Arsip untuk Oktober, 2008

28
Okt
08

Tabrakan di Depan Gang Paguntaka

Hari yang cerah. Pagi-pagi saya sudah menuju ke kantor. Ngerasain ngantor pagi-lah. Kalau biasanya sih terserah, bisa siang, sore atau malam. Aktifitas saya kebanyakan di luar kantor sekarang. Kalaupun ngantor ya paling ngecek anak buah.
Ya, kemudahan teknologi telah memudahkan segalanya. Kalau perlu sesuatu tinggal SMS atau telepon, periksa laporan tinggal buka laptop internetan dimanapun berada. Tapi ngantor tetap wajib. Sehari nggak ngeliat kantor rasanya seperti “hari yang aneh”. Kantor ibaratnya sudah menjadi rumah kedua.
Jalan-jalan ramai banget dengan aktifitas warga. Ada yang berangkat ke kantor, ke sekolah atau ke pasar. Polisi juga tampak mengatur lalu lintas di beberapa titik perempatan dan pertigaan. Karena nggak semua jalan ada trafficlight-nya
Biasanya saya lebih suka lewat jalan Kampung Bugis dalam lewati sekolah Indo Tionghoa, tembus Jl Mulawarman samping rukan yang baru dibangun. Kali ini saya memilih melewati Jl Sudirman, stop sejenak di lampu merah, belok kanan ke Jl Mulawarman. Di sini harus hati-hati karena banyak gang dan persimpangan. Kadang harus menyetel lampu tanda jalan lurus supaya kendaraan lain mengalah. Karena saya nggak mau telat sampai kantor. Sekaligus saya nggak suka kalau jalan saya dipotong-potong. Hehehehe egois ya. Padahal salah satu pelajaran dari instruktur mengemudi saya adalah, kendalikan emosi saat di jalan, meski di jalan tetap jaga sopan santun berkendara. Ya proses lah.
Dari Jl Mulawarman depan Bais Café agak di depan sedikit, saya berbelok lewat jembatan dekat kepiting saos, belok lagi ke kiri menuju Gedung Silver. Baru beberapa meter mengendarai mobil tiba-tiba:
“Allahu Akbar.”
Citttttttttttttttttttt…. Bunyi ban berderit saat saya tiba-tiba mengerem laju kendaraan dan sontak klakson mobil berbunyi nyaring.
Sebuah tabrakan antardua sepeda motor terjadi di depan mobil saya. Tepatnya di Gang Paguntaka Jl Mulawarman. Kurang lebih 200 meter dari Gedung Silver Radar Tarakan. atau sekitar 1 atau 2 meter di depan mobil yang saya kendarai.
Kendaraan yang satu dari arah Gang Paguntaka, pengendaranya langsung berbelok ke kiri ke arah jalan dekat Kepiting Saos. Satunya lagi dari arah berlawanan dengan saya, tetapi tujuannya sama ke arah jalan dekat Kepiting Saos juga.
Sejurus kemudian saya sempat blank sambil memandangi handrem. Sempat berpikir sejenak caranya memfungsikan handrem gimana ya. Terus caranya memposisikan tuas netral gimana ya. Wah…
Kedua kaki saya masih dalam posisi mengerem. Untungnya pakai sabuk pengaman jadi pas ngerem mendadak jidat (dahi) nggak membentur setir atau dashboard. Cuma tas ransel saya di samping tempat duduk yang berisi laptop sempat membentur dashboard. Yah, apes deh.
Sejenak rileks, sambil menarik napas panjang. Handphone saya mana ya? Kata saya dalam hati sambil merogoh saku samping.
“Pak, keluar pos satpam dulu deh. Liat ke jalan. Kesini deh. Cepetan. Cepetan. Buruan ya,” kata saya kepada Satpam yang bertugas di Gedung Silver pagi itu.
Saya melongok ke jam di HP, pukul 07.30. Saya keluar dari mobil dan masih dengan lutut bergetar bersender di body mobil sambil melihat kejadian tabrakan. Seorang perempuan, terjatuh di aspal. Disampingnya ada sepeda motor.
Siapa yang salah? Sama-sama nggak sengaja menabrak sih. Yang satu keluar dari gang langsung berbelok ke kiri, wajar kalau nggak tahu ada kendaraan lain yang lewat karena pandangan dari arah kanan terhalang seng pembangunan ruko yang baru tahap pengerjaan akhir. Pandangan dari arah kiri terhalang tembok pembatas tanah milik warga.
