Arsip untuk Maret, 2008

27
Mar
08

Bulungan Traffic Light Baru, Goodbye Drum

“Sibukkah? Kalau nggak sibuk cobalah sesekali ke Bulungan. Jangan di Tarakan terus yang banyak acara. Sesekali bikin acara di Bulungan-lah. Cuma satu jam juga dari Tarakan,” kata salah satu kolega saya dari Bulungan.
Kebetulan saat itu seperti biasa, saya sedang mengecek laporan rekan-rekan. Sejenak melihat agenda, saya langsung bilang ke kolega saya itu.

“Ya. Lama juga saya tidak ke Bulungan. Tapi apa yang baru sih di Bulungan?” tanya saya balik.

Kolega saya itupun bilang sebaiknya saya sendiri yang mencari apa yang terbaru di Bulungan. Saya pun tertawa dibuatnya.

Akhirnya saya berangkat ke Bulungan. Kebetulan ada suatu urusan yang harus saya selesaikan. Ya, sekalian lah. Ups, mau berangkat hujan deras. Jadi maju mundur antara berangkat atau tidak bercampur dengan takut. Bismillah berangkat ajalah.

Begitu sampai, saya langsung diajak rekan-rekan wisata kuliner. Seperti biasa, setiap singgah di suatu daerah pasti saya tanya makanan enak di sini apa. Dan kali ini rekan-rekan saya mengajak ke Milo. Menu yang dipesan, udang goreng tepung, tahu sayur ala chinesefood.

BELOK KIRI KOK ADA LAMPU MERAH?

Usai makan, saya dan dua rekan saya ini langsung menuju kantor biro di Jl Mangga. Nah, saat melewati jalan raya ada pemandangan menarik. Bulungan punya traffic light! Wow…. Hebat euiy… seingat saya ada beberapa titik. (saya nggak hafal jalan apa saja. Beberapa ke Bulungan dan mengelilingi jalan-jalannya saya masih belum hafal juga).
Tapi pas di persimpangan jalan lampu merah menyala. Lucunya kendaraan yang berhenti hanya beberapa saja. Bisa dihitung jari. Sangat kontras dengan Tarakan yang kalau sudah lampu merah wah banyak banget kendaraan yang antre. Berapa lama stop di lampu merah? Nggak lama. Sebentar banget. Karena kendaraannya kan tidak seramai Tarakan.

Nah, lucunya lagi nih, kalau belok kiri kan jalan terus. Ini belok kiri ada lampu merah menyala juga. Lho kok? Iya menyala, tapi hanya sebentar saja. Baru kali ini saya menemukan belok kiri, berhenti dulu sebentar di lampu merah, baru jalan terus.
Saya dan rekan-rekan membahas soal lampu merah ini. Salut tuk Bulungan karena meskipun volume kendaraan baru sedikit minimal dengan traffic light bisa meredam angka kecelakaan lalu lintas. Selain itu menambah keindahan kota. Kalau biasanya pemandangan drum-drum belang-belang di berbagai persimpangan jalan sebagai penanda bagi kendaraan, sekarang sudah ada traffic light untuk jalan besar, dan fiberglass kuning untuk jalanan kecil. Goodbye drums.

TERAPI KAPSUL SEKALIAN SAUNA

Karena pertemuan dengan kolega saya itu kembali dijadwalkan malam, maka agenda saya selanjutnya adalah refrershing dulu. Ketimbang bengong menunggu hingga malam. Lebih baik memanjakan diri sendiri dulu. Lelah naik speedboad bisa sedikit hilang. Mengarungi perairan dari Tarakan-Bulungan memang hanya satu jam, tapi capeknya itu lho. Meski hanya duduk-duduk saja di speed.

Pilihan jatuh ke tempat terapi kapsul dan sauna di depan Kantor Biro Radar Tarakan di Bulungan. Kebetulan sudah kenal dan menjadi langganan setiap kali ke Bulungan, ya sudah langsung dipersilakan saja. Terapi kapsul, saya sederhanakan saja bahasanya dengan “pijat mesin”. Kita baring-baring saja di sebuah alat yang mirip kapsul. Sambil tidur-tiduran, sudah deh, alat ini akan memijat sendiri bagian belakang tubuh kita. Naik turun dan terasa hangat.

Pijat biasa dengan pijat mesin, rasanya sama-sama enak dan nyaman di badan, hanya kalau pijat mesin badan tak terlalu berminyak. Usai dipijat oleh mesin, gantian sauna alias mandi uap panas. Tinggal masuk ke dalam lemari tunggu 15 menit keringatan deh. Nggak perlu berlari-lari keliling lapangan sepakbola. Cukup duduk-duduk saja dan keringat yang keluar sama dengan keringat saat kita berlari-lari atau joging. Saya pilih praktisnya saja. Kalau fresh begini dijamin saat besok kembali ke Tarakan atau tidur di malam hari jadi nyenyak. Duh, enak banget deh. Jadi pengen tidur, ups… janji makan malam sambil ngobrol dengan kolega saya itu pukul 8 malam. Siap-siaplah….

Usai makan malam, bawaannya memang langsung tidur. Soalnya kekenyangan menyantap udang sungai kayan Bulungan. Lezat banget. Padahal cuma dibakar doang. Subhanallah, Allah itu menciptakan makanan yang lezat alami untuk dinikamti penduduk negeri. Masihkah kita tidak mensyukuri?

KENANGAN SEWAKTU DI BULUNGAN (DULU LAGI)

Saya beberapa kali memang ke Bulungan. Bahkan saat bosan di Tarakan, saya “bersembunyi” –nya ya ke Bulungan. Pergi pagi, tidur atau jalan-jalan baru pulangnya sore, fresh lagi deh. Ke Bulungan tepatnya ke Tanjung Selor relatif mudah ke sana lantaran speedboad setiap jam selalu ada. Jadwal keberangkatan speedboad pertama pukul 06.30 pagi dan speedboad terakhir pukul 5 sore.

Pertama kali ke Bulungan sekitar tahun 2002 atau 2003. Bersama teman-teman dari Tarakan kita refreshing ngisi liburan akhir pekan. Kemana lagi kalau bukan ke tempat wisata air terjun di KM 18. Saat itu sekitar lokasi masih becek, saya sempat terjatuh 2 kali. Gedebuk! Wah, ditolongin deh. Lebih mengerikan lagi karena ternyata teman-teman saya yang satu rombongan terkena gigitan lintah. Hiiiii…. Serem.

