Arsip untuk Juli, 2008

07
Jul
08

Calon Wawali Itu Kakak Tingkat Saya

“Kalau saya ingat Anda, Mbak Anny. Saya jadi ingat, saya dan Anda pernah rebutan komputer di samping masjid kampus Unmul. Gara-gara Fitrah,” kata Agus Wahono, suatu ketika.

Fitrah adalah nama majalah kampus debutan aktifis masjid kampus hijau Universitas Mulawarman (Unmul). Kebetulan saya dan Mas Agus—demikian panggilan akrabnya– adalah aktifis masjid kampus. Bedanya saya menekuni dunia jurnalistik kampus bersama “geng saya” sedangkan Mas Agus lebih banyak keorganisasian. Perkumpulan aktifis masjid itu berasal dari mahasiswa berbagai fakultas. Saya dari Fisipol, sedangkan Mas Agus dari Fakultas Kehutanan (Fahutan). Rebutan komputer itu gara-gara komputer cuma satu-satunya, khususnya jatah untuk Pusdima (Pusat Studi Mahasiswa) Unmul. Sementara kegiatannya bejibun. Bisa dibayangkan gimana nggak rebutan.

Suatu ketika pernah saya “and the gank” mengkudeta tuh komputer. Siang malam selama seminggu kita kuasai demi memenuhi deadline terbit majalah. Mas Agus yang ketika itu menjadi Plt Ketua Pusdima langsung “mensomasi”.

“Tolong dong ini acara juga banyak. Kita perlukan komputer itu. Kalau bisa diatur waktunya saja. Jadi bisa gantian. Jangan dikuasai siang malam. Emang nggak ngantuk apa begadang,” katanya waktu itu.

“Nggak bisa. Ini deadline majalah harus terbit. Ngerti nggak sih. Mesti dikebut siang malam biar cepat selesai,” kata saya nggak kalah sengit.

Pertemuan itu tak menghasilkan apa-apa kecuali perasaan kesel, sebel, dan jengkel.

“Tuh cowok siapa sih. Belagu banget. Sok organisatoris. Sok ngatur-ngatur. Baru juga Plt ketua. Ih, sebel banget. Nggak ngerti apa kalau kita dikejar deadline. Mestinya kan cari cara gimana kita dapetin komputer lagi. Gimana nih…. Bisa-bisa telat terbit majalah. Isunya udah nggak menarik lagi dong,” kata saya kepada anggota geng yang rata-rata pakai jilbab semua. Geng jilbaber ini jago menulis cerpen, esai dan puisi.

“Oh… Itu. Cowok Fahutan angkatan 1993 yang suka pakai vespa putih. Namanya Agus Wahono. Kabarnya dia itu anaknya pinter banget dan jago organisasi. Beberapa kegiatan yang dikomandani sama dia pasti sukses. Idolanya cewek-cewek Fahutan,” kata adik tingkat saya dari Fekon.

“Udah deh. Denger namanya aja aku jutek,” kata saya sambil berlalu.

“Cuekin. Mbak. Eh, Mbak aku beli komputer ya. Entar aku bilang ma ayahku. Semua berkas-berkas pindahin ke rumah aja ya. Kita buktiin kalau majalah bisa terbit tanpa pakai komputer masjid. Let’s go,” kata adik tingkat saya tiba-tiba langsung menstater vespa abu-abunya. Walah pakai vespa juga.

Majalah akhirnya bisa terbit. Siapa nyana itulah edisi terakhir yang saya sempat tangani, selebihnya saya memilih hengkang untuk belajar jurnalistik lebih serius lagi. Dengan kata lain menerima ajakan salah seorang wartawan untuk magang di sebuah koran. Sampai akhirnya benar-benar saya menjadi wartawan dan menerbitkan sebuah koran sendiri. Seterusnya sampailah ditugaskan ke Tarakan menangani koran Radar Tarakan.

Dendam dengan Mas Agus atau masih kesel? Nggak lagi. Sudah lupa tuh. Sampai kemudian dia mengingatkan lagi perseteruan disamping masjid itu.