Pengendara satunya lagi dari arah berlawanan, posisinya pengendara itu sama sekali tidak tahu kalau ada kendaraan dari dalam gang. Karena dari jauh terlihat tertutup seng.
Karena hari-hari lewat di depan Gang Paguntaka terutama saat pulang kantor, saya hapal benar kondisinya. Saya juga pernah nyaris menabrak pengendara motor dari gang ini. Kalau lewat gang ini pertama saya memelankan laju kendaraan, kemudian membunyikan klakson dua kali saat siang atau mengedipkan lampu saat malam, baru kemudian laju deh.
Pernah saya lewat depan gang ini saat pulang kantor malam dan mengedipkan lampu, eh, tiba-tiba ada kendaraan tetap nyelonong aja dari dalam gang. Wah, sekalian saya klakson panjang. Kaget tuh orang. Emang nggak tahu apa kalau kedipkan lampu itu sebagai penanda. Sambil mengumpat,”Uhhhhhhhhh, slonong boy aja. Nggak liat kiri kanan kalau keluar gang.” Saat itu bener-bener kesal.
=====0o0====
Begitu Pak Satpam terlihat di jalan raya saya sempat melambaikan tangan dan berharap segera datang. Beberapa karyawan Office Boy (OB) berhamburan mendatangi saya.
“Mbak nabrak motor?,” kata mereka ramai-ramai.
“Nggak. Untung sempat ngerem sih,” kata saya lagi.
Warga sekitar juga berhamburan melihat. Ada pula yang membantu mengangkat pengendara motor yang terjatuh. Pengendara ini seorang ibu berjilbab dan berpakaian kerja. Kayaknya sih mau pergi kerja. Tapi saya tak sempat bertanya-tanya. Dia terduduk di samping parit besar di Jl Mulawarman. Kakinya pun diluruskan. Sakit? Pastilah.
Kantor Radar Tarakan masih beberapa meter lagi, tapi saya tak sanggup lagi mengendarai mobil. Saya menyuruh teman-teman OB untuk mengantar saya sampai di kantor.
Saya sempat menawari ibu yang terjatuh itu untuk diantar teman-teman saya, tapi dia menolak sambil mengucapkan terimakasih. Akhirnya saya pun disopiri teman-teman OB, ke kantor. Kejadian itu tak berlanjut ke polisi, karena dua-duanya merasa kasihan kali ya. Saya pun tak sempat mencatat nomor kendaraan mereka. Yang ada dalam benak saya bagaimana sampai di kantor segera.
Leganya sudah sampai kantor dengan selamat. Alhamdulillah. Saya membayangkan, kalau seandainya saya sangat laju sekali mengendarai mobil waktu itu, mungkin nyawa ibu itu tak tertolong karena kepalanya terlindas mobil saya. Mungkin juga nyawa saya tak tertolong lagi karena pilihannya nggak ada lain selain menabrakkan mobil ke penahan parit dan mobil nyemplung ke parit. Ah… cumi. Cuma mikir. Subhanallah, Allah masih memberi saya hidup.
Pelajaran menyetir mobil kali ini; kalau keluar masuk gang wajib liat kiri kanan jalan dahulu. Kalau melewati gang pastikan tak ada kendaraan yang nyelonong tiba-tiba dengan antisipasi bunyikan klakson atau kedipkan lampu. Saat mengendarai mobil di jalan penuh gang di sisi kiri dan kanan, perlahankan mobil.
Kok belajar menyetir lagi? Ya, belajar setiap hari. Menemukan masalah dan solusinya tiap hari. Tapi semrawut juga lho sebenarnya lalu lintas Tarakan itu. Kalau ada polisi tertib, kalau nggak ada polisi yah… gitu deh. Sembarangan aja di jalan, nggak ada sopan santunnya. Kapan-kapan deh saya nulis. (anny@radartarakan.com)

27
Okt
08

Safari Religi Duo Nenek dari Masjid ke Masjid

Mudik ke Kota Minyak, Balikpapan (4-habis)

TAK sengaja bertemu di angkot, ternyata penulis bertemu dengan dua nenek yang bersahabat sejak mereka remaja. Uniknya mulai muda hingga di usia senjanya kini tiap kali Ramadan keduanya selalu mengajak serta keluarga untuk bersafari religi dari masjid ke masjid se-kota Balikpapan. Wah, keren nih.

