“Kalau saya ingat Anda, Mbak Anny. Saya jadi ingat, saya dan Anda pernah rebutan komputer di samping masjid kampus Unmul. Gara-gara Fitrah,” kata Agus Wahono, suatu ketika.
Fitrah adalah nama majalah kampus debutan aktifis masjid kampus hijau Universitas Mulawarman (Unmul). Kebetulan saya dan Mas Agus—demikian panggilan akrabnya– adalah aktifis masjid kampus. Bedanya saya menekuni dunia jurnalistik kampus bersama “geng saya” sedangkan Mas Agus lebih banyak keorganisasian. Perkumpulan aktifis masjid itu berasal dari mahasiswa berbagai fakultas. Saya dari Fisipol, sedangkan Mas Agus dari Fakultas Kehutanan (Fahutan). Rebutan komputer itu gara-gara komputer cuma satu-satunya, khususnya jatah untuk Pusdima (Pusat Studi Mahasiswa) Unmul. Sementara kegiatannya bejibun. Bisa dibayangkan gimana nggak rebutan.
Suatu ketika pernah saya “and the gank” mengkudeta tuh komputer. Siang malam selama seminggu kita kuasai demi memenuhi deadline terbit majalah. Mas Agus yang ketika itu menjadi Plt Ketua Pusdima langsung “mensomasi”.
“Tolong dong ini acara juga banyak. Kita perlukan komputer itu. Kalau bisa diatur waktunya saja. Jadi bisa gantian. Jangan dikuasai siang malam. Emang nggak ngantuk apa begadang,” katanya waktu itu.
“Nggak bisa. Ini deadline majalah harus terbit. Ngerti nggak sih. Mesti dikebut siang malam biar cepat selesai,” kata saya nggak kalah sengit.
Pertemuan itu tak menghasilkan apa-apa kecuali perasaan kesel, sebel, dan jengkel.
“Tuh cowok siapa sih. Belagu banget. Sok organisatoris. Sok ngatur-ngatur. Baru juga Plt ketua. Ih, sebel banget. Nggak ngerti apa kalau kita dikejar deadline. Mestinya kan cari cara gimana kita dapetin komputer lagi. Gimana nih…. Bisa-bisa telat terbit majalah. Isunya udah nggak menarik lagi dong,” kata saya kepada anggota geng yang rata-rata pakai jilbab semua. Geng jilbaber ini jago menulis cerpen, esai dan puisi.
“Oh… Itu. Cowok Fahutan angkatan 1993 yang suka pakai vespa putih. Namanya Agus Wahono. Kabarnya dia itu anaknya pinter banget dan jago organisasi. Beberapa kegiatan yang dikomandani sama dia pasti sukses. Idolanya cewek-cewek Fahutan,” kata adik tingkat saya dari Fekon.
“Udah deh. Denger namanya aja aku jutek,” kata saya sambil berlalu.
“Cuekin. Mbak. Eh, Mbak aku beli komputer ya. Entar aku bilang ma ayahku. Semua berkas-berkas pindahin ke rumah aja ya. Kita buktiin kalau majalah bisa terbit tanpa pakai komputer masjid. Let’s go,” kata adik tingkat saya tiba-tiba langsung menstater vespa abu-abunya. Walah pakai vespa juga.
Majalah akhirnya bisa terbit. Siapa nyana itulah edisi terakhir yang saya sempat tangani, selebihnya saya memilih hengkang untuk belajar jurnalistik lebih serius lagi. Dengan kata lain menerima ajakan salah seorang wartawan untuk magang di sebuah koran. Sampai akhirnya benar-benar saya menjadi wartawan dan menerbitkan sebuah koran sendiri. Seterusnya sampailah ditugaskan ke Tarakan menangani koran Radar Tarakan.
Dendam dengan Mas Agus atau masih kesel? Nggak lagi. Sudah lupa tuh. Sampai kemudian dia mengingatkan lagi perseteruan disamping masjid itu.
“Saya sudah memaafkan Anda, Mas Agus. Kalau nggak berantem rebutan komputer saat itu. Nggak rame. Saya juga mungkin tak penasaran hingga belajar jurnalistik lebih dalam lagi. Sampai sekarang saya di Tarakan. Bedanya saya di Radar Tarakan dan Anda di DPRD Tarakan. Sekarang bersaing saja, mana yang terbaik, saya di Radar Tarakan atau Anda di DPRD Tarakan (Agus Wahono, wakil ketua DPRD Tarakan),” kata saya lagi.
“Huh… tetap nggak berubah. Sengit. Jangan-jangan kalau saya pasang iklan tetap nggak dikasih diskon nih?” oloknya.
“Nggak ah. Teman ya teman, bisnis ya bisnis. Hehehe,” jawab saya lagi.
=================0o0=============
“Jadi serius mencalonkan diri menjadi walikota atau wakil walikota sih?” tanya saya jauh sebelum euforia pilgub dan pilwali.
“Menurut Anda?” tanyanya balik.
“Kalau saya, ogah, ah. Nggak punya duit banyak. Kalaupun saya punya duit banyak, sayang duit banyak-banyak habis begitu saja untuk pesta demokrasi. Mending duitnya untuk modal usaha dan kemudian beranak pinak menjadi unit-unit usaha lain. Saya bisa merekrut karyawan banyak, menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran,” kata saya lagi.
“Tapi harus ada yang menjadi lilin dalam kegelapan,” katanya sedikit berfilosofi. Padahal master kehutanan tapi bisa berfilosofi. Kenapa nggak sekalian jadi filsuf aja ya?
“Kalau menjadi lilin, begitu lilin habis maka dia akan membakar dirinya sendiri. Lebih gawat dong,” kata saya lagi.
“Emang susah ngobrol dengan wartawan,” elaknya.
“Minimal menjadi cahaya dalam kegelapan-lah. Harus ada yang berbuat untuk memajukan Tarakan. Kita kan tidak ingin begini-begini saja. Kita harus berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu,” ujarnya lagi.
“Tapi kan tidak harus semua menjadi walikota atau wakil walikota. Kita bisa mengubah kota ini dengan peran kita masing-masing. Kalau semuanya jadi walikota dan wakil walikota, rakyatnya siapa?” sahut saya lagi.
“Ya, tapi harus ada yang memimpin. Sehingga tujuan bisa tercapai sesuai harapan masyarakat,” tuturnya diplomatis.
Jadi bingung, dia ini politisi apa ahli kehutanan ya. Terserah dialah. Mau jadi apa. Asalkan niatnya untuk kemajuan Tarakan why not? Kita lihat saja sepak terjangnya.
(Selamat berjuang di ranah politik, kakak tingkatku. Seperti dosen-dosen politik saya bilang, tak ada kawan sejati dan lawan sejati di politik. Yang ada hanyalah kompromi politik. Chayo…. anny@radartarakan.com)
Komentar Terakhir