Arsip untuk Maret, 2009

24
Mar
09

Bandara “Pelangi” Juwata

SUDAH beberapa hari ini cuaca tak menentu di Tarakan. Kadang panas menyengat, kadang sejuk cenderung dingin menusuk hingga ke tulang, kadang pula tiba-tiba langit mendung dan hujan tak merata di beberapa tempat. Bukannya hingga akhir maret itu masih musim hujan? Ah… namanya di Tarakan cuaca nggak menentu dah biasa.

Senin dan selasa ini misalnya. Begitu pagi-pagi ngantor, mendung menggelanyut sepanjang perjalanan menuju ke kantor. Pas di tengah jalan raya petir menggelegar, wah langsung bawaannya takut aja. Allahu akbar…. Ups… nyetir mobil jadinya sedikit oleng. Pas sampai kantor langsung air mengguyur dari langit. Di satu sisi bersyukur. Hujan yang tercurah dari langit kan berkah. Disisi lain kasihan ya, anak-anak loper itu pasti korannya nggak laku deh…

Untungnya hujan tak berlangsung lama. Begitu hujan berangsur rintik-rintik, matahari menyembul di ufuk. Dan… lihat saja… wow… subhanallah pelangi. Hore……………… kok girang banget ya.

Inilah pelangi paling indah yang pernah saya lihat. Mejikuhibiniu (merah jingga kuning hijau biru nila dan ungu). Jelas banget warnanya. Gambarannya seolah-olah Bandara Juwata itu sementara jadi Bandara Pelangi. Karena pelangi itu merentang di sepanjang areal Bandara Juwata tepatnya di depan Kantor Radar Tarakan. Dari lantai 4 jelas banget menikmati keindahan pelangi di waktu pagi.

Selesai potret sana potret sini. Pelangi itu berangsur hilang. Udara kembali cerah. Sebentar kemudian mendung lagi. Eh hujan lagi……………. Langit cerah lagi…..

Akankah pelangi akan muncul lagi esok hari?????

24
Mar
09

In Memorian Danang (Maintenance Percetakan Radar Tarakan)

KAMIS, 26 FEBRUARI 2009, PUKUL 05.45
Saya diajak bos Bank Kaltim Tarakan dan rombongan ke Kabupaten Tana Tidung (KTT), untuk menghadiri peresmian Bank Kaltim Cabang Tideng Pale (bukan Tidung Pala seperti yang selama ini ditulis atau diucapkan). Saya sekalian mengajak rekan redaktur dan wartawan. Bank Kaltim telah beriklan satu halaman plus order koran untuk dibagi ke tamu undangan.

Karena speedboat yang dicarter berangkat pukul 06.30, pagi-pagilah saya ke kantor dulu sambil janjian dengan Pak Narta ngecek koran yang akan saya bawa. Saya menunggui Pak Narta menghitung ulang koran (bukan tak percaya pada rekan-rekan XPDC lho. Ketimbang bolak balik kalau ada sesi halaman koran yang kurang ya mending dihitung ulang). Tarakan-KTT sekitar 3 jam perjalanan naik speedboat.

Tiba-tiba ada yang berkata pada saya:

“Mbak anny. Oleh-oleh ya. Mbak anny, jangan lupa.”

Saya menoleh ke arah mesin cetak, nggak ada orang. Cuma pak narta doang di ruang percetakan yang berbatasan dengan ruang XPDC.

Sambil terus menelpon Trisno dan Sofyan, dua rekan saya yang akan ikut ke KTT, lagi-lagi saya dengar ada yang berkata pada saya.

“Mbak anny ini lho. Oleh-oleh ya. jangan lupa pokoknya.”

“Ih… siapa sih pak. Kayak anak percetakan. Tapi kok nggak ada?”

Pak Narta pun bilang. “Itu lho Danang. Sembunyi dia di mesin cetak. Hahaha,” kata Pak Narta.

Muncullah Danang sambil membawa majun (lap) dan sejurus kemudian membantu Pak Narta menghitung dan merapikan kembali koran. Sorenya begitu saya balik ke Kantor sepulang dari KTT, danang sudah tidak ada. Kata Pak Satpam sih ke rumah teman-temannya. Sampai sekarang kalau melihat mesin cetak, masih teringat Danang dan oleh-oleh yang tak sempat tersampaikan.