Untung di antara teman ada yang jadi “pawang lintah” jadi ya nggak masalah. Itulah untuk kali pertama dalam hidup saya melihat lintah si penghisap darah. Jadilah kami satu rombongan melihat-lihat ke sandal, sepatu, jari-jari kaki hingga tangan. Siapatahu si lintah menempel. Untunglah tak ada lintah yang ingin mengisap darah saya. Mungkinkah karena saya memakai lotion anti nyamuk yang baunya menyengat? Wallahua’lam.

Lokasi wisata lainnya yang pernah saya kunjungi adalah Gunung Putih dan Kraton Kesultanan Bulungan. Gunung putih yang sebenarnya adalah gunung batu gamping dulunya masih sering dimanfaatkan masyarakat sekitar. Namun seiring dengan pelestarian lingkungan, dan keselamatan wisatawan yang berkunjung ke sana maka tempat wisata ini dilarang untuk digali.

Konon menurut cerita, Gunung Putih menyimpan harta karun Kesultanan Bulungan. Saat masa perjuangan dulu, untuk menyelamatkan diri dari musuh gunung ini menjadi lokasi pertahanan. Termasuk menyimpan harta karun kesultanan. Benarkah?

Saya paling suka berwisata ke sini. Udaranya sejuk. Kalau naik menuju ke gunung ada beberapa anak tangga yang harus dilewati. Coba dihitung. Saya sempat menghitung 100 anak tangga saat ke atas, tapi ketika turun kok hanya 86. Mau naik lagi, ah, ngos-ngosan deh. Hati-hati licin, pegangan saja dengan kayu atau besi di samping tangga yang dibuat permanen. Lokasi ini memang agak kurang terawat dengan baik, padahal bila dinas instansi terkait konsen terhadap tempat wisata ini hasilnya bisa lumayan untuk mengisi kas daerah. Untuk warga sekitar juga demikian terkena imbasnya. Perekonomian akan berkembang dan menciptakan pasar atau daerah perekonomian baru di sana. Lainnya belum pernah

Saat akan kembali ke Tarakan di pelabuhan speed saya melihat peta lokasi wisata Bulungan. Wah, banyak juga. Ada makam keramat Datu Adil? Ada sumber air panas, ada air terjun, dan masih banyak lagi.

Tapi setiap kali mengingat Bulungan, yang saya ingat daerah sentra buah-buahan. Sepertinya setiap saya ke Bulungan, selalu ada buah-buahan local yang tidak kalah dengan daerah lain. So, kalau ditawari langsat dari tawau eiiiit entar dulu di Bulungan langsat dan duku jauh lebih enak. Atau jangan-jangan langsat Bulungan dijual dengan nama langsat tawau lantaran membeli produk luar negeri itu terasa keren. Ah, kuno. Saatnya buah-buahan lokal menjadi raja di rumah sendiri. Ingat buah ya ingat Bulungan. Ting!

26
Mar
08

Kangen Ngeblog

Lama nggak ngeblog membuat saya kangen berat. Maaf-maaf bagi yang telah dengan sukarela membuka-buka blog ini. Malah ada yang bertanya-tanya tulisan terbarunya apa? Wah, saya terharu dengan perhatian saudara saudari sekalian. Padahal blog ini bukan koran yang harus terbit setiap hari lho. Ini hanya ajang ekspresi eh unjuk gigi weleh weleh apalagi ya. Intinya kegiatan lain sehari-hari saya. Bentuknya bisa sumbangan ide pemikiran dan lain-lain.
Maklumlah kesibukan akhir-akhir ini yang membuat kegiatan ngeblog menjadi sedikit terganggu. Eh, terbalik ya, seharusnya kegiatan ngeblog nggak boleh mengganggu pekerjaan. Tetapi harus menunjang pekerjaan. Wah, kayaknya terlalu keren bahasanya. Begitu maksudnya. Tapi telanjur banyak yang suka (terbukti dengan banyak yang bertanya tulisan terbarunya apa) ya sudah diterusin sajalah. Hitung-hitung silaturahmi dan menambah teman.
So, jangan bosan membuka blog ini ya… sengaja ada perubahan tampilan di blog. biar terlihat fresh saja dan sayapun tidak bosan.
Salam blogger

14
Mar
08

Byar Pet Lagi, Beli Nasi Bungkus di Kampung Enam

KAMIS (13/3/2008) saya masih di rumah. Udara dingin pagi ini lebih dingin dari sebelumnya. Masuk musim hujan, jalanan banjir, becek, ah… nyuci mobil lagi. Capek deh…. Kan nggak enak lagi ke kantor mobil kotor?

Buat yang sering lewat depan Idec, hati-hati banjir. Nggak tahu ya kenapa sering banjir sih daerah itu. Karena emang daerah catchment area (daerah tangkapan air) sudah tidak adalagi, apalagi ada proyek masjid raya. Tapi memang problemnya karena drainasenya kecil, malah nggak ada sama sekali.

Pagi-pagi mau minum teh hangat dan makan mie instan ah… listrik kembali byar pet. Saya buka-buka koran pagi nggak ada pengumuman kalau ada pemadaman listrik. Mungkin saja, kalau nggak monyet, kelelawar, burung, atau layangan. Mungkin saja pemeriksaan rutin. Nggak biasanya PLN Tarakan, PLN terbaik kedua se-Indonesia setelah batam itu nggak ada pengumuman biar secuil.

Pagi-pagi listrik padam, langit mendung, udara dingin. Enakan tidur. Tapi, di tempat tidur ya nggak bisa juga mata ini terpejam. Nggak enak sih kalau nggak ada informasi apapun soal kantor. Koordinasi aja dengan teman-teman via HP flexi, murah meriah.
Aktifitas selanjutnya, buka-buka email. Pas buka email di HP, ah, nggak bisa juga. Pasti juga di kantor nggak bisa. Karena ada pemberitahuan dari Telkom kalau speedy di kantor mau diupgrade sampai siang baru selesai. (Di-upgrade apa emang rusak. Kan ada di informasi di situs internet kalau jaringan internasional ngadat, lantaran kabel optik Telkom kena proyek flyover di Riau, hehehe. Up 2 u lah)

Mau ngantor malas. Mau tidur malas juga. Bawaannya kok jadi malas ya. Cuaca-cuaca, kok juga jadi nyalahin cuaca. Tapi perut dah mulai keroncongan. Di rumah memang tak ada kompor. Saya memilih praktis saja, dispenser untuk air panas, air dingin. Rice cooker multifungsi yang nggak cuma untuk masak and menanak nasi, tapi juga bisa juga berfungsi untuk memasak sayur, menggoreng tempe tahu, ikan, dll.