“Saya sudah memaafkan Anda, Mas Agus. Kalau nggak berantem rebutan komputer saat itu. Nggak rame. Saya juga mungkin tak penasaran hingga belajar jurnalistik lebih dalam lagi. Sampai sekarang saya di Tarakan. Bedanya saya di Radar Tarakan dan Anda di DPRD Tarakan. Sekarang bersaing saja, mana yang terbaik, saya di Radar Tarakan atau Anda di DPRD Tarakan (Agus Wahono, wakil ketua DPRD Tarakan),” kata saya lagi.

“Huh… tetap nggak berubah. Sengit. Jangan-jangan kalau saya pasang iklan tetap nggak dikasih diskon nih?” oloknya.

“Nggak ah. Teman ya teman, bisnis ya bisnis. Hehehe,” jawab saya lagi.

=================0o0=============

“Jadi serius mencalonkan diri menjadi walikota atau wakil walikota sih?” tanya saya jauh sebelum euforia pilgub dan pilwali.

“Menurut Anda?” tanyanya balik.

“Kalau saya, ogah, ah. Nggak punya duit banyak. Kalaupun saya punya duit banyak, sayang duit banyak-banyak habis begitu saja untuk pesta demokrasi. Mending duitnya untuk modal usaha dan kemudian beranak pinak menjadi unit-unit usaha lain. Saya bisa merekrut karyawan banyak, menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran,” kata saya lagi.

“Tapi harus ada yang menjadi lilin dalam kegelapan,” katanya sedikit berfilosofi. Padahal master kehutanan tapi bisa berfilosofi. Kenapa nggak sekalian jadi filsuf aja ya?

“Kalau menjadi lilin, begitu lilin habis maka dia akan membakar dirinya sendiri. Lebih gawat dong,” kata saya lagi.

“Emang susah ngobrol dengan wartawan,” elaknya.

“Minimal menjadi cahaya dalam kegelapan-lah. Harus ada yang berbuat untuk memajukan Tarakan. Kita kan tidak ingin begini-begini saja. Kita harus berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu,” ujarnya lagi.

“Tapi kan tidak harus semua menjadi walikota atau wakil walikota. Kita bisa mengubah kota ini dengan peran kita masing-masing. Kalau semuanya jadi walikota dan wakil walikota, rakyatnya siapa?” sahut saya lagi.

“Ya, tapi harus ada yang memimpin. Sehingga tujuan bisa tercapai sesuai harapan masyarakat,” tuturnya diplomatis.

Jadi bingung, dia ini politisi apa ahli kehutanan ya. Terserah dialah. Mau jadi apa. Asalkan niatnya untuk kemajuan Tarakan why not? Kita lihat saja sepak terjangnya.

(Selamat berjuang di ranah politik, kakak tingkatku. Seperti dosen-dosen politik saya bilang, tak ada kawan sejati dan lawan sejati di politik. Yang ada hanyalah kompromi politik. Chayo…. anny@radartarakan.com)

07
Jul
08

Resep Siap Kalah ala Yusuf Abdullah

HARI masih pagi. Sekitar pukul 6 kurang seperempat. Setelah memarkir mobil di pelataran parkir Pelabuhan Tengkayu, saya jalan kaki ditemani salah seorang buruh pelabuhan yang juga tetangga saya di kantor lama, menuju pelabuhan speedboat. Sejuknya udara pagi tak menyurutkan langkah saya untuk memenuhi undangan PJ Bupati Kabupaten Tana Tidung (KTT) Zaini Anwar untuk menghadiri undangan pelantikan anggota DPRD KTT beberapa waktu lalu.

Saya suka ke pelabuhan tengkayu. Mau datang pagi, siang, sore, malam kondisinya sama. Bersih. Kok tahu? Ya karena sering bepergian dengan speedboat keluar daerah, ya tahulah. Kalau pun ada sampah-sampah ya paling ketika padat-padatnya manusia di pelabuhan, tapi setelah itu ya bersih. Atau sampah-sampah di perairan. Duhhhh, masih ada aja sih yang buang sampah ke laut. Tarakan sudah dapat Adipura, lho.

Banyak suka duka yang saya alami di pelabuhan ini, salah satunya nyaris terperosok ke sela-sela kayu tahun 1999. Waktu itu pelabuhan tengkayu masih papan kayu. Saya masih reporter harian Samarinda Pos (Kaltim Post Group) dan tergabung dalam satu tim rombongan wartawan dari Pemprov Kaltim untuk liputan pemekaran Malinau dan Nunukan. Jadilah saya ke Malinau dan Nunukan via Tarakan untuk kali pertama.

