ramai. Wah, deg degan.
“Mbak sudah bisa, hanya masih gugup. Jadi harus dibiasakan di jalan raya untuk tidak gugup. Tarik napas dan tenang. Fokus mengemudi ya,” kata instruktur saya menenangkan.
Selama belajar mengemudi saya sempat dilarang membawa mobil pribadi hingga sesi pertemuan ke-10 baru diperbolehkan. Tujuannya supaya saya menguasainya seluruh teori dan praktek terlebih dahulu dengan mobil tempat kursus. Lagian kan mobilnya diasuransikan, sementara mobil saya belum.
Dimana saja belajarnya? Ya, Keliling Tarakan. Selama berkeliling inilah saya jadi tahu gaya orang-orang Tarakan berkendara di jalan raya. Alamak, amburadul banget. Masih ada yang ngobrol di jalan raya, ber-HP ria nyebrang jalan,sambil belok pun asyik ber-Hp, kebut-kebutan, mobil motor dari gang langsung “slonong boy” nggak lihat kiri kanan, parkir mobil sembarangan, balik arah di tengah jalanan padat, motor protol dan mobil bermata satu alias hanya salah satu yang menyala ketika malam dan masih banyak lagi.
Saya sempat bertanya pada instruktur saya,”Saya belajar mengemudi bagaimana berkendara yang aman, nyaman dan beretika di jalanan. Terus kalau lalu lintasnya amburadul begini, lalu ngapain saya belajar?”.
“Minimal mbak memberikan contoh yang baik. Saya rasa sudah cukup. Jadi anak buah mbak akan mengikuti. Setelah itu efeknya ke lingkungan sekitarnya,” kata instruktur saya lagi.
“Ah, kelamaan. Malu lah sama tamu-tamu dari luar Tarakan kalau cara berkendara kita seperti itu. Entarlah ngobrol sama kasatlantas dan buat sosialisasi cara berkendara yang baik di jalan raya.”
Selama kursus saya diajari etika di jalan raya, tidak saja terhadap pejalan kaki, pengendara kendaraan, tetapi terhadap makhluk Tuhan yang lain. Seperti ketika banyak anak-anak kucing berlarian di jalan raya. Instruktur saya sempat turun memberikan contoh meminggirkan anak-anak kucing yang lucu-lucu itu. Saya hanya bisa bilang kepada instruktur saya itu,”Anda adalah makhluk Tuhan paling baik.” kok jadi ingat lagunya Mulan Jameela sih. (bersambung/anny@radartarakan.com)

18
Feb
08

RISING STAR SEBENTAR LAGI

♥Siap2 nonton konser lagi.

♥Setelah Slank menghebohkan Tarakan Desember 2006 lalu,

Maret 2008 ini kembali grup band papan atas Indonesia bakal meramaikan Tarakan.♥

Siap2 nonton dengan tertib, supaya banyak grup band papan atas lainnya yang manggung di Tarakan.

♥Saya sih berharap Nidji dan Peterpan.