Saya maunya sih praktis. Memasak kok merepotkan. Dengan peralatan praktis memasak biasa jadi istimewa, khas anak kos. Maklum di negeri orang.

Lha saya cuma berdua sama adik, mau masak apa juga pasti porsinya kan nggak banyak. Tapi… menderita juga kalau pas listrik byar pet. Ya, sudah beli nasi bungkus ajalah di Kampung Enam, dekat rumah.

Selesai makan, ealah listrik baru nyala…. Sementara adik sibuk di dapur menyiapkan makanan masakan sendiri untuk makan sore dan malam. Saya sibuk koordinasi dengan teman-teman radio. Mereka mau datang ke rumah. Ya, udah ngantor di rumah aja. Tapi asyik aja kali ya kalau Tarakan ini ada internet gratis (nggak cuma di taman oval). Kemana-mana ada sinyal internet, jadi nggak perlu ngantor lagi. Ngirit bensin, mengurangi polusi udara, hehehehe.

(Asal jangan jadi alasan malas ke kantor aja….)

12
Mar
08

Tidur Terbatas, Makan Sering Telat tapi Terbayar dengan Kesempatan Foto Bareng

GIRING NIDJIARIEL PETERPAN

Suka Duka Kru Radar Tarakan dan RTFM Sukseskan Konser Peterpan dan Nidji

Kesibukan kru EO Radar Tarakan dan Radar Tarakan FM (RTFM) menjelang kedatangan, saat manggung dan kepulangan 2 band papan atas, Nidji-Peterpan, di Tarakan cukup menguras waktu dan tenaga. Bagaimana suka duka mendampingi artis, berikut ceritanya.

HERLIN LILING TASIK

SEJAK ada kabar Tarakan menjadi tuan rumah konser A Mild Live Rising Stars Nidji-Peterpan, kru Radar Tarakan dan Radar Tarakan FM (RTFM) sudah sibuk. Mulai dari persiapan izin konser, panggung, hotel, pengamanan, tim medis, pemadam kebakaran, kendaraan, sampai penjualan tiket. Makin disibukkan lagi banyaknya pemesanan tiket via telepon, padahal jauh-jauh hari sudah dikabarkan pembelian tiket hanya di Gedung Silver Radar Tarakan dan Studio RTFM.

Tak sedikit juga teman, keluarga bahkan kenalan meminta tiket gratis dari panitia.
“Bukannya pelit atau apa memang tiket harus beli. Jangankan teman, karyawan Radar Tarakan dan Radar Tarakan FM pun sudah diwajibkan pimpinan untuk membeli tiket bila nonton konser. Ini supaya tertib, karena kita mengimbau warga tertib maka di intern kita sudah menertibkan diri,” kata Cia, sekretaris EO Radar Tarakan.

Tak terkecuali Pemimpin Perusahaan Radar Tarakan Anny Susilowati, yang harus rela antre tiket untuk bisa nonton konser tanpa ada pengistimewaan. Mbak Anny—panggilan akrabnya juga harus mengungsi ke hotel terdekat, karena tak mau terhambat aktifitasnya gara-gara terjebak banjir di depan Idec yang pernah dialaminya. Apalagi mobil operasional semua untuk melayani artis dan kru.

Begitupun dengan Indra Zakaria, redaktur pelaksana Radar Tarakan yang terpaksa menggunakan motor saat pergi dan pulang ke kantor, bahkan pernah naik angkot karena mobilnya juga dipakai untuk operasional artis.

Kru Radar Tarakan FM yang didaulat mengkoordinir tiketing juga sibuk. Studio yang terletak di Jl Yos Sudarso ini hari-hari dibanjiri fans yang akan membeli tiket. Mbak Vivi yang tengah hamil 7 bulan pun tak ketinggalan bersemangat.

”Aku kok ngidam jualan tiket Nidji-Peterpan. Boleh ya. Siapa tahu anakku cakep kayak Ariel Peterpan,” katanya yang disambut hangat kru.

Tugas berat menanti tim bagasi yang harus mengamankan barang-barang artis dan kru. Begitupun tim transportasi yang harus standbye 24 jam mengantar kemanapun artis dan kru pergi. Sehingga harus siap-siap menahan lapar. Baru makan ketika artis sudah beristirahat.

Paling berat adalah saat mengamankan artis dari serbuan fans di malam hari. Jadwal artis yang seharusnya makan malam di luar hotel terpaksa harus carut marut. Panitia terbelah. Mengamankan artis yang telanjur ke luar dan menjaga yang masih di dalam hotel. Koordinasi harus dilakukan beberapa kali dengan 911 alias bodyguard-nya artis.

”Saya jagain Giring (vokalisnya Nidji). Eh, Giring sempat ditarik fans. Tiba-tiba saya digebuk fans dari belakang. Wah, cepat-cepat saya dan kru mengamankan Giring. Asal jangan Giring yang kena gebuk, bisa lain nanti beritanya di Jakarta. Imej untuk Tarakan juga buruk,” kata Marojohan, salah satu kru.

Ketika malam semakin larut dan artis tengah beristirahat, saatnya kru makan malam. Kalaupun harus tidur, harus berbagi tempat di satu kamar. Maklumnya, semua kamar hotel penuh. Hanya satu kamar untuk panitia. Ada yang tidur di lantai tanpa alas, ada yang tidur di kursi yang disusun berjejer, yang tidur di kasur pun tak pakai bantal. Sungguh istirahat yang tak nyaman. Tapi harus dilakukan demi tugas.

Manajer EO Radar Tarakan, Nur Aksa Yahya lebih parah lagi. Sudah tak bisa istirahat berhari-hari, koordinasi dengan berbagai pihak, dan mengecek venue (tempat konser). Saat konser pun kru panitia tak bisa menikmati penuh pertunjukkan Nidji-Peterpan. Semua harus standbye dan waspada, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Syukurlah konser berjalan aman dan tertib.

Usai konser, rombongan artis kembali ke hotel tapi tidak demikian halnya dengan beberapa kru yang tertinggal. Lantaran mendahulukan artis agar tak diserbu fans, banyak yang tertinggal mobil. Akhirnya antre angkot hingga malam untuk bisa kembali ke hotel untuk melanjutkan koordinasi. Tim tiketing Radar Tarakan FM malam itu juga harus lembur untuk laporan, mengingat tim Jakarta akan kembali bersama artis keesokan harinya. Semua harus dilakukan serba cepat dan akurat. Untunglah kru Radar Tarakan sudah terbiasa dengan bekerja di bawah tekanan alias deadline.