SABTU, 28 FEBRUARI 2009, PUKUL 08.00 S/D 10.00
Kerja bakti satu kantoran. Bersih-bersih seputaran kantor Radar Tarakan. Danang juga terlihat ikut kerja bakti. Bahkan duduk-duduk di pinggiran taman sambil menikmati segelas bubur kacang ijo buatan mamanya Purwanto alias Ipunk (kru motlay —montase layout)

Malamnya, seluruh kru percetakan makan bareng di warung makan di wilayah Karang Balik. Perpisahan untuk Bambang (percetakan) yang memilih menikahi meylani (admin iklan Radar Tarakan). Bambang mengundurkan diri dari percetakan. Ternyata ini menjadi perpisahan untuk Danang juga. Karena malam seninnya (1/3) Danang kecelakaan dan akhirnya wafat 7 Maret 2009. Jenazahnya dimakamkan di Trenggalek Jawa Timur.

Selamat Jalan Danang

Hidup ini terlalu singkat tuk dijalani. Sudahkah kita bersiap-siap? Dan Danang lebih disayang Allah untuk lebih dahulu menghadap kehadirat-Nya……

18
Mar
09

Makan Begor, Eh… Dibayari Caleg

Makan siang kali ini saya mengajak kolega saya dan anak buahnya. Karena sama-sama suka kuliner, kami menuju ke sebuah warung begor alias bebek goreng Pak Bambang. Lokasinya di belakang Hotel Barito.

Tempatnya bersih banget. Baru kayaknya. Dari promonya sih cabang Surabaya.

“Disini enak lho, mbak. Bebeknya ueeenak banget,” kata kolega saya berpromosi.

Saya yang baru kali ini berkunjung ke begor ini tampak memandang sekeliling. Bersih banget tempatnya. Mejanya, tempat sambal dan kecapnya pun bersih, perhatian sekali si empunya ini. Begitu gumam saya dalam hati. Lebih penting lagi, dapurnya yang terletak di depan sangat sangat bersih.

Tibalah si bebek lezat datang untuk disantap. Suwiran pertama saya cocol dengan sambal terasi, begitu masuk ke mulut alamak rasanya pedas pedas enak.

“Gimana mbak rasanya?” tanya kolega saya itu, penasaran melihat saya yang kepedesan beberapa kali menyeruput teh botol.

“Enak,” kata saya lagi sambil lagi-lagi menyeruput teh botol.

Ya, bebek goreng dimanapun boleh sama. Tapi yang membedakan antara tempat makanan yang satu dengan yang lain menurut saya kok sambalnya. Cocolan sambalnya pas benar dengan selera rasa lapar pas makan siang.

Biasanya saya suka bebek goreng Surabaya. Dulu sih di depan kantor notaris Oey Tjian Hiap di Jl Sudirman. Setelah itu entah kemana saya tak tahu lagi tempatnya. Saya kehilangan jejak.

Nah, ketika tengah asyik menikmati kelezatan si bebek goreng Pak Bambang, rupanya kolega saya yang lain juga makan di tempat yang sama. Diapun lantas bagi-bagi kartu nama caleg. Disitu tertulis nama caleg… (ups… sensor entar disemprit tim iklan lho), DPRD Kaltim Dapil V wilayah Tarakan, Bulungan, Nunukan, Malinau dan Tana Tidung.

Saya langsung mencandai,”Promosi ni ye. Caleg, caleg, barterannya apa nih?”

“Dukung saya ya, Mbak. Saya caleg DPRD Kaltim Dapil V Kaltara,” kata seorang ibu dari meja di belakang saya.

O…ou… salah tampaknya candaan saya. Saya kira orangnya tak ada. Karena yang bagi-bagi kartu adalah kolega saya, pemilik salah satu hotel di Tarakan. Wuih… malunya… dengan basa basi saya bilang,”Oh ya, selamat ya jadi caleg. Maaf tadi saya hanya bercanda. Tak ada maksud apa-apa.”

Belakangan seluruh makan siang kami waktu itu dibayari ibu yang caleg itu. Wah… makin malu jadinya. Tapi nggak apa-apalah. Kapan lagi makan siang dibayari caleg, ya kan.