Tetapi siapa tahu publik punya pilihan lain.♥

18
Feb
08

Si Mbah Penjaja Gorengan

“Dhenok mau beli kue kah? Sanggar sama ote-otenya masih panas. Baru digoreng,” kata seorang nenek tua yang menjajakan dagangannya usai magrib di halaman parkir Gedung Silver.
“Boleh deh, Mbah,” jawab saya singkat.
Dhenok, itu adalah nama panggilan untuk saya dari si Mbah penjaja gorengan. Tapi biasanya, dalam tradisi jawa, dhenok itu adalah nama panggilan untuk anak kecil perempuan. Dulu ketika saya bertanya pada ibu saya yang orang Jogya itu kenapa saya dipanggil dhenok, padahal nama saya bukan itu. Dengan halus ibu saya bilang, dhenok itu nama panggilan untuk anak kecil perempuan yang tubuhnya gendut, pipinya tembem, ngegemesin, ya kayak kamu itu. Makanya, kata ibu saya lagi, saya dipanggil dhenok. Hehehehe.
Hari itu padat aktifitas. Dari pagi sampai sore rapat terus sampai saya lupa makan. Kalau sudah begitu, saya malas kemana-mana. Saya pilih makan apa aja yang penting halal di dekat kantor. Di depan kantor Nunukan Sakti –tetangganya Radar Tarakan—kini tiga pedagang. Yang satu penjual nasi goreng, yang satunya lagi penjual minuman. Masih ada satu lagi, warung bentukan intern karyawan radar tarakan tapi letaknya di dalam halaman parkir.
Kebetulan rekan-rekan saya juga ikutan bergabung, jadilah arena halaman parkir menjadi tempat diskusi menarik. Dan ups… ketika tengah menyeruput kopi hangat, mata saya tertuju pada si Mbah yang duduk ndeplok di lantai paving di dekat tempat duduk saya. Saya sempat keselek dan terbatuk-batuk.
“Duh, astagfirullah Mbah. Saya lupa saking asyik ngobrol. Maaf-maaf Mbah. Saya minta ote-ote dan sanggarnya ya Mbah,” kata saya sambil memilih jajanan dan sejurus kemudian membayarnya dengan lembaran Rp20.000.
“Alhamdulillah ya Allah, akhirnya ada yang beli daganganku hari ini. Terimakasih ya Allah,” katanya sambil menciumi uang yang saya berikan.
Deg. Jantung saya seperti berhenti berdetak. Pemandangan di depan saya barusan sungguh mengharukan. Seolah-olah dalam sekali si mbah mengucapkan Alhamdulillah. Lafal yang berarti ucapan syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT selama ini. Dalam banget. Terasa menyentuh hati. Lafal yang seperti tenggelam bersama dengan kesibukan saya akhir-akhir ini. Ya, Allah. Dia seperti malaikat yang tiba-tiba datang mengingatkan saya. Sudahkah anda bersyukur hari ini?
Saya masih terdiam dan mengamati si mbah itu ketika satu persatu tangannya menyimpuni dagangannya. Merapikan penutup ember yang seperti bakul dan menggendongkannya di punggung. Mirip mbok jamu langganan saya.
“Kenapa to Mbah, kok sepertinya senang betul dagangannya saya beli. Kan saya cuma ngasih uang Rp20.000. Tapi ucapan mbah barusan, Alhamdulillah itu dalaaaaaaaaam banget?” kata saya memberanikan diri bertanya ditengah kegembiraannya mendapatkan selembar uang dua puluh ribuan.
“Aku tadi sudah jalan jauh. Kok tumben hari ini nggak ada yang beli daganganku. Mana kakiku rasanya capek betul. Pas lewat depan Radar saya lihat dhenok, eh mbok menowo (siapa tahu/bahasa jawa red.) mau beli,” katanya si mbah itu menerangkan.
“Ooo…,” kata saya sambil manggut-manggut.
“Ini kembaliannya,” kata si Mbah yang sampai sekarang saya nggak tahu siapa nama aslinya. Biasanya saya dan teman-teman memanggilnya dengan sebutan mbah.
“Nggak usah. Buat besok aja, mbah datang lagi ya. Saya tunggu, daaaa mbah,” kata saya sambil berlalu karena ada panggilan telepon masuk.
Kata rekan-rekan saya, si mbah itu rumahnya di sekitar perumnas. Menjelang sore setiap harinya dia berjalan kaki menjajakan dagangannya. Sebenarnya dia tinggal dengan anaknya, tapi si mbah ngotot nggak mau membebani anak dan menantunya. Dia memilih bekerja dan bekerja, walaupun itu hanya menjajakan gorengan. Baginya, berjualan keliling dengan berjalan kaki sekaligus menyehatkan badan. Hal itulah yang membuatnya bahagia. Bisa bertemu banyak orang, bisa bercerita tentang kenangan masa mudanya, dan masih banyak lagi.
Tapi, sampai kapankah si Mbah akan berjualan terus. Tidakkah usianya kian renta? Apakah seperti ini nasib orang-orang tua di Tarakan? Wajah keriput, mata tirus, tubuh kurus, rambut memutih, kian lama kian terpinggirkan. Apakah semuanya akan berakhir di panti-panti jompo? Sepi, sendiri, tanpa kasih sayang keluarga terdekat, menjelang ajal menjemput.
Tak bisa dipungkiri kemajuan sebuah kota meninggalkan sebuah ironi kaum terpinggirkan. Salah satunya ya seperti si Mbah itu. Ya, hari gini mana ada perusahaan yang mempekerjakan orang-orang tua, semua mempersyaratkan muda, laki-laki atau perempuan, baru lulus sekolah, dan sebagainya. Ah, dunia, dunia. (anny@radartarakan.com)