Pekerjaan kru belum tuntas. Masih ada satu job lagi, yaitu mengantar artis ke Bandara Juwata. Wuih, lagi-lagi panitia belum bisa tersenyum lega. Tapi di saat-saat inilah satu-satunya kesempatan panitia diperbolehkan foto bareng. Setelah sebelumnya selama dua hari dua malam menahan diri walau hanya sejenak foto bersama artis idola.

”Kru Radar Tarakan silakan foto-foto. Terserah mau dengan siapa. Bebas,” kata salah satu kru Jakarta.

Tanpa dikomando lagi, klak-klik handphone dan kamera digital untuk mengabadikan diri dengan sang idola. Bagor, kru panggung langsung mendekati idolanya. Terbayar sudah kelelahan selama mendampingi artis, walau sekadar bisa foto bareng idola justru di detik-detik terakhir keberangkatan ke Jakarta.

”Saya nggak mau pulang ah. Saya mau di Tarakan aja. Di sini enak. Kru-krunya ramah-ramah. Nanti di Jakarta pasti sidang lagi,” kata Ariel yang disambut geer rekan-rekannya. Maklum sehabis dari Tarakan, Ariel bakal hadir di Pengadilan Agama Jakarta Barat untuk sidang perceraian dengan istrinya Sarah Amalia.

Lain halnya 911 bodyguard artis dari Jakarta, yang sempat memuji kru Radar Tarakan.
”Radar Tarakan terima kasih ya. Disini menarik. Konser paling menarik lah dari tur se-Kalimantan. Tapi kok kru Radar Tarakan kecil-kecil ya,” katanya yang lagi-lagi langsung disambut tawa.

Ups, artis pulang tugas lainnya menanti, kru panggung harus mensterilkan lokasi.
Cia sampai tertidur di meja lobi saking lelahnya. Tugas seluruhnya baru selesai sekitar pukul 8 malam. Benar-benar pengalaman berharga.(***)

11
Mar
08

Sinergi Antarkota

SAYA diprotes keras kolega saya dari Bulungan. Katanya, Radar Tarakan kalau datangkan artis mesti ke Tarakan terus. Coba Bulungan kek, daerah-daerah di utara Kaltim ini lho didatangi artis juga. Jangan Tarakan terus. Memangnya hanya Tarakan yang perlu imej kotanya bagus. Bulungan sebagai ibukota Kaltara juga. Jangan terlalu nge-pro dengan Tarakan. Tarakan itu sudah bagus. Orang sudah tahu itu. Lha kalau Bulungan, daerah-daerah lain kalau nggak Anda promosikan kapan kita terkenalnya.

Saya masih senyum-senyum mendengar kolega saya itu berbicara. Kebetulan kolega saya itu jauh-jauh datang dari Bulungan untuk suatu urusan dan menemui saya di kantor saya lantai 4 Gedung Silver Radar Tarakan. Sambil menyantap nasi kotak masakan padang “Padang Kuring Restaurant”, saya dan kolega saya itu masih berbincang soal kedatangan grup band papan atas Indonesia, Nidji-Peterpan, yang Minggu malam lalu manggung di Tarakan.

Tapi tindakan saya bukannya membuatnya diam. Dia masih terus mempertanyakan, mengapa saya sangat-sangat pro terhadap Tarakan. Hingga tiap kali artis datang selalu ke Tarakan. Buktinya Slank tempo hari dan Nidji-Peterpan baru baru ini. Padahal kenyataannya tidak juga. Bahwa artis itu memilih Tarakan, ya, kan haknya artis. EO Radar Tarakan sudah berusaha mempromosikan masing-masing daerah. Hanya bila pilihannya Tarakan, ya, kita hanya memfasilitasi saja.

Mengapa saya diomeli kolega saya?

Mungkin juga rasa bangga terhadap daerahnya muncul karena saya bilang, Tarakan kini sejajar dengan kota-kota lain di Indonesia. Karena even konser band yang tengah naik daun itu juga digelar di 32 kota lainnya.

Ini bukan untuk kali pertama, lho. Dahulu waktu Slank manggung di Tarakan juga begitu. Dari tur panjangnya di beberapa kota se-indonesia, kita bangga dong Tarakan salah satu yang dikunjungi band legendaris itu. Mudah-mudahan ketularan bisa pergi ke negeri Paman Sam, hehehe.

Kolega saya itu masih mengomel?

Tampaknya tidak lagi. Dia bahkan punya usul. Bisa tidak kalau daerah lain itu digandeng. Misalnya manggungnya di Tarakan, tetapi juga sekalian manggung di daerah lain. Seperti Kapten band kemarin. Di Tarakan manggung, di Bulungan juga manggung. Imej kotanya Tarakan dapat, Bulungan juga dapat. Itu namanya sinergi antarkota. (bukan bus antarkota aja)

Bagus juga usulnya. Tapi kembali lagi ke artisnya and sponsornya. Mau enggak? Lagian akses dan fasilitas di Bulungan serta daerah lain memadai tidak? Lha, cari warung makan aja di atas jam 12 malam susah kok di Bulungan. Saya kan mengalaminya sendiri saat Tour Festival Band 5 Kota se-Kaltara beberapa waktu lalu. Kalaupun ada tempatnya pun terbatas, bisa dihitung dengan jari.

Rupanya protes saya pun balik ditanggapinya.

Apakah Anda sudah pernah makan jambu madu yang juara nasional itu?
Jawaban saya belum. Kalau semangka kuning tanpa biji, durian, lengkeng alias mata kucing, langsat, rambutan wah sudah pernah semua.

Apakah Anda sudah pernah makan udang sungai yang lezat saat beberapa kali ke Bulungan?
Jawaban saya belum

Lho, emangnya kemana aja kalau makan di Bulungan?
Jawaban saya di beberapa tempat, saya sebutkan satu persatu. Favorit saya rumah makan parahyangan di dekat Kantor Bupati. Ikannya fresh, langsung dari kolam terus diolah.

Kolega saya inipun berjanji akan gantian menjamu saya dengan menu udang bakar sungai eh… udang sungai bakar. Enak mana ya sama udang sungai Tideng Pale (Tidung Pala) dan udang sungai bakar di Malinau? Nanti deh saya cerita kalau sudah sampai ke Bulungan dalam waktu dekat.