Pernah juga nyaris nyemplung ke laut tahun 2001 atau 2002 lalu. Waktu itu air surut, pelabuhan jaraknya jauh ke speedboat. Penumpang harus turun melewati ban yang tergantung. Saya sempat ragu-ragu, teman saya membantu memegangi tangan saya terlepas dan buk! jatuh deh. Waktu itu saya cuma berucap Allahuakbar, Ya Allah, saya nggak bisa berenang. Begitu sadar, saya rupanya terjatuh di dek kanan depan speedboat. Antara malu dan sakit di bahu ditolongin kru speedboat. Kalau ingat itu saya suka senyum-senyum sendiri. Pun beberapa pengalaman lainnya, di antaranya naik speed bersama kambing (2006) sudah saya tulis di blog saya http://bloganny.wordpress.com.
Banyak pengalaman seru, lucu, menegangkan kalau naik speedboat.

Kalau malam di pelabuhan yang juga menjadi lokasi favorit untuk resepsi pernikahan itu, saya suka kongkow-kongkow ngajak teman ke café camfilo. Beberapa relasi dari luar kota yang saya ajak ke café inipun sempat memuji. Pelabuhan tapi kok bersih ya? Wah, yang tahu jawabannya Mas Budi, pimpinannya CV Camfilo pengelola Pelabuhan Tengkayu.

Menikmati pagi di pelabuhan tengkayu saya harus segera mendapatkan speedboat menuju ke Tideng Pale (ibukota KTT). Oou, speedboat dicarter semua. Satu-satunya jalan ya nebeng alias numpang. Sama siapa? Aha, ada Datuk Norbeck, Chaerul Saleh, dan rombongan Presidium Tana Tidung. Yang tidak saya sangka-sangka adalah keikutsertaan Yusuf Abdullah, mantan Wakil Walikota Tarakan periode 2001-2004 atau yang terkenal dengan julukan Yusuf Putih.

“Apa kabar, pak? Sehatkah?” kata saya kepada sahabat sejak kecil Walikota Tarakan dr H Jusuf SK tersebut.

“Sehat saja. Alhamdulillah. Wah, lama ya kita tidak bertemu. Rasanya berapa tahun lalu sejak Anda mewawancarai saya usai kalah pertarungan Pilwali itu,” katanya balik sambil menyalami saya.

Saya memang ditugasi mewawancarai Yusuf Abdullah usai kalah Pilwali 2004, di kediamannya di Sebengkok. Gayanya ketika itu masih meledak-ledak. Terkesan marah yang terpendam. Uniknya, dia masih membacakan sebuah puisi berbahasa tidung untuk saya. Begitu di-translete ke bahasa Indonesia, wow, syairnya indah. Dia juga menunjukkan seluruh koleksi puisi-puisinya. Kebanyakan berisi curahan hati yang dituangkan dalam sebuah buku bersampul usang dengan tulisan tangan yang indah sekali. Sempat juga dia gusar soal lagu-lagu berbahasa tidung yang kini mulai pudar.

“Tak ada lagi ibu-ibu yang meninabobokkan anaknya sambil menyenandungkan lagu-lagu tidung,” keluhnya saat itu dengan mata berkaca-kaca menahan haru. Ada gurat kesedihan budaya tidung akan punah ditelan zaman.

(Ups… sudah ada album lagu-lagu tidung lho. Saya pernah diberi hadiah itu oleh mantan kasubbag humas Pemkab Nunukan. Wah, saya lupa namanya. Lagunya bagus-bagus dinyanyikan oleh paduan suara ibu-ibu Nunukan. Lagu tidung favorit saya, Bebilin).

“Anny, sekarang ini kan musim pilkada. Masing-masing calon mengklaim siap menang. Mengapa tidak ada yang mengklaim siap kalah?” katanya.

“Padahal”, lanjutnya lagi, “dengan komitmen calon-calon untuk bilang siap kalah, maka minimal bisa meredam konflik lanjutan usai pilkada digelar. Para kandidat ini kan punya massa banyak. Kita kan tidak mau kota kita seperti Maluku Utara itu. Setelah pilkada masih saja ribut-ribut.”