16
Feb
08

Biarlah Warga Memilih

PERTAMA kali yang saya baca koran kalau pagi ya poling pilwali-wawali Tarakan. Siapa kandidat yang digadang-gadang jadi calon walikota dan siapa calon wakil walikota Tarakan. Penasaran? Ya iyalah. Sebagai warga kota saya berhak tahu siapa calon pemimpin kota ini di masa depan. Saya tidak ingin seperti membeli kucing dalam karung alias nggak ngerti siapa aja calon pemimpinnya. Saya juga berhak menentukan siapa nantinya calon yang benar-benar layak memimpin kota ini.
Beberapa nama memang saya mengenalnya, tapi saat beberapa nama asing muncul mulai deh saya bertanya-tanya, O ou siapa dia?
“Ini siapa sih? Kayaknya baru tahu namanya. Orangnya gimana? Bagus nggak? Dia pernah bekerja di mana saja. Kesuksesan yang pernah dicapai apa? Asetnya berapa? Latar belakangnya bagaimana? Satu lagi, visi misinya kalau dia terpilih jadi pemimpin apa?” tanya saya kepada beberapa rekan.
Mereka pun menjawab bergantian. Ada yang menyebut si kandidat punya jabatan ini itu, punya perusahaan ini itu, pernah tugas di lembaga tertentu, punya aset sekian sekian, dan sebagainya. Begitupula saat saya menanyakan beberapa nama kandidat yang lain, dengan sigap rekan-rekan saya menjelaskan latar belakang masing-masing calon. Lengkap? Belum. Lha orangnya saya nggak tahu yang mana? Hehehe.
“Kalau mbak, pilih kandidat seperti apa?” tanya rekan saya balik.
“Oh, cowok, cakep, smart, berwibawa, dan…” kata-kata saya dipotong.
“Mau cari kandidat or pacar?’ kata rekan-rekan saya jadi ramai.
“Sorry bercanda.” Kata saya yang langsung menghangatkan suasana sore di pelataran parkir Gedung Silver Radar Tarakan.
Tapi menarik juga saat poling pilwali-wawali dibuka Radar Tarakan, saya sempat berbincang dengan mereka yang secara sukarela mengirimkan poling dukungan. Mengapa Anda mengirimkan poling untuk kandidat tertentu misalnya, dijawab oleh si pengirim dengan beragam alasan. Dari situ, saya bisa menarik kesimpulan warga kota ini ingin perubahan. Apakah selama ini kota ini belum baik? Jawabannya bisa beragam, baik, sudah baik, belum baik atau perlu penajaman program di beberapa sisi. Up to you lah. Wong saya hanya mendengarkan curhat masyarakat kok. Mereka mau ngomong apa aja ya saya dengerin aja sambil manggut-manggut.
Si pengirim poling ada yang curhat, pilih kandidat ini lantaran dinilai piawai mengatasi problem listrik. bagaimana listrik nggak byar pet sehingga tak lagi mengganggu aktivitas sehari-hari, adalagi yang curhat pilih kandidat itu lantaran ingin air PDAM mengalir di rumahnya 24 jam nonstop dengan jernih, tidak berbau, dan tidak bercampur lumpur. Tetapi adalagi yang memilih kandidat lain curhat bagaimana jalanan di kota ini semakin baik, tidak bolong bolong, tidak bergelombang sehingga kalau mengendarai mobil mirip goyang dangdut, bagaimana system drainase yang baik agar tak banjir ketika hujan, bagaimana menjaga Tarakan tetap bersih, sehat dan hijau, bagaimana harga-harga kebutuhan pokok tidak mahal, lapangan kerja banyak, dan lainnya. Juga yang curhat kok kandidat ini mencalonkan diri padahal beberapa kali menolak ketika ditanyai. Lagi-lagi saya hanya bisa berkata, “O, ya? Mungkin warganya yang menginginkan. Bukan sang kandidat. Namanya politik tak ada kawan abadi, dan tak ada lawan abadi, setiap saat selalu berubah.”
Dari beberapa nama kandidat poling saya belum melihat kemunculan kalangan akademisi semisal rektor Universitas Borneo, Direktur AMIK PPKIA, Direktur ABATA, Ketua STIE Bulungan Tarakan, apakah beliau-beliau ini tak mau terjun ke politik, tidak tertarik atau belum ada pendukung dan sebagainya. Juga dari kalangan perempuan Ketua GOW, Ketua PKK, Ketua Muslimat NU, dan organisasi wanita lainnya. Menarik! Bila sosok perempuan hadir. Bukan sekadar pemanis.
Bagaimana ya kalau mereka debat adu program? Seru kali. Tapi harus benar-benar disetting semuanya harus dewasa berpolitik sehingga segala perbedaan menjadi rahmat. Menjadi masukan untuk membenahi kota tercinta ini. Selamat berkompetisi yang sehat dan biarkanlah warga memilih siapa calon pemimpinnya kelak.
(anny@radartarakan.com, sedang membaca buku “Barack Obama, Menerjang Harapan dari Jakarta Menuju Gedung Putih”)