Kalau setiap hari begini, enak kali ya. tapi saya pasti kebingungan saat pencoblosan nanti. Soalnya akan memilih siapa, karena sama-sama baik membayari makan siang saya misalnya. Walah-walah. Memilih sesuai hati nurani sajalah. Jangan lupa 9 april 2009 di TPS masing-masing dengan mencontreng. (*)

18
Mar
09

Kok Byarpet Lagi Sih?????????????

KADUNG senang nggak bakalan byarpet lagi eh…pas asyik nongkrong di depan kantor usai magrib tiba-tiba listrik padam. Padam total malah seluruh kota. Lumayan setengah jam lebih dikit. Tapi ya tetap saja bikin sebel. Karena terlanjur imejnya listrik tak bakalan padam lagi.

Jadilah makan bakso babat samping kantor itu di kegelapan malam. Cahaya bintang-bintang di langit tampak berkilauan. Wes telan saja bismillah. Kenapa lagi sih PLN????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Besoknya ada iklan pengumuman permohonan maaf tanpa dijelaskan sedikitpun tentang pemadaman semalam karena apa.

Ah… capek deh…………………………..

17
Mar
09

Dikira Caleg, Ternyata “Cumi”

“Selamat. Anda jadi caleg ya?” kata seorang teman kepada saya.

Saya pun bengong. “Hah??????”

“Sudah saya duga. Kalau anda memang cocok duduk di kursi dewan.” (DPRD maksudnya).

“Kenapa nggak dari dulu-dulu sih?”

“Saya yakin dan pasti anda pun ya agenda khusus saat menjabat di kursi dewan.”

“Ngomong-ngomong berapa dana anda habis untuk promosi sih. Tapi, anda kan di Radar Tarakan. enak dong iklannya gratis. Radar gitu loh. Wong Anda bosnya. Tinggal mengerahkan anak buah jadi deh. Anda bisa meraih suara banyak.”

“O, ya. Saya titip beberapa program ya. Jangan lupa selamatannya kalau benar-benar berhasil duduk di kursi dewan yang empuk itu. Jangan lupa lho.”

Sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal, saya jadi bingung bagaimana caranya menyela rekan saya saya ini yang kalau bicara mirip kereta api yang lagi lewat.

“Entar deh. Ini kita lagi ngomongin apa ya?” kata saya lagi.

“Ya, ampun. Ngomongin anda-lah. Kan anda caleg?” kata teman saya itu lagi.

“Caleg dimana dan partai apa?” kata saya lagi tambah bingung.

“Nih orang amnesia atau apa sih. Kan anda caleg. Itu balehonya dipasang besar-besar di depan salah satu restoran ternama di Jl Mulawarman itu lho. Kok anda nanya saya sih. Kan anda yang punya baleho,” tanyanya balik lagi.

Pecahlah suara tawa saya. “Kapan-kapan saya jadi caleg. Aktif di partai juga nggak. Saya masih di Radar Tarakan lho. Gimana sih.”

“Lho bukannya anda itu istrinya dokter. Kan ada tulisannya disitu. Terus kalau bukan anda siapa dong.”

“Ya, mana saya tahu. “

“Jadi cumi nih”

“Maksudnya”

“Cuma mirip,” katanya sambil menirukan tagline salah satu iklan.

Pecahlah tawa kami berdua. Karena teman saya itu salah mengira.

“Pakai jilbab bukan berarti saya lho. Kan banyak yang pakai jilbab. Lagian kapan waktu saya untuk mengurusi partai, mengurusi masyarakat, lha pekerjaan di Radar Tarakan juga banyak nggak ada berhentinya. Setelah mengurusi koran, saya mengurusi radio juga. Saat ini saya konsentrasi mengurusi pekerjaan dulu deh. “

“Tapi kan nggak apa-apa kalau suatu saat jadi caleg. Kan caleg perempuan harus menguasai dewan minimal 30 persen.”

“Kali…………. Suatu hari……….. Mimpi kali ye…..hehehehe.”

(Selamat berkampanye untuk para caleg. Semoga anda pilihan hati masyarakat berikutnya untuk duduk di kursi dewan)

17
Mar
09

Horeeee…. Nggak Byarpet Lagi

PER TANGGAL 10 Maret 2009 ini PLN menyatakan pemadaman listrik bergilir takkan adalagi. Eittttttttttttttttttt….. jangan senang dulu. Meskipun begitu bukan jaminan lho kalau pemadaman bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Artinya listrik belumlah aman.