 

“Tak Perlu Keliling Dunia” adalah salah satu lagu dari soundtrack film besutan Riri Riza, Laskar Pelangi. Tembang yang dinyanyikan Gita Gutawa ini pas banget dengan safari religi duo nenek yang penulis temui di Balikpapan. Seperti di awal tulisan ini dibuat. Penulis tak sengaja bertemu di angkot saat hendak pulang ke rumah. Dua nenek (penulis lupa namanya…) adalah dua nenek yang sangat ramah. Saat penulis hendak masuk ke angkot yang sudah penuh, mereka masih mempersilakan penulis untuk masuk. Mungkin mereka kasihan kali dengan penulis bila tak menemukan angkot lagi. Maklumnya jam telah menunjukkan pukul 11.00 malam.

“Masih cukup kok, sini na,” kata salah seorang nenek mempersilakan.

Meski harus menggeserkan diri lebih rapat, akhirnya tempat duduk untuk penulis pun ada.

“Dari mana nek,” tanya penulis kemudian.

“Dari salat terawih bareng anak dan cucuku. Ini mereka semua,” sahut nenek itu lagi.

“Hah, satu taksi (maksudnya angkot.red). banyak banget,” sahut penulis tak kalah kaget.

“Iya. Kita biasa kalau tiap Ramadan salat tarawihnya nggak hanya di satu masjid saja. Biar nggak bosan kita sekeluarga suka pindah-pindah,” katanya lagi.

Nenek itu melanjutkan lagi, “Kira-kira sejak kita remaja ya kita sudah keliling dari masjid ke masjid se-Balikpapan.” Sambil mengatakan hal ini, nenek itu memandang nenek yang duduk di sebelahnya. Jadi, nenek berdua ini sobat karib sejak mereka  masih muda.

“Saya juga mulai ikut aktifitas nenek keliling tarawih dari masjid ke masjid sejak anak saya yang pertama lahir. Ya, asyik aja,” katanya sambil menepuk pundak anak-anaknya dan memperkenalkan satu per satu ke penulis.

“Salat terawihnya berapa rakaat. 11 atau 23 rakaat?” tanya penulis penasaran.

“Kebanyakan 23 rakaat. Kalau 11 rakaat itu masjid-masjid tertentu saja,” ujarnya sumringah.

Ketika penulis memperkenalkan diri kalau tinggal di Tarakan, salah seorang nenek langsung antusias. “Aku dulu tinggal di Sebengkok. Tapi nggak lama. Tahun berapa ya. Pasar Beringin masih adakah?” tanyanya balik.

“Masih ada, Nek.” Sahut penulis singkat.

Ah, angkot sudah menuju ke gang tempat penulis tinggal. Saatnya berpisah. Nenek itu sempat mempersilakan penulis mampir ke rumahnya di sekitar Karang Anyar Balikpapan. Tepatnya dimana, penulis tak hapal lagi lokasinya, karena sudah terlalu lama meninggalkan Balikpapan.

Nenek-nenek saja, rajin salat terawih. Masa kita yang muda kalah? Keliling dari satu masjid ke masjid se-Kota Balikpapan. Jangan-jangan kalau sejak muda dia rutin keliling, berarti seluruh masjid di Balikpapan sudah dia kunjungi. Benar-benar tak perlu lagi keluar daerah atau keluar negeri untuk plesir. Pokoknya tak perlu keliling dunia-lah. Cukup di Balikpapan saja naik angkot rame-rame bareng keluarga. Yang pasti murah meriah. (*)

Banyak lagi cerita seru waktu liburan di Balikpapan. Tapi kapan-kapan deh penulis postingkan lagi. Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.   

27
Okt
08

Zakat 2,5 Persen atau Anda akan Binasa!