13
Feb
08

Naik Speed Bersama Kambing ke Malinau

NAIK speed bersama artis, saya sih sudah pernah. Bersama Ayu Azhari dan pelantun tembang “Denpasar Moon” Maribet ke Nunukan 2002. Kemudian menemani Puteri Indonesia 2004 Melanie Putria (Imel) juga ke Nunukan mengunjungi barak TKI di Mambunut. Pun beberapa kali perjalanan menggunakan speedboat ke Bulungan-Nunukan-Malinau, speed kecil Sebatik-Tawau PP saat heboh-hebohnya kasus Ambalat, perahu kecil Long Midang-Desa Pa’Raye (Krayan) pulang pergi, pesawat kecil Long Bawan (Krayan)-Tarakan, naik ojek Long Bawan-Long Midang, menyusuri hutan Kayan Mentarang semuanya sudah pernah. Tapi naik speed bersama kambing, baru kali ini saat beberapa waktu lalu saya ke Malinau. Gimana ceritanya?
Gara-gara telat bangun setelah begadang semalaman, akhirnya saya pun hanya bisa pasrah saat dapat tiket speed yang hendak ke Malinau menjelang siang. Saya tetap harus ke sana, karena sudah telanjur janji untuk briefing rekan-rekan di Biro Malinau. Syukurlah cuaca cerah sekali, meski ada bayang-bayang mendung nun jauh di langit. Begitu memasuki speed, saya harus melewati 2 speed sebelumnya yang bersandar.
Duh, lupa, kenapa pakai sepatu hak tinggi dan pakaian kerja formal. Biasanya saya cukup pakai sepatu kets dan busana casual. Yah, namanya buru-buru. Rada takut-takut juga. Sebab naik turunnya ke speed-speed itu harus meminta bantuan awak kapal. Akhirnya saya duduk juga di kursi kedua dari depan setelah bersusah payah. Bisa dipahamilah, karena Pelabuhan Tengkayu tengah perbaikan. Biasanya kedatangan dan keberangkatan dibedakan lokasinya. Tapi kali ini menumpuk di satu tempat. Antrelah.
Lagi memperhatikan speed-speed lain bersandar, saya mendengar suara anak ayam. Saya tengak tengok, oalah, dari kardus-kardus berisi anak-anak ayam tersusun rapi di atap speed sebelah. Sempat geli sih. Ini speed penumpang kok dimuati binatang peliharaan ya.
Tak berapa lama, speed yang saya tumpangi segera berangkat. Tapi mampir sejenak ke sebuah kapal yang tengah bersandar. Ada muatan kambing yang ikut di atap speed. Kontan penumpang speed tertawa.
“Entar kalau kambingnya kencing, bisa basah semua nih penumpang,” celetuk salah seorang penumpang yang disambut geer yang lain.
Dan, speed pun melaju. Suara kambing yang mengembik pun menjadi bahan guyonan sesama penumpang speed kala itu.
Speed sempat merapat di Bebatu, hujan gerimis sekali lagi sempat membuat kambing mengembik. Dan lagi-lagi menjadi bahan tertawaan. Wah, mimpi apa ya, satu speed bersama kambing. Hehehehe.