Kembali lagi soal artis. Tarakan bakal kedatangan artis lagi nih. Catat ya, tanggal 29 Maret 2008. Pas Band from Bandung, man! Itu band yang pernah duet dengan Tere dan BCL (Bunga Citra Lestari). Pas band akan menjadi juri di ajang Flexi indie Festival. Juaranya akan diadu lagi di tingkat regional se-Kalimantan di Banjarmasin. Sekali lagi Tarakan sedang diperhitungkan di tingkat regional Kalimantan. Nah, mau maju atau tertinggal. Terserah. Nonton, yuk! (*)

10
Mar
08

Thank You

SAAT menonton konser Nidji-Peterpan kemarin lusa, saya ikut mengantre tiket dan masuk ke venue (lokasi acara). Sesuai prosedur konser. Nggak boleh bawa helm, bawa makanan dan minuman botol, bawa senjata tajam apalagi, bakal kena razia tuh.
Ups… lupa saya bawa air mineral botol. Air mineral botol saya relakan untuk Pak Polisi yang saya kenal. Meskipun dipaksa untuk tetap membawa karena dia melihat jabatan saya di Radar Tarakan, saya menolaknya.

“Enggak deh pak. Saya harus mengikuti prosedur. Entar kalau ada yang ngeliat bapak memperlakukan saya dengan istimewa. Wah, berabe bisa ribut nih massa,” kata Saya pada Pak Asri anggota Polres Tarakan yang bertugas di depan pintu masuk. Pertama kali kenal pak Asri ya saat konser Cokelat di Lapangan Tenis Indoor awal 2006 lalu. Banyak nasihatnya yang kemudian sering saya ingat ketika EO Radar Tarakan akan menggelar konser.

Sebelumnya saya bertemu dengan Pak Ince, juga anggota Polres Tarakan yang menegur saya lantaran memasuki pintu khusus untuk penonton umum. “Oh, sekalian mau nulis ya. Jadi perlu lihat situasi dan kondisi sebenarnya di lapangan. Silakan. Hati-hati ya,” kata Pak Ince yang saya kenal sejak beliaunya bertugas di Polres Nunukan.

Masuk ke venue, saya memilih berada di dekat mobil PMI. Kalau capek dan tiba-tiba pingsan, teman-teman saya sudah tahu kalau saya ditangani tim medis PMI. Saya lihat jam, baru jam setengah delapan malam. Mobil pemadam, mobil tim medis RSUD Tarakan, panggung konser, soundsystem, lighting, dll sudah oke. Aparat lain juga banyak berjaga-jaga di pintu-pintu masuk.

Wakapolres Tarakan mewakili Kapolres yang tengah bertugas ke luar kota membuka acara. Gayanya gaul banget, khas anak muda. “Nidjiholic dan sahabat Peterpan, mari menonton konser ini dengan aman.” Seolah menjadi tradisi pembuka konser musik garapan EO Radar Tarakan ya kapolres atau yang mewakili.

Ketika Peterpan tampil tepat pukul 8 malam, wuih langsung deh kerumunan orang merangsek ke depan panggung. “Ariel, ariel?” teriak mereka.

Satu demi satu lagu-lagu Peterpan dinyanyikan. Ariel tak tampak lelah, tetap menghibur meskipun media infotainment gencar memberitakan kasus perceraiannya dengan Sarah Amalia, istrinya. Koor penonton pun membuat Ariel Cs senang. Saat asyik menyanyikan lagu-lagu Peterpan, pandangan saya tertuju pada pasangan muda yang membawa anak balitanya ke konser.

Balita? Bukan hanya satu dua pasangan. Tapi banyak. Waduh. Kasihan banget. Apa nggak ada yang menjaganya di rumah? Konser ini kan bukan untuk anak kecil, sekecil dia. Masih bayi. Bukannya malam jamnya tidur anak sekecil itu? Tapi oleh orangtuanya tetap disuruh melek, diajak nyanyi-nyanyi. Belum lagi kena kepulan asap rokok penonton lain.

Berikutnya band yang tampil adalah Nidji. Band yang gaya berbusana vokalisnya, Giring, menjadi ikon fashion anak muda, seperti kafieh untuk scraft di leher. Atau rambut kribo dan gaya lonjak-lonjaknya saat diatas panggung yang sering memukau fans.

Menurut saya ada satu ungkapan Giring yang menarik. “Saya abis makan malam tadi. Makan kepiting dan udang Tarakan, Man!” kata Giring yang disambut geer dan sorak sorai senang penonton.

Tahu nggak, kenapa ungkapan Giring ini menarik. Secara nggak langsung promo Tarakan lewat makanan. Moga aja Giring bercerita dengan artis-artis lain. Jadi banyak yang pada datang ke Tarakan. Namanya artis, gerak gerik, tingkah laku, kata-kata selalu jadi berita. Selebritis gitu lho.

Puas nonton, saya pun keluar dari venue. Pilihan saya pada pintu belakang. Waduh, salah pilih pintu nih. Sempat terjadi aksi dorong-dorongan. Padahal di depan jalanannya becek. Untungnya panitia mengingatkan terus bahkan pakai lampu sorot segala. Biar selamat saya minggir duluan dan menanti hingga massa kian surut. Ternyata di luar juga antre menuju halaman parkir Pasar Boom Panjang yang penuh sesak kendaraan. Ya, bersabar dulu sambil jalan-jalan ke pasar kaget. Pasar yang ada hanya saat konser. Ada pedagang minuman, makanan, pernak-pernik lainnya.

Tiap ada evennya Radar Tarakan kadang saya senang sampai menitikkan airmata kalau melihat para pedagang ini. Dibalik even-evennya Radar Tarakan ternyata ada beberapa orang yang mengais rejeki dari sini ya. Kadang saya sering berdoa dalam hati,”Ya Allah. Beri mereka rejeki. Beri mereka rejeki hingga dagangannya habis. Amin.”

Selesai keliling di pasar kaget, massa masih antre juga. Saya memilih meniti jembatan dekat rumah Pak RT 27 menuju halaman parkir pasar tradisional modern tersebut. Pasar Boom Panjang yang biasanya lengang saat malam pun berubah seperti pasar malam. Ramai orang dan kendaraan. Beberapa di antaranya ada yang antre angkot, adapula yang berjalan kaki. Saya dan adik memilih berjalan kaki menuju Hotel Dinasty tempat saya menginap. Kok nginap di hotel segala? Yup. Karena mobil saya untuk operasional artis, lagian saya harus berada di dekat lokasi konser untuk memudahkan teman-teman berkoordinasi. Saya juga nggak mau terjebak kemacetan saat banjir di depan Idec di Kampung Empat, seperti tempo hari. Wah, bisa kacau nanti.