“Karena mereka (kontestan pilkada) belum punya pengalaman kalah dua kali dalam pilkada seperti bapak kali,” kata saya sekenanya.

“Ah, kamu ini. Ada-ada saja,” ujar Yusuf Abdullah tertawa.

“Lho, emang bener kan. Bapak yang punya banyak pengalaman kalah pilkada. Sudah kalah di pilkada Tarakan, di Pilkada Bulungan pun kalah lagi, tapi salut-lah. Sampai sekarang bapak masih eksis, nggak peduli apa kata orang,” sahut saya.

“Iya, bener-bener. Kalah pilkada dulu masih bisa ikut Lari 10 KM kan? Sekarang sudah tidak ada lagi,” katanya yang kali ini diiringi tawa lepas.

Saya ingat dulu, banyak pihak yang mengkhawatirkan Yusuf Abdullah mengikuti even Radar Tarakan-KNPI Tarakan berupa “Lomba Lari 10 KM”. Yusuf Abdullah dituding cari sensasi dengan melampiaskan kekesalannya tak terpilih dalam pilkada Tarakan dengan mengikuti lomba lari yang untuk ukuran dirinya kala itu sangat riskan. Saya dan panitia pun sangat mengkhawatirkan itu, hingga finish ambulans selalu berada di dekat dia. Toh, yang dikhawatirkan banyak orang tak benar. Yusuf Abdullah terlihat tegar. Mampu berlari 10 km tanpa henti. Meski tak juara, setidaknya pemberitaan tentang dirinya yang gencar membuatnya terlihat happy.

Apakah dalam pilkada Tarakan ini Yusuf Abdullah akan maju lagi? “Nggak lah. Bukan takut kalah. Tapi kita sudah komitmen mendukung Pak Anang (Maksudnya Anang Dahlan Djauhari, mantan Bupati Bulungan). Suara saya untuk beliau,” katanya sambil menatap langit yang mulai cerah.

Ngobrol dengan Yusuf Abdullah bukan melulu soal perpolitikan Tarakan dan Kaltim, tetapi juga tentang hilangnya budaya. “Tahun 50-an saya ke Tawau, pemerintah di sana sudah sangat konsisten mengajak warganya untuk tertib, tidak merokok ataupun meludah di sembarang tempat, selalu ramah dan tersenyum bila bertemu dengan pendatang. Tapi lihatlah kita sekarang. Kita sama sekali kehilangan akar budaya sendiri. Mestinya pembangunan yang kita laksanakan tidaklah lantas menghilangkan identitas kita sebagai bangsa yang berbudaya,” katanya panjang lebar.

Kepeduliannya yang tinggi terhadap persoalan politik, sosial dan budaya mengisyaratkan kalau Yusuf Abdullah masih eksis. Tutur katanya tak lagi meledak-ledak seperti dulu. Teduh, dan sebagai orangtua dia paham benar kalau sekarang saatnya dia harus banyak memberi nasihat kepada kalangan muda.

Speedboat berlayar menuju Tideng Pale. Usai acara pun, Yusuf Abdullah tak lagi bersama saya dan rombongan presidium Tana Tidung untuk kembali ke Tarakan. Dia memilih menginap di sana. Benarkah Yusuf Abdullah akan “comeback” ke politik dengan menjadi kandidat Bupati Tana Tidung? Ah, sayangnya saya belum sempat bertemu dengannya lagi untuk konfirmasi. Kapan-kapanlah kalau saya sedang tak sibuk. (anny@radartarakan.com)

07
Jul
08

Deg-degan Nyebrang dari Bambangan (Sebatik) ke Yamaker (Nunukan) Jam 7 Malam

PUKUL 15.00 Wita
Saya memilih beristirahat di Hotel Queen depan Swalayan Kebalen Jaya, sementara rekan-rekan saya yang lain berkeliling Pulau Sebatik. Debu dan panas terik di luar membuat kepala saya rasanya nyut-nyutan. Sudah berusaha mandi untuk meredakan gerah, tetapi tetap saja. Panas……
Begitu lihat jam dinding, ups, jam 3 sore. Segera saya raih handphone dan mulai mengetik SMS supaya rekan-rekan saya segera kembali ke hotel dan menempuh perjalanan lagi nyebrang ke Nunukan.