Mudik ke Kota Minyak, Balikpapan (3)

BERTEMU my bigboss Zainal Muttaqin (Dirut Kaltim Post dan Wakil CEO Jawa Pos) seperti bertemu dengan telaga ilmu. Saya banyak belajar dari beliau tentang segala hal. Tidak hanya soal seni memimpin perusahaan, tetapi juga dalam soal keagamaan. Seperti pertemuan kali kedua di Gedung Biru Kaltim Post yang lagi-lagi membahas soal zakat.

 

“…Anda berzakat 2,5 persen dari total penghasilan Anda, atau anda akan binasa…” Intonasi bicaranya tidak seperti orang marah. Pelan dan pasti disertai senyum mengembang. Tetapi kalimatnya menghujam sampai ke dalam hati saya. Serius nih orang. Pikir saya kemudian. (Belakangan saya baru tahu kalau bos Zam hingga kini adalah penasihat manajemen di dua lembaga zakat. Tahun lalu salah satu lembaga zakat itu berhasil menghimpun dana zakat maal (zakat harta) sebesar Rp6 miliar. Tahun ini targetnya Rp10 miliar. Wow, subhanallah)

Bukan kali ini saja, Bos Zam demikian saya dan rekan-rekan saya memanggil pemimpin kami itu. Kali pertama ngobrol soal zakat justru di saat santap sahur di restoran sebuah hotel berbintang di kawasan Jl Mulawarman Tarakan. Hidangan lezat dengan pilihan menu beragam dari lokal hingga internasional, mendadak hambar saya rasakan manakala teringat seluruh penghasilan saya selama setahun, ditambah bonus, ditambah THR, ditambah tunjangan-tunjangan. Allahuakbar kok bisa lupa sih? Kata saya dalam hati.

Selama ini penulis tak pernah menghitung berapa penghasilan bulanan. Bukan tidak tahu. Tahu tapi sambil lewat. Hanya saja penulis tak ingin gara-gara penghasilan justru akan mempengaruhi kinerja. Lebih mempercayakan pengelolaan keuangan pribadi pada tim keuangan. Dengan kata lain penulis lebih suka hidup pas-pasan. Maksudnya, pas ingin ini terpenuhi, pas ingin itu terpenuhi. Selama ini begitu. Mendadak diskusi soal zakat, penulis kembali meminta tim keuangan membuka file gaji selama setahun plus bonus plus tunjangan plus THR dll dikalikan 2,5 persen. Hasilnya…. (rahasia dong).

Bos zam, bukankah zakat untuk orangtua juga penting? Sebab saya pernah membaca bahwa bila ada keluarga kita yang lebih memerlukan maka didahulukan keluarga kita baru orang lain. Tanya penulis. Jawabannya sungguh diluar dugaan. “Bila orangtua atau keluarga Anda sangat-sangat miskin, maka anda boleh kok memberi harta kepada mereka. Itu namanya menyantuni orangtua. Bukan zakat. Hanya 2,5 persen dari total penghasilan Anda. Misalnya penghasilan anda 1 juta, maka 2,5 persen dari 1 juta berapa? 25 ribu rupiah. Nggak berat kalau tiap bulan anda potong 2,5 persen. Kalau setahun berapa? 300 ribu. Akan lebih ringan kalau anda berzakat per bulan. Kalau setahun baru Anda keluarkan zakat dengan gaji Anda sekarang, pasti Anda akan ngeper dan bilang wah besar juga ya. Anda pasti malaslah berzakat…” katanya sambil tertawa.

Apakah zakat penghasilan ini akan diterapkan untuk seluruh karyawan? Tanya saya lagi penasaran. Tidak. Jawab Bos Zam. Mulai dari diri Anda dahulu, baru mengajak karyawan yang mau saja. Dalam soal zakat sebaiknya tidak ada unsur pemaksaan, ujung-ujungnya nggak ikhlas. Ikhlas itu penting. Jangan-jangan karyawan Anda itu takut dengan anda jadi mereka berzakat. Bukan takut sama Allah. Wah, kacau itu. Lagi-lagi membuat saya dan rekan-rekan yang ikut bersantap sahur tergelak.