Sampai di pertengahan jalan, kaki sudah tidak kuat lagi berjalan. Ini nih kalau kebanyakan naik mobil. Jalan sedikit kaki sakit. Walah… untung aja ada angkot.
Ya, konser usai sudah. Sukses bukan hanya milik EO Radar Tarakan, tetapi benar-benar kerja tim yang hebat. Termasuk aparat keamanan, tim medis, kru, dan A Mild Live production, Deteksi Production, serta lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.

Thanks guys.

Kini, tinggal beberapa pekerjaan rumah (PR) yang harus dituntaskan. Tempat konser musik selain di Lapangan Sepakbola Pasar boom Panjang, dimana lagi? Yang aksesnya mudah dan yang pasti nggak becek dan nggak bau kambing. Mbekkk… Kan malu. Imej Tarakan gitu lho.

Tapi senangnya dengan Rising Stars, Tarakan termasuk salah satu kota dari 33 kota se-Indonesia yang disinggahi grup band papan atas. So, kedudukan kita sejajar dengan kota-kota lain. Bersaing dengan kota-kota lain siapa takut. Kita pasti bisa meskipun kita jauh di utara Kaltim. Meskipun sering diremehkan,”Kok Tarakan nggak ada di peta ya.” Oou…. (http://bloganny.wordpress.com)

10
Mar
08

Antre Beli Tiket, Berbecek Ria, Didorong Pas Keluar Venue

Ketika Nidji-Peterpan Manggung di Tarakan (2-habis)

Minggu, 9 Maret 2008

Pukul 11.00 wita diajak pemilik Hotel Dinasty, Tony, untuk makan siang di kawasan THM. Saya memilih ngebakso dan minum teh segar.

Pukul 12.00 wita ke Milo Café pesan kue tar untuk ayahanda Tony yang sedang ultah ke-56.

Pukul 12.15 wita ke venue Nidji-Peterpan, Lapangan Sepakbola Boom Panjang. Begitu tiba disambut hujan deras. Akhirnya balik lagi ke hotel untuk istirahat.

Pukul 19.00 wita, dari hotel menuju ke venue naik angkot. Beli tiket dan masuk ke lokasi acara setelah diperiksa. Ups… 2 botol air mineral terpaksa direlakan untuk Pak Polisi yang bertugas. Soalnya kan nggak boleh bawa minuman botol masuk ke lokasi acara. Meskipun tetap disuruh bawa, saya memilih untuk mengikuti peraturan yang ada. Ketimbang nanti ada keributan gara-gara saya kan berabe.

Pukul 20.00 – 22.00 wita konser dimulai.
Pertama tampil Peterpan, membawakan 10 lagu. Kemudian Nidji juga 10 lagu. Nyanyi-nyanyi sendiri, goyang-goyang sendiri, enjoy banget. Aman lagi. Ups… kok ada sih orangtua yang tega membawa anak-anaknya yang masih balita nonton konser. Kasihan kan? Mana hawa dingin abis hujan, belum lagi asap rokok penonton. Nah, ditambah disiram air lagi sama pemadam kebakaran. Kasihan deh balita-balita itu. Tolong dong, konser bukan untuk balita.

Pukul 22.00 wita pulang.
Karena rombongan massa lewat pintu belakang antre deh. Sempat ada aksi dorong dorongan kemudian minggir di sudut sambil menanti massa reda. Nggak cuma di depan lokasi, pas menuju arah pasar Boom Panjang antre makin menjadi. Becek lagi. Bau kambing lagi. Kebetulan lokasi acara dekat kandang kambing rupanya. Nggak ada tempat lain untuk konser di Tarakan ini. Ah… ada akal. Mampir dulu ke “Pasar Kaget”. Disini dijual makanan minuman pernak pernik yang khusus ada saat konser.

Pukul 22.30 wita
Antrean rupanya masih panjang. Lewat depan rumah Pak RT 27, saya dan adik melewati titian jembatan kayu menuju halaman parkir Pasar Boom Panjang yang luas itu. Alhamdulillah nggak becek lagi. Jalanan raya masih ramai. ada yang naik mobil, motor, atau duduk-duduk di median jalan. Tetapi adapula yang jalan kaki pulang ke rumah. Setelah jalan kaki sebentar menanti angkot, akhirnya dapat angkot juga untuk kembali ke hotel. Mampir di warung isi perut dulu. Pilihannya warung Jawa Timur depan Hotel Dynasty.

Pukul 23.30 wita kembali ke kamar hotel. Tidur? Nggak dulu. Ngecek berita-berita konser. Masih koordinasi untuk kepulangan artis keesokan harinya. Mengecek pekerjaan teman-teman EO. Nonton teve dulu, ngetik dulu, baru tidur pukul 01.00 dinihari.

Thanks guys (Aksa, Cia, EO Cs) sudah menyuguhkan tontonan untuk warga Tarakan dan utara Kaltim yang haus hiburan. Cuma PR-nya dimana lagi lokasi konser yang bagus selain di Lapangan Sepakbola Pasar Boom Panjang? Syaratnya nggak becek, nggak bau kambing, hehehe….

10
Mar
08

Ngungsi ke Hotel, Jalan Kaki ke Venue

Ketika Nidji-Peterpan Manggung di Tarakan (1)

SABTU, 8 Maret 2008, Nidji dan Peterpan (bintangnya Rising Stars) akhirnya tiba di Tarakan. Seperti biasa, mobilku (hehehe mobil operasional kantor ding) dipakai juga oleh panitia, EO Radar Tarakan. Bagaimana dengan diriku?
Itu mah gampang aja. Dah biasa jalan kaki, naik ojek, or naik angkot. So, nggak ada kendaraan nggak masalah. Pilihanku ya ngungsi ke hotel terdekat dengan lokasi acara. Kok ngungsi? Ya, kalau aku tetap di rumahku di Kampung Empat rada sulit. Angkot jarang, kalaupun ada jurusannya beda. Terus kalau hujan banjir, terutama dekat Idec. Wah, bisa kacau nih.

Dengan ngungsi di hotel, pertama, kemana-mana dekat selama ada angkot dan ojek. Kedua, ke lokasi acara bisa jalan kaki. Ketiga, hotel nantinya bisa untuk ngumpul teman-teman usai acara sekaligus untuk mengirim berita. So, akupun menyiapkan laptop plus bahan-bahan berita. Internetnya? Hotel dynasty namanya, juga ada fasilitas internetnya. Entar kutanyakan ke Tony, deh. Tony adalah manajer sekaligus pemilik Hotel Dinasty.