PUKUL 16.00 WITA
Rekan-rekan saya baru tiba di hotel dan segera saja bersiap-siap mengepak tas-tas. Rekan lainnya yang kebetulan memang koresponden di Sebatik mencarikan carteran mobil menuju Pelabuhan Bambangan. Karena sudah sore, agak sulit mencari mobil ke sana. Kalaupun ada, mereka menaikkan tarif. Sudahlah, apa boleh buat. Kalau biasanya per orang tarifnya Rp70 ribu. Karena carter, dua orang penumpang pun dipatok Rp300 ribu. Setelah negosiasi sebentar, akhirnya mobil pun melaju membawa kami ke pelabuhan bambangan. Tetapi dengan melewati jalanan kedua melewati pantai. Wah, kebetulan bisa melihat sunset.

PUKUL 17.00 WITA
Apesnya saat melewati Sei Bajau, di pendakian jalan –di sebelah kiri– tempat penyelenggaraan Grass Track, macet total. Mobil nggak bisa maju dan nggak bisa mundur. Mentok deh. Akhirnya saya dan rekan saya terpaksa ngalah dan menjadi tukang parkir sementara. Kami memaksa mobil-mobil di belakang untuk mundur, pengendara sepeda motor didahulukan untuk lewat. Baru kemudian mobil dan truk-truk dari depan kami minta untuk jalan duluan. Kok bisa sih nggak ada polisi lalu lintas yang berjaga-jaga?
Saya sibuk memotret-motret. Kamera blitz yang berkali-kali mengenai pengendara memang membuat perhatian. Menariknya, mereka jadi tertib mau diatur-atur. Hehehe…
Duh, disini lebih berdebu, asap knalpot, wah kacau deh. Nggak tahu lagilah wajah saya gimana jadinya. Padahal abis facial…. Yahhhhhh… gimana dong. Langsung saya ingat kalau ada pembersih wajah yang barusan saya beli di swalayan kebalen jaya. Ah, sudahlah risiko kalau ke perbatasan ya beginilah. Kulit terpapar matahari, debu menyatu dengan keringat menempel di wajah.

Pukul 18.00 WITA
Begitu jalanan lengang, lansung sopir tancap gas. Duh… leganya. Mobil pun melaju kencang. Targetnya sebelum hari kelewat malam menyebrang sungai. Asyiknya kalau melewati jalanan lewat pantai pemandangannya nggak kalah menakjubkan. Belum lagi sepanjang perjalanan lagu-lagu Indonesia kerap di perdengarkan. Sangat berbeda situasinya dahulu –saya sempat tugas ke Sebatik saat heboh-hebohnya kasus ambalat dan lagu-lagu Malaysia masih jadi favorit–. Kini lagu-lagu Indonesia boleh dibilang menjadi tuan di negeri sendiri.
Saat melewati hamparan sawah hijau. Jalanan seperti pematang sawah yang membelah. Cuma pematang kali ini agak lebar dan beraspal lagi. Jalanan beraspal separo jalan saja. Selebihnya ya begitulah. Hancur lebur nggak karuan. Nah, yang membuat dag dig dug adalah saat berkumandangnya adzan magrib pas di perjalanan. Duh, ya Allah. Terasa syahdu banget. Di dekat areal perkampungan magrib-magrib masih juga jalan. Saya memilih salat jama’ saja saat sampai di Nunukan. Medan yang dilewati pun semakin sukar. Jalanan berlumpur sisa-sisa hujan deras sebelumnya masih terlihat. Sopir mengingatkan, kalau ban mobil kejeblos di jalanan rusak itu mau tak mau nginap di jalan deh. Wah, jangan. Cowok sih enak. Lha cewek gimana? Mau pipis (maaf) susah. Belum lagi kalau ada perompak di jalanan yang sepi itu. Hih….. Berdoa dalam hati sajalah. Akhirnya sampai juga di pelabuhan dalm kondisi gelap gulita. Maklumlah namanya pelabuhan tradisional yang tidak di terangi lampu. Kecuali senter pemilik perahu.