So, mulai sekarang tekad penulis tiap bulan wajib menyisakan uang untuk berzakat. Insya Allah. Semoga rejeki selalu mengalir lancar. Amin. (*)

14
Okt
08

Dari Hotel ke Hotel; Pelatihan Salat Khusyuk sampai Training ESQ

Mudik ke Kota Minyak, Balikpapan (2)

SEJUMLAH hotel di Balikpapan memang menawarkan paket-paket takjil (buka puasa), tetapi juga menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan islami. Seperti yang penulis ikuti, pelatihan salat khusyuk dengan mentor murid Abu Sangkan di Hotel Tiga Mustika Gunung Pasir (dekat SMPN I) –depan Hotel Grand Senyiur dan Training Sumber Daya Manusia (SDM); ESQ Professional di Hotel Le Grandeur (dulu Dusit Inn). Berikut tulisannya:

Abu Sangkan. Namanya sudah tak asing lagi. Terlebih semenjak wajahnya kerap kali nongol di layar kaca Metro Teve membahas mengenai salat khusyuk. Beberapa training salat khusyuk Abu Sangkan juga seringkali didengar penulis. Karena aktivitasnya sering mengadakan pelatihan salat khusyuk. Tetapi apa dan bagaimana metodenya penulis belum tahu banyak. Berhubung ada kesempatan di Balikpapan. Ikut sajalah…
Saat mendaftar, penulis ragu jangan-jangan pendaftaran sudah ditutup. Tapi begitu mengikuti acaranya di hotel Grand Tiga Mustika, wuih, subhanallah, banyak juga ya. Lebih dari seratus orang. Termasuk ada peserta yang datang dari luar Balikpapan, seperti Samarinda dan kota-kota lainnya. Padahal target panitia hanya 30 orang. Biarpun nggak dapat free buku Abu Sangkan pertama yang berjudul “Pelatihan Salat Khusyuk”, soalnya hanya untuk 30 orang pendaftar pertama saja, ya sudahlah. Yang penting bisa ikut kegiatannya. Terus bisa juga beli buku karya Abu Sangkan lainnya berjudul “Berguru Pada Allah”.
Apakah pelatihan salat khusyuk ini se-khusyuk alias tegang? Jawabannya tidak selalu. Malah yang ada unsur humornya lebih banyak. Instrukturnya lucu banget. Namanya Pak Nyut Nyut (kok jadi lupa ya siapa nama intrukturnya hehehe). Abisnya kerap kali kata-kata itu yang dilontarkan dan membuat hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Kalau latihan salatnya sih khusyuk banget, malah menyentuh hati dan membuat terharu. Enak banget. Lapang pokoknya usai praktek salat khusyuk.
Pak Nyut-Nyut itu murid abu sangkan. Tapi jangan salah kira dia hanya seorang ustaz. Dia seorang pengusaha percetakan. Direktur gitulah. Bisnisnya banyak dikerjakan anak buahnya, dia sendiri selain tinggal mengomandani bisnis tersebut ya tugas lainnya berkeliling Indonesia memberikan pelatihan salat khusyuk. Pelatihan berakhir hingga usai buka puasa bersama. Dari pagi sampai malam, wah nggak terasa waktu berjalan begitu cepat.
ESQ GRATIS
Inilah enaknya ikut pelatihan SDM ESQ. Cukup ikut sekali, bisa masuk mengikuti training serupa di mana saja berada. Misalnya, kita ikut di Tarakan. Pas penulis ke Balikpapan kebetulan ada acaranya ya langsung ikut saja. Syaratnya ya menunjukkan kartu alumni. Kalau belum punya minta dibuatkan saja. Database-nya lengkap kok.
Training di Balikpapan waktu itu adalah untuk angkatan ke-47. Pesertanya ada yang datang dari Penajam Paser Utara (PPU) segala lho. Mereka bahkan rela PP menyebrang teluk Balikpapan tiap hari (acaranya berlangsung selama 3 hari). Nggak kebayang deh capeknya. Tapi anggap saja mencari ilmu. Biar capek-capek dikit nggak apa-apalah.
O, ya, training lanjutan untuk mereka yang telah mengikuti training regular dan profesional adalah Training ESQ Mission & Character Building merupakan penggabungan 2 training lanjutan yaitu ESQ Mission Statement & ESQ Character Building, tanggal 1-2 November di Hotel Grand Senyiur Balikpapan. Even se-Kalimantan itu akan langsung dipandu Ary Ginanjar Agustian, President Director ESQ Leadership Center. Belakangan acaranya diundur Januari mendatang lantaran kesibukan Pak Ari yang sangat padat. Ini menurut info panitianya lho.
Mengikuti dua training ini dari hotel ke hotel mahal dong? Yup. Tapi demi setitik ilmu ya rejeki takkan kemanalah. Semoga bisa menjadi obat hati dan merasakan kebesaranmu ya Allah.(*/bersambung)