Saya sih hanya memikirkan kira-kira kambing ini akan dibawa ke mana ya? Siapa pemiliknya? Kambing ini naik speed tiketnya berapa ya? Termasuk asuransi kecelakaan nggak ya? Kalau terjadi kecelakaan misalnya, mana yang didahulukan diselamatkan, kambing atau manusia? Masih banyak pertanyaan lainnya. Ah, pusing.
Tapi kalau kambing ini dimasak enak kali ya. Bisa kambing guling, gulai kambing, sate kambing, soto kambing, dendeng kambing, rendang kambing dan lain-lain olahan masakan dari kambing. Lagi asyik-asyiknya melamun perut saya keroncongan. Emang belum sarapan dari pagi. Wah, untung saja speed merapat ke Sesayap. Disini, ada penjual nasi udang yang berjejer. Harganya pun terjangkau. Hanya Rp10.000 per bungkus. Sudah termasuk nasi, udang goreng, sambal dan segelas air mineral. Rasanya? Wah, enak banget. Nasinya masih hangat, udangnya lezat, sambalnya pedes banget. Apalagi dimakan pas lagi lapar-laparnya. Enak banget. Lumayan sejenak wisata kuliner sebelum menuju ke Malinau.
Dari Sesayap, perjalanan masih 1 jam lagi. Saya masih penasaran dengan kambing diatas atap speed. Karena tak bisa melihat bagaimana kondisinya. Tarakan ke Malinau ditempuh selama 3 jam. Bisa dibayangkan capeknya sepanjang perjalanan. Untung ada hiburannya kambing selain pemandangan sepanjang perjalanan. Begitu merapat ke pelabuhan Malinau, rasa penasaran saya nggak habis-habisnya. Ternyata, selama 3 jam perjalanan itu kambing dibungkus karung beras dan diikat. Hanya kepala, dan kaki-kakinya saja yang kelihatan. Duh miris, kasihan kau kambing.
“Mbak, cepetan, kok ngelamun sih. Gara-gara kambing nih,” kata rekan saya di Malinau yang sudah datang menjemput.
Karena kebetulan juga ada janji, wah, terpaksa saya merelakan kambing ini. Padahal menurut beberapa warga di pelabuhan Malinau, inilah kali pertama kambing naik speed. Biasanya naik kapal. Sebegitu pentingnyakah kambing ini sehingga speed yang notabene untuk manusia pun harus dikalahkan dengan keberadaan kambing.
Pun begitu pulang dari Malinau, lagi-lagi saya naik speed miring. Kok miring? Iya, kelebihan barang yang ditaruh di atas speed. Ibu-ibu yang satu speed dengan saya sempat khawatir yang menyuruh sebagian penumpang untuk mengisi kursi kosong di sebelah kanan, nyatanya tak menolong juga. Speed tetap miring ke kiri hingga ke Tarakan. Untungnya cuaca cerah dan ombak tak terlalu besar.
(anny@radartarakan.com)




 

Februari 2008
S S R K J S M
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Flickr Photos

More Photos

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 8,007 hits