PUKUL 19.00 WITA
Hari sudah gelap. Untungnya masih ada perahu yang mau mengantarkan kami menyebrang sungai itu ke Pasar Yamaker Nunukan. Saya memilih duduk di tengah. Alhamdulillah cuaca cerah. Bintang-bintang di langit tampak berkilauan. Indah. Perjalanan 20 menit tak terasa. Tapi begitu perahu terkena ombak dan oleng sebentar, teriak histeris saya memecah suara ombak. Perahunya panjang dan dekat banget dengan air. Tinggal diciduk saja pakai tangan, air bisa nyiprat. Takut tenggelam sih, tapi ya gimana lagi. Saya pakai pelampung sajalah. Seperti biasa di setiap perjalanan saya sempat mengabadikan momen tersebut.
Cuaca gelap memang membuat saya khawatir. Soalnya kita hampir-hampir tidak melihat ada perahu lain di dekat kita. Kodenya suara,”oi… minggir. Mau ke Yamaker.”
(Jadi ingat naik kapal kelotok dari Samarinda ke Samarinda Seberang. Bunyinya tok tok tok tok gitu sepanjang perjalanan).
Seperti saat kita berpapasan dengan perahu yang berisi penumpang yang tengah memancing ikan atau perahu yang mengantarkan penumpang juga ke Sedadap. Oh, ya, pelabuhan kecil Nunukan bukan hanya di Pasar Yamaker, lho. Pokoknya asal bisa perahu bersandar ya sudah penumpang pun bisa di antar.
Keindahan Nunukan sudah terlihat sejak dari pelabuhan Bambangan. Lampu-lampu menyala berpendar.
Akhirnya sampai juga di Pasar Yamaker. Dag dig dug sepanjang perjalanan berakhir sudah. Dari Pasar Yamaker jalan kaki sebentar, trus naik ojek, nginapnya di hotel milik Bupati Nunukan, Hotel Laura. Wah, semua kamar VIP penuh. Ketimbang pergi lagi, ngantuk, capek, ah sudahlah, di kamar biasa nggak apa-apalah. Istirahat sebentar, mengumpulkan tenaga untuk bisa besok sorenya terbang ke Tarakan lagi. Toh, meskipun capek, sempat bertemu dengan rekan-rekan Nunukan untuk jalan-jalan sejenak. Seperti biasa, wisata kuliner.

Jalan-jalan ke perbatasan seperti ini membuat saya miris. Kapan ya perbatasan itu maju. Seperti negeri jiran kita, Malaysia. (anny@radartarakan.com)

03
Jul
08

Mobil Disko dan Bernapas Dalam Debu di Sebatik

SELAIN naik speedboat Tarakan-Sebatik, jalur alternatif lainnya menuju ke pulau yang dimiliki dua negara itu adalah lewat Nunukan via pesawat Kalstar. Nah, dari Nunukan terus menuju ke Pelabuhan Yamaker nyebrang menuju Bambangan, suatu daerah pelabuhan kecil di Sebatik.

Untuk menuju ke kota, istilahnya untuk menuju ke Sungai Nyamuk (Sei Nyamuk) yang merupakan kawasan perdagangan, saya dan rekan saya carter mobil innova. Perjalanan ada dua jalur, lewat jalur gunung atau pantai. Jalur gunung ditempuh selama 1 jam, sedangkan jalur pantai selama lebih kurang 1,5 jam. Akhirnya saya memilih lewat jalur gunung saja. Benar saja, sulit membayangkan jalanan mulus di sini. Sebab kiri kanan jalan jurang, sedangkan jalanan di depan berlubang. Wuih….. ngeri. Tapi ditekati saja, pasti sampai ke Sungai Nyamuk.

Mengapa banyak jalanan rusak? Menurut Pak Nengah,– kontraktor pelaksana yang ditemui ketika sama-sama satu perahu nyebrang ke Bambangan–, lantaran cuaca dan medan di Sebatik yang cukup ganas. Maksudnya, hujan mengguyur menyebabkan jalanan becek dan ujung-ujungnya tanah longsor.
“Jalan dan jembatan yang sudah kami bangun pun hancur. Wah, susahnya. Medannya memang sulit. Tanahnya mudah longsor bila terkena hujan. Terpaksalah kami membangun sedari awal lagi,” kata Nengah yang asli orang Bali itu.