09
Okt
08

Welcome to Balikpapan; Disambut Takjil di depan Rumah Pak Wali

Mudik ke Kota Minyak, Balikpapan (1)

SELAMA 2 pekan lebih penulis mudik sekaligus cuti panjang ke Balikpapan. Bagaimana serunya mudik di kota minyak? Cerita pertama tentang antre takjil (bukaan puasa) di depan rumah walikota Balikpapan. Selanjutnya simak pula cerita lainnya dalam tulisan bersambung:

PUKUL 17.30 pesawat mandala yang saya tumpangi mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan. Inilah mudik (baca cuti) terlama yang saya ambil. Selama 2 minggu alias 12 hari; mengambil jatah cuti tahun ini ditambah cuti khusus 2 hari. Selebihnya kan memang libur khusus lebaran. Pilihannya ke Balikpapan, kota kelahiran penulis, tempat segala kenangan masa kecil hingga dewasa. Sebelum akhirnya sempat sejenak di Samarinda dan sekarang menetap di Tarakan.

Perjalanan selama 55 menit dari Tarakan terasa cepat. Usai antre menanti bagasi. Penulis dan adik lantas naik taksi bandara menuju rumah. Huffs… panas sore masih terasa menyengat. Hingga akhirnya perlahan meredup. Pak sopir tiba-tiba saja mengarahkan mobil berhenti sejenak di depan rumah dinas walikota Balikpapan kebetulan dekat bandara.
“Lho Pak. Rumah saya di karang rejo, bukan disini. Ini rumah pak wali,” kata saya.
“Sebentar, mbak. Kita antre takjil. Lumayan buat buka puasa,” katanya sambil memarkirkan mobilnya mendekati mobil petugas pembagi takjil. 1, 2, 3, 4, 5, 6 bungkus takjil yang terdiri dari kue dan air mineral didalam plastik bening.
Benar saja. Ternyata yang antre takjil bukan hanya taksi bandara yang penulis tumpangi. Beberapa mobil mewah lainnya juga berjejer rapi. Kelihatannya sih para penumpang pesawat tadi yang dijemput keluarganya, selebihnya memang para warga yang kebetulan lewat di depan rumah pak wali. Nggak kebayang deh bisa antre takjil di depan rumah Pak Walikota Balikpapan Imdaad Hamid.
“Jadi setiap hari Pak Wali bagi-bagi takjil gitu,” kata penulis kepada pak sopir.
“Saya nggak tahu ya. Pokoknya kalau lewat sini ada bagi-bagi takjil ya saya ambil. Rejeki sih,” katanya riang.
Perjalanan melewati komplek Balikpapan Baru, Mal Fantasi, kemudian tembus Gn Guntur, simpangan karang rejo, terus, sampai deh di rumah. Alhamdulillah sampai di rumah sebelum berbuka. Sehingga bisa berbuka puasa bersama keluarga di rumah. Enaknya berbuka pausa di rumah, makanan apapun saya santap habis. Bawaannya enak aja. Serasa berada di rumah sendiri. Ya iyalah. Hehehehe.
KOTA TERMAHAL
Kaget juga kalau hasil survey terkini Kota Balikpapan merupakan kota termahal di Indonesia. Padahal semuanya menyangka, Jakarta-lah kota termahal itu sebab segala fasilitas tersedia di sana. Sebaiknya, simak berita di bawah ini yang sengaja saya kutip dari berbagai situs internet.
=====0o0=====
Balikpapan Kota Termahal di Indonesia
Jakarta kota termahal di Indonesia? Ternyata bukan. Kota termahal di Indonesia adalah Balikpapan. Sementara Bandar Lampung dan Mataram menjadi kota termurah di Indonesia.