Kita boleh kembali berbangga hati listrik takkan padam bergiliran dalam waktu dekat ini. Tapi…. masih ada PR besar yang harus dituntaskan segera. Bagaimana kelanjutan nasib listrik di Tarakan? Siapa investor yang akan menanamkan modalnya untuk listrik di Tarakan? Apa yang akan dilakukan walikota dan wawali baru Tarakan yaitu H Udin Hianggio dan Suhardjo Trianto.

Waktu terus berjalan. Jangan sampai terlena. Supaya kita tidak lagi mengalami pengalaman pahit byarpet listrik yang mempengaruhi imej Tarakan. bekerja-bekerja dan bekerja keras, bahkan lebih keras lagi, sampai tidur di kantor kalau perlu demi listrik Tarakan. Listrik Tarakan untuk kehidupan yang lebih baik. Jangan sampai telat. Dan ini berarti kita tak akan mengalami kesalahan-kesalahan serupa yang berulang-ulang.

(Saya memimpikan Tarakan sebagai Kota Cahaya. Gedung-gedung megahnya tiap malam ada atraksi sinar laser. Seperti di Hongkong itu. Wah, keren banget. Tapi kapan ya……)

17
Mar
09

Belajar Nyanyi dari @nima

SATU hal yang paling saya takutkan kalau sesi makan malam adalah didaulat untuk menyanyi. Masalahnya suara saya pas-pasan. Cempreng. Nggak karuan. Kalau disuruh memilih ya saya pilih ngacir malam itu, tapi kan nggak sopan.

Kebetulan saat makan makan malam bareng manajer dan vokalis @nima eh… kebetulan lagi bersamaan dengan manajemen Telkom. Tahu aja kan Pak Gunawan dan rekan-rekannya itu pada jago nyanyi semua. Kalah saya. Tapi karena di daulat nyanyi ya nyerahlah. Tapi saya bisa mengandalkan seseorang.
Ya, mas Wawan. Manajernya @nima. Dia manajer artis jadi tahu bagaimana menutupi kekurangan ataupun mempromosikan kelebihan anak buahnya, setidaknya pengalamannya itulah yang saya andalkan untuk menutupi suara cempreng saya. Sekalian numpang tenar neh… aji mumpung lah. Mumpung ada manajer siapa tahu jadi artis? Wah, nggak juga. Entar siapa yang ngeliput artisnya kalau kita juga jadi artis. Ya kan?

Jadilah saya menyanyi dengan Mas Wawan. Lagunya Republik. Judulnya wah udah lupa tuh… lagunya rada mellow gitu deh. Bait pertama sukses, selanjutnya sukses, begitupun refrain… pas balik lagi ke bait di atasnya oou… Mas Wawan melepas saya. Untung saya sudah menguasai nada-nadanya ya belajar dari Mas Wawan tadi. Ups… tepuk tangan dari hadirin membuat saya malu… eh… seneng ding.

Ending lagu itupun diakhiri manis. Sekali lagi tepuk tangan dari fans-fans saya yaitu rekan-rekan Radar Tarakan dan manajemen Telkom hehehe rada Ge-ER nih.

Mas Wawan juga sempat memuji. “Wah, nggak nyangka suaranya bagus juga tuh,” katanya.

“Thanks,” kata saya lagi. Padahal saya hanya mengikuti nada-nada awal dari Mas Wawan. Tanpa dia apajadinya saya. Berdiri mematung kali.

Duh, malunya. Tapi tetap berdiri tegak. Gue dikerjain Telkom neh. Gantian ngerjain manajer-manajernya Telkom ah… Pak Dadang nyanyi dong…. Beliaunya bagus kalau nyanyi lagu dangdut tuh.