Sepanjang perjalanan memang tanah yang longsor tengah dibenahi kembali. Tampak sejumlah pekerja bekerja keras menyelesaikan target penyelesaian jalan dan jembatan di Sebatik akhir tahun ini. Untunglah meski di satu sisi ngeri melihat longsor dan jurang-jurang yang menganga, pemandangan di sisi kiri dan kanan yang masih hutan dan perkebunan warga yang hijau menawarkan sensasi yang berbeda. Seperti melihat sisi lain di ujung dunia. Belum lagi ketika berada di puncak pegunungan, tampak negeri tetangga Sebatik Malaysia tak kalah membangun juga. Dari kejauhan kota Tawau terlihat ramai dengan kapal-kapal perdagangan dan lalu lintas barang.

Tinggalkan sejenak longsor, jurang, pemandangan perbukitan, dan mobil disko naik turun gunung akibat jalanan yang tidak rata. Secara umum debu banyak beterbangan di mana-mana. Seolah-olah menyambut kedatangan saya di sana. Alamak, kalau tiap hari harus menghirup debu begini, bukannya akan ada gangguan pernapasan nanti? Tapi bagaimana kondisinya begini di Sebatik. Panas penuh debu, hujan becek dan longsor. Walah-walah, susahnya hidup di perbatasan.

Tapi begitu memasuki kawasan Aji Kuning, itu lho yang kebanyakan rumah warganya ada yang dapurnya di Malaysia dan ruang tamunya di Indonesia. (Enaknya, tinggal selangkah sudah ke luar negeri nggak pakai paspor lagi). Jalanan mulus banget. Setahu saya, dulunya hancur banget. Terakhir kali saya kesini pas heboh-hebohnya kasus Ambalat, blok minyak yang diperebutkan antara Indonesia dan Malaysia.
Tapi sampai ke Sungai pancang, yah, mobil berdisko lagi, berdebu lagi hingga memasuki kawasan Sungai Nyamuk atau Sei Nyamuk. Istirahatlah…..

Dulunya ada sebuah hotel terkenal di sini namanya Hotel Aniar, sekarang tambah satu hotel lagi Queen Hotel. Menariknya, hotel ini setahu saya dulunya adalah tanah lapang di sebelah swalayan terkemuka di sana Kebalen Jaya. Swalayan ini menjadi jujugan warga, produk-produk negeri tetangga juga banyak di sini. Tinggal pilih. Tapi sekarang sudah banyak produk Indonesia masuk ke swalayan ini. Kebetulan ke Sebatik, saya tak melewatkan shopping di tempat ini. Biasa, bukan tidak cinta Indonesia. Hanya kalau oleh-oleh dari sebatik Cuma ada di swalayan ini, apa boleh buat. Milo Malaysia dan coklat-coklat. Padahal banyaknya dijual juga di supermarket di Tarakan. Tapi kalau cap-nya dibeli di swalayan Sebatik kan jarang banget gitu lho. (anny@radartarakan.com)

01
Jul
08

Tiada Hari Tanpa Banjir Kayu

BILA melintasi perairan menuju Malinau pasti speedboat melewati kawasan yang saya menyebutnya “sungai banjir kayu”. Karena jutaan kubik kayu dan limbah kayu mengapung di perairan itu dan mengganggu kelancaran wira wiri-nya speedboat. Aneh saja, kok sepertinya tiada hari tanpa banjir kayu.

Misalnya saja saat saya ke Malinau tepat ketika malamnya hujan deras mengguyur, wajar bila kemudian sungai-sungai pun melarutkan apa saja. Tetapi justru ketika tak ada hujan dan banjir, justru banjir kayu log dan limbah kayu ini makin menjadi-jadi. Bagi yang terbiasa melewati kawasan ini mungkin sudah menjadi pemandangan biasa, bagaimana dengan yang tidak terbiasa. Seperti halnya saya yang kerap bertanya-tanya, jangan-jangan kayu-kayu ini ada yang punya. Sengaja dilarutkan ke air seolah-olah sebagai limbah. Begitu kayu-kayu larut di sebuah ujung sungai langsung ditarik ke tongkang atau disembunyikan di kawasan tertentu. Bisa saja kan?

Namanya juga penasaran dan curiga. Curiga saja tanpa bukti memang tak bakalan mendapatkan sejumlah fakta-fakta menunjang.