Demikian hasil Survei Biaya Hidup 2008 yang dilakukan Mercer Indonesia, seperti dipublikasikan, Jumat (29/8/2008). Survei dilakukan secara serentak di 26 kota utama di seluruh Indonesia selama Juli 2008, atau dua bulan setelah kebijakan kenaikan harga BBM.
Jakarta, ibukota negara sekaligus pusat kegiatan bisnis terbesar di Indonesia, dijadikan kota basis pada survei ini (indeks 100). Kota-kota lain yang disurvei diperhitungkan indeksnya terhadap kota Jakarta sebagai kota basis.
Balikpapan tercatat sebagai kota termahal dengan indeks 107, naik 3 poin dari 104 pada tahun 2006. Sementara Jakarta adalah kota kedua termahal.
Sedangkan kota Bekasi dan Samarinda yang seri di peringkat ke-3 dengan skor indeks 94 diikuti kota Bogor dan Jayapura pada peringkat ke-5 dan ke-6. Kota termurah yaitu Bandar Lampung dan Mataram, keduanya dengan skor indeks 75, berada di peringkat ke 25.
Apabila dibandingkan dengan survei serupa yang dilakukan Mercer Indonesia pada bulan Juni 2006, hasil survei ini memperlihatkan kenaikan angka biaya hidup secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
“Kenaikan biaya hidup ini adalah imbas dari kenaikan BBM pada bulan Mei 2008 selain sebelumnya juga telah ada kenaikan tarif dasar listrik pada bulan Maret 2008. Keduanya dirasakan sebagai penyebab yang sangat signifikan di semua sektor. Selain itu juga ada beberapa kenaikan tarif yang terjadi pada kota-kota tertentu saja, misalnya kenaikan tarif jalan tol di Jakarta pada bulan September 2007,” urai Mutiarawaty Thaher, Information Product Solutions Business Leader PT. Mercer Indonesia.
Kategori biaya hidup yang disurvei mencakup biaya kebutuhan makanan, kebutuhan pokok, transportasi, utilitas, perumahan, pendidikan, kesehatan serta hiburan dan olah raga. Untuk hiburan dan olahraga, indeks Jakarta jauh lebih tinggi dibandingkan kota-kota lain, walaupun secara keseluruhan Jakarta masih berada di peringkat kedua dengan 7 skor di bawah Balikpapan.
Beberapa kota turun peringkatnya dibandingkan dengan peringkat pada survei biaya hidup tahun 2006. Kota Denpasar (skor 80) turun 16 peringkat dari peringkat 8 ke peringkat 24, juga kota Banjarmasin (skor 85) turun dari peringkat 4 ke peringkat 14. Sedangkan kota-kota yang naik peringkatnya adalah Bekasi (skor 94) dari peringkat 10 di tahun 2006 ke peringkat 3 di tahun 2008, juga kota Medan (skor 89) yang naik dari peringkat 15 ke peringkat 8.

Berikut urutan kota-kota termahal di Indonesia berikut indeksnya:
1. Balikpapan 107
2. Jakarta 100
3. Bekasi 94
4. Samarinda 94
5. Bogor 92
6. Jayapura 91
7. Pekanbaru 90
8. Bandung 89
9. Batam 89
10. Medan 89
11. Padang 88
12. Manado 88
13. Semarang 86
14. Palembang 85
15. Banjarmasin 85
16. Pontianak 84
17. Tangerang 84
18. Cilegon 84
19. Makassar 84
20. Jogjakarta 84
21. Surabaya 83
22. Jambi 81
23. Cirebon 81
24. Denpasar 80
25. Bandar Lampung 75
26. Mataram 75

(Linkasli:http://www.detikfinance.com/read/2008/08/29/135416/996848/4/balikpapan-kota-termahal-di-indonesia)

===0o0===
(*/bersambung)




 

Oktober 2008
S S R K J S M
« Agu   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Flickr Photos

More Photos

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 8,007 hits