Apapun itu saya mulai sadar ada bakat terpendam. Menyanyi. Kalau ikut les vokal makin bagus kali ya. Ketimbang sering mendengar orang menyanyi, dan selalu iri nggak bisa nyanyi, kenapa nggak sekali nyebur bisa nyanyi. Kan nggak malu-malu lagi kalau didaulat nyanyi. Tapi saya tunggu ajakan istri Pak Gunawan, bos Telkom itu sajalah. Les vokal bareng-bareng. (*)

17
Mar
09

Demi “Gong-XI”, @nima Rela Kepanasan

USAI manggung di SMPN 2 Tarakan, saya mengajak manajer (Wawan) dan vokalis @nima Band (Lucky Lukman) berkunjung ke hutan mangrove Tarakan. Asyiknya bersama mereka, keduanya rela menanti anak bekantan bernama Gong-Xi sambil berpanas-panas ria. Apa ya keistimewaan Gong-Xi sampai ditunggui artis ibukota?

Gong Xi, adalah nama salah satu anak bekantan (monyet berhidung mancung) penghuni hutan mangrove Tarakan. Kebetulan lahirnya bertepatan saat warga tionghoa merayakan imlek (tahun baru china). Selain Gong-Xi adalagi monyet muda “adiknya” namanya Fat-Choy. Saking penasarannya dengan bekantan muda inilah keduanya menanti kedatangan rombongan bekantan saat jam makan siang sekitar pukul 15.00.

Sebenarnya jam makan siang sudah lewat. Khusus jam 15.00 boleh dibilang makanan tambahan untuk bekantan. Apalagi kalau bukan pisang. Sejenis pisang sanggar yang masih mengkal.

Wawan mengatakan, kalau selama ini dirinya hanya mengenal bekantan sebagai maskotnya salah satu kawasan hiburan rakyat di Jakarta. Baru di Tarakan inilah dia melihat langsung bekantan.

“Wah. Bulunya warna kuning kemerahan gitu ya. kalau ditimpa sinar matahari jadinya seperti keemasan. Menarik ya,” kata Wawan.

Lain lagi Lucky yang maju mundur demi melihat bekantan. Saat rombongan bekantan lewat dia pun berseru. “Wuih ada bekantan yang besar sekali. Itu pemimpinnya ya,” kata Lucky bertanya pada penjaga.
Penjaga itupun berkata,” Bukan. Pemimpinnya yang bergelantungan di pohon di sebelah sana. Namanya Jhon.”

Baik Wawan maupun Lucky takjub sekali melihat bekantan dibiakkan di hutan Mangrove Tarakan. Cukup lama juga memerhatikan bekantan yang ketika dihitung jumlahnya sekitar 13 ekor ini menikmati tambahan makan siang. Saat yang bersamaan dua turis asing juga turut melihat dari dekat bekantan-bekantan tersebut.

Selain bekantan, Wawan dan Lucky juga suka melihat kepiting biru. “Ini kepiting yang kita makan tadi ya,” tanyanya kepada panitia.

“Oh, bukan. Kepiting yang tadi dari tambak, bukan dari hutan mangrove,” kata salah satu panitia yang membuat geer yang mendengarnya.

Sebelum ke hutan Mangrove, atau tepatnya saat tiba di Tarakan, panitia mengajak vokalis @nima dan manajernya itu makan di restoran kepiting terkenal di Tarakan dan sudah memiliki cabang di Balikpapan dan Surabaya. Keduanya menikmati kepiting asam manis, saos pedas dan lada hitam.

Keduanya pun mengaku sangat menikmati sajian kepiting yang di Jakarta yang harganya bisa berkali-kali lipat. Itupun dengan kepiting yang kurang segar karena sudah dimasukkan ke lemari es.

“Tarakan yang bikin kangen adalah kepitingnya. Seger, enak, fresh, gitulah. Boleh dibawa pulang nggak ya kepitingnya,” kata Wawan lagi.

Sementara Lucky tak bisa berkata-kata apa-apalagi. Saking enaknya menikmati kepiting asam manis. Wah, nggak terasa seporsi lebih dihabiskannya. Lucky… Lucky…. Hehehe.

(Senangnya melihat para tamu menikmati Tarakan. Ya makanannya, ya hutan mangrove-nya. Nggak sia-sia. Capek-capek persiapan panitia membuat acara bisa sirna dalam sekejap. Hayo….Siapalagi yang mau bertandang ke Tarakan?)




 

Maret 2009
S S R K J S M
« Jan   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Flickr Photos

More Photos

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 8,244 hits