Lagian kenapa pilih rumah di Kampung Empat sih? Ya, karena suasananya masih asri. Udaranya sejuk. Kampung banget. Tetangga-tetangga care satu sama lain. Kayak perkampungan jawa di lingkungan rumahku di Balikpapan lah. Jawa banget sih enggak ya di Kampung Empat ini, tapi saling care satu sama lain itu lho yang buat beda. Kadang membuatku risih, gimana gitu, karena sebelumnya tempat tinggalku rada cuek. Loe-loe, gue-gue.

Usai menaruh tas di kamar hotel, aku dan adikku memilih jalan kaki ke venue. Melihat persiapan acara garapan EO Radar Tarakan. EO lokal yang digandeng Deteksi Production, EO Jakarta yang menangani Rising Stars gaweannya A Mild Live Production. Ini adalah acara terbesar kedua garapan EO Radar Tarakan setelah konser Slank, tahun lalu.

Menyusuri Jalan Kusuma Bangsa dari Hotel Dinasty ke venue di Lapangan Sepakbola Pasar Boom Panjang punya kesan tersendiri. Jalan-jalan sore gitulah. Padahal nggak pernah-pernah lho ada acara jalan bareng begini. Apalagi dengan adikku. Ya, sejenak refreshing mengajak adik sendiri. Biasanya aku sih cuek, adikku mau ngapain aja (selama yang dilakukannya hal-hal positif) silakan asal kuliahnya di Universitas Borneo (UB) nggak terganggu.

Eh, ada bak sampah bolong lho di Jl Kusuma Bangsa. Mulanya rada aneh, kok bak sampah bolong. Lama-lama setelah diperhatikan ternyata dibawah bak sampah tadi ada semacam karung berasnya. Mungkin supaya gampang kali untuk mengangkutnya. Padahal kalau dipikir-pikir bak sampah seperti itu nyusahin, suka dihambur-hambur si guk guk. Mungkin juga maksudnya kalau hujan air nggak masuk yang bikin berat kalau diangkut ke truk sampah. Tapi tetap aja nggak indah dipandang mata. Jadilah sepanjang jalan aku dan adik melihat-lihat setiap tong sampah yang ada (bukan pemulung ya). Dan kita tertawa bareng. Hari gini tong sampah bolong di jalanan bagus? Jalan Kusuma Bangsa termasuk favoritku. Jalanannya bagus, mediannya penuh bunga-bunga, PJU-nya tertata rapi. Tapi ups… sekarang jalanan ini mulai jelek, bolong sana sini, ditambal sana sini, ya gitulah.

Belum sampai ke venue, Pak Danyon 613 Rajaalam J Robert Giri menghubungi HP-ku. Tumben komandan menelpon. Ada apa ya?
“Oi, kalau jalan jangan di tengah-tengah dong. Mau berhenti salah, mau ditabrak entar aku masuk koran. Tuh, ibu nanya kemana Mbak Anny tuh. Emang mau kemana?” kata Danyon Robert Giri.

“Oh, bapak. Tumben. Jalan bareng ma ibu sore-sore. Hehehe. Mau ke venue, lihat persiapan acara Nidji-Peterpan. Mobilku dipakai ma teman-teman. Sementara saya di hotel tuh dekat, ya jalan kaki ke lokasi acara,” kataku sambil menyampaikan salam untuk Bu Danyon.

Masuk ke Pasar Boom Panjang, aku masih melihat-lihat kalau-kalau bos pengelola Pasar Boom Panjang masih di kantornya. Yah, tutup. Soalnya kalau nggak mampir entar dikira sombong. Ya, lurus aja deh ke Lapangan Sepakbola tempat acara Rising Stars. Ternyata persiapan tengah dilakukan. Termasuk kedatangan panggung yang diangkut truk fuso.
Puas lihat-lihat persiapan acara, aku ma adikku naik angkot ke RTFM, radionya Radar Tarakan di Jl Yos Sudarso. Ini untuk mengecek persiapan ticketing. Wuih, ramenya. Sampai malam orang masih rame antre tiket.

Bertemu dengan banyak orang dan mensupport mereka untuk membeli tiket. “Saya juga antre dan beli tiket, lho. Ya, saya begini untuk mendukung upaya-upaya EO Radar Tarakan yang menginginkan penonton tertib menonton Nidji-Peterpan. Menertibkan rekan-rekan Radar Tarakan duluanlah. Mereka juga beli tiket,” Saya menjelaskan panjang lebar pada Mas Ivan, seorang guru musik dari Tanjung Selor, Bulungan.

Mas Ivan ini beberapa waktu lalu juga pernah menjadi juri di acara-acara gawean Radar Tarakan. Sekarang dia jadi sering bolak balik Tanjung selor-Tarakan karena menjadi “guru terbang” di salah satu SMK di Tarakan.

Rupanya dia tak sendirian, dia bersama beberapa anak muda asal Bulungan juga menonton Nidji-Peterpan. Ya, sempat bercerita-cerita tentang perkembangan musik Bulungan, khususnya D’Nyaru Band yang sempat juara di ajang A Mild Live Wanted, ajang pencarian bakat band-band lokal. Toh, akhirnya saat bertarung di ajang regional band ini gagal. Ya, kegagalan adalah sesuatu yang tertunda. Dengan sejumlah talenta yang dimiliki, band inipun kembali gagal untuk rekaman di Jakarta. Problem anak band daerah ya begitu. Selalu nggak bisa berkembang lantaran dana minim. Kenapa ya, recording di Jakarta itu nggak memilih anak-anak band yang jago-jago meskipun mereka nggak punya duit untuk rekaman? Selama ini band-band selalu Jakarta sentris, bandung sentris, atau Jogja sentris.

Acara ngobrol-ngobrol masih berlanjut dengan beberapa rekan dari Partai Amanat Nasional (PAN). Karena kantornya bersebelahan dengan kantor RTFM.

“Kantor kita kayaknya lebih terkenal karena bersebelahan dengan RTFM. Coba lihat berapa banyak yang tahu kantor PAN saat mereka rame-rame beli tiket Nidji-Peterpan,” kata rekan saya itu.

“Wah, awas nggak beriklan ya,” kata saya balik menimpali yang disambut geer.
Bersama rekan-rekan di PAN, kita diskusi tentang Pilwali Tarakan. Tentang siapa yang diusung PAN. Hayo siapa? Top secret deh.

Jam 10 malam, teman-teman radio yang kusuruh antar pulang ke hotel. “Ojek dadakan” hehehe. Teman-teman dah biasa melihatku apa adanya. Cuek deh.