Lalu sampai kapankah banjir kayu ini akan berakhir? Tidak cukupkah menyebabkan speedboat mogok? Tidakkah pemerintah dan warga peduli akan kayu-kayu ini, sehingga suatu saat ada program bersih-bersih sungai? Dan, kayu-kayu itu pun mengalir sampai jauuuuuuuh. Mengikuti derasnya aliran sungai. Bencana dahsyat pun menanti.  (anny@radartarakan.com)

01
Jul
08

Speedboat Malinau “si Tukang Mogok”

“Mengapa speedboat jurusan Tarakan-Malinau atau Malinau-Tarakan kok jelek-jelek ya. Mana sering mogok lagi. Tempo hari saya ajak anak-anak liburan ke Tarakan ealah, mogok beberapa kali. Yang mesinnya rusaklah, yang kehabisan bensinlah. Macam-macam sampai saya jengkel. Kenapa ya, mbak, speedboat Malinau nggak sebagus speedboat Bulungan?”

Begitulah keluhan kolega saya di Malinau. Meskipun saya jawab saya nggak tahu mengapa, dia tetap ngotot agar saya mencaritahu. Mengingat dia pun sering mendapatkan complain dari partner-partner kerjanya.

“Saya pernah ketinggalan pesawat gara-gara speedboat kehabisan bensin. Ya, sudahlah mau dikata apa? Saya langsung nginap saja di Tarakan dan beli tiket pesawat lagi,” ujarnya rada kecewa.

Tapi lanjutnya lagi, pernah aparat keamanan yang ditugaskan negara harus terlambat gara-gara speedboat mogok ya kolega saya di pemerintahan Malinau inipun langsung dikomplain habis-habisan.

“Malu juga sih. Tapi mau dikata apalagi. Persoalannya speedboat itu kan dikelola swasta bukan pemerintah. Kalau begini terus bisa-bisa jadi preseden buruk untuk Malinau. Karena ke Malinau lewat jalan darat jelas nggak mungkin karena jalanan rusak dari Bulungan menuju Malinau. Kemudian pesawat juga terbatas, tinggal satu-satunya keluar masuk Malinau ya naik speedboat itu,” lanjutnya.

Pengalaman naik speedboat mogok juga pernah saya alami. Awal mei lalu, dari Malinau pukul 1 siang sehabis jumatan. Speedboat mogok hingga 4 kali. Mesin rusaklah, baling-baling tersangkut kayu-lah, terakhir kehabisan bensin. Untunglah, kebanyakan anak-anak kecil di dalam speedboat ini tak rewel, sehinggalah speedboat yang berulangkali mogok itu baru sampai di pelabuhan tengkayu Tarakan sekitar pukul 6 kurang 15 menit. Mana saya buru-buru menghadiri undangan rekan saya yang baru buka usaha resto lagi. Ya sudahlah. Toh, ini kali ke sekian saya mengalami speedboat mogok dalam perjalanan Malinau-Tarakan. Pernah pula saat bersama rombongan Presidium Tana Tidung usai menghadiri pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan anggota DPRD Tana Tidung, speedboat mogok di sekitar Pulau Sadau. Mengapa ya kok selalunya mogok pas di dekat Pulau Sadau? Padahal ini speedboat carteran.
Mungkin saatnya instansi terkait melakukan evaluasi terhadap kinerja para pengusaha speedboat. Lantaran ini terkait masalah keselamatan dan imej Malinau di mata warga utara Kaltim dan pendatang. Lebih khusus lagi investor.

Tapi tumben-tumbennya lho, speedboat yang saya tumpangi pekan lalu cepat sekali nyampai ke Malinau. Begitupun ketika balik lagi ke Tarakan. Wah, semoga ini bukan hanya sementara. Bukankah penumpang amat menghargai ketepatan waktu sebagai bagian dari service pengusaha speedboat? Kok bisa cepat, padahal mampir-mapir lho, ke Bebatu, Sesayap, Tideng Pale, dan terakhir di Malinau tepatnya berhenti di pelabuhan sementara dekat jembatan Malinau Seberang. Uh… senangnya. Baru kali ini naik speedboat ke Malinau hanya 3 jam. (anny@radartarakan.com)




 

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Flickr Photos

More Photos

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 8,244 hits