Sesampainya di hotel pun belum bisa memejamkan mata. Masih koordinasi dengan teman-teman yang nginap di Hotel Tarakan Plaza, tempat Nidji-Peterpan juga menginap. Mendengarkan cerita teman-teman yang mendampingi Nidji-Peterpan, plus merencanakan liputan keesokan harinya. Ups, adapula negosiasi iklan pilkada. Kulihat jam menunjukkan pukul 24.00. Walah-walah tiada hari tanpa kesibukan….

06
Mar
08

Migrain Datang, Saatnya ke Salon

(Maaf, maaf. Baru bisa update nih!!!!)

AKHIR pekan lalu saya migrain alias sakit kepala sebelah. Rasanya wuih sakit banget. Kalau sudah begitu nggak bisa kerja, jangankan kerja berdiri atau duduk saja nggak bisa. Selama tiga hari pula terbaring di tempat tidur. Pokoknya benar-benar istirahatlah. Sampai senin serangan migrain tak kunjung reda. Terpaksalah izin tak masuk kerja. Gimana lagi.

Disini saya berpikir kira-kira faktor apa aja ya yang membuat saya terkena migrain. Saya berusaha mengenali diri saya sendiri. Oh, saya memang beberapa hari ini tak mudah tidur nyenyak lantaran masih memikirkan pekerjaan di kantor, padahal saya sudah berusaha membagi waktu sebaik mungkin. Kedua, saya makan makanan junk food dan mengandung penyedap rasa. Ketiga, berkaitan dengan siklus bulanan (biasa perempuan).
Selasa saya nekat ngantor walau masih migrain. Nekat nyetir walau kepala rasanya nyut-nyutan. Harus bisa! Kata saya dalam hati. Soalnya pekerjaan menumpuk di kantor. Oleh Office Boy (OB) kantor saya minta dibuatkan secangkir kopi manis. Mereka pada heran semua, kok saya minta dibuatkan kopi. Memang jarang-jarang sih minum kopi. Tetapi ajaib. Subhanallah migrain yang berhari-hari saya derita langsung hilang. Saya kecanduan kopi? Bisa saja kan doanya para office boy kantor? Hanya Allah-lah yang tahu.

Mengapa kopi bisa mengobati migrain? Migrain itu sebenarnya apasih? Bagaimana mencegahnya? Penasaran, saya memilih surving di internet. Dari berbagai sumber, migrain memang penyakit pembunuh no 3 di dunia. Walah-walah menakutkan. Cara penanganan migrain, menurut beberapa situs adalah
(1) Kenali pencetusnya, misalnya dari makanan yang kita makan dan lain-lain sehingga untuk sementara waktu menghindarinya.

(2) Istirahat dulu. Otak kita ibarat komputer butuh istirahat juga.

(3) Minum jahe hangat untuk meredakan.

(4) Dalam beberapa kasus, minum sedikit kopi atau teh bisa juga meredakan migrain.

(5) Sebaiknya tidak mengendarai kendaraan dahulu. Bila migrain mendadak, sebaiknya meminggirkan kendaraan.

(6) Hindari asap rokok

(7) Olahraga deh

Oleh salah satu rekan saya diingatkan karena sudah lama tidak memanjakan diri di salon langganan. Alamak! Mana sempat. Itupun kalau ke salon lihat-lihat dulu soalnya lama. Jadinya malas. Selain itu saya kan berjilbab, jadi agak memilih-milih salon. Tapi rekan saya ini pantang mundur mengompori saya untuk melakukan perawatan. Kayak artis aja. Saya sudah cantik alami. Protes saya. Tapi sudahlah, namanya diajak. Ayolah.
Saya menuju salon safira di belakang Kantor Pengadilan. Salon tradisional yang dikelola Bu Manaf. Lha, saya sendiri baru nyobain salon ya kalau nggak ke salon safira ya ke salon Elizabeth samping Polres Tarakan. Hanya dua salon? Yup, alasannya paling dekat dan sekalian lewat.

Biasanya ke safira tiap 2 minggu sekali. Sudah 3 bulan ini saya nggak kesana karena sibuk. Lagi-lagi sibuk jadi kambing hitam. Hehehe. Namanya ke salon safira, pastilah aktifitas saya ya sauna (mandi uap hangat) dengan aroma rempah-rempah, pijat tradisional dengan minyak zaitun, lulur wangi, sauna lagi, mandi susu, terakhir ratus (uap wangi rempah-rempah). Nah, lho, berapa lama waktunya, susah ya jadi cewek mesti perawatan ini itu.

Tapi kali ini saya hanya mandi sauna, pijat, lulur wangi ketan hitam (ini baru lho), terus sauna lagi. Soalnya saya tiba di salon ini sudah jam 5 sore. Waktu saya hanya sebentar. Manjur sih. Badan rasanya rada enakan dikit. Selesai perawatan biasanya bapak dan ibu pemilik salon yang sudah seperti ayah ibu saya sendiri itu menghidangkan secangkir jahe kental hangat. Wuih… rasanya pedes, hangat, enak deh.
Usai perawatan, bersama teman-teman saya menuju ke Milo Café di bilangan Kusuma Bangsa. Ini café baru yang pemiliknya juga juragan roti di Kampung Bugis. Saya pesan rujak manis dan teh bunga matahari. Kok malam-malam ngerujak. Ya, lagi pengen aja. Ada menu baru, es campur. Campurannya ada cendol, jagung manis, buah longan, agar-agar, disiram susu cair manis. Cobain aja…. Sebenarnya saya kalau ke sini lebih suka makan bandeng prestonya yang lezat. Tapi karena takut migrain kambuh lagi, saya memilih rujak saja.
Usai dari Milo Café, sempat singgah sebentar ke Warung Sarabba (minuman khas Makassar, campuran dari jahe, santan kelapa) dan Jalangkote (pastel goreng isi ayam, mie dan telur) . Bukan mau makan sih, cuma ngantar tiket konser Nidji-Peterpan. Kebetulan pemiliknya yang sudah saya kenal itu pesan tiket dan minta diantarkan. Eh, malah dibawain jalangkote banyak banget. Syukurlah.
Perjalanan menuju ke kantor, badan saya mulai pegal-pegal seperti memberi tanda saya harus segera istirahat. Ngobrol-ngobrol sebentar, saya pulang di antar teman-teman kantor. Sudah nggak kuat lagi. Akhirnya tiba di rumah langsung istirahat deh. Tidur jadi nyenyak banget. Subhanallah. Kalau kita capek, sebenarnya tubuh kita sudah memberikan sinyal-sinyalnya. Seperti migrain itulah…




 

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Flickr Photos

More Photos

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 8,007 hits