“Selamat. Anda jadi caleg ya?” kata seorang teman kepada saya.
Saya pun bengong. “Hah??????”
“Sudah saya duga. Kalau anda memang cocok duduk di kursi dewan.” (DPRD maksudnya).
“Kenapa nggak dari dulu-dulu sih?”
“Saya yakin dan pasti anda pun ya agenda khusus saat menjabat di kursi dewan.”
“Ngomong-ngomong berapa dana anda habis untuk promosi sih. Tapi, anda kan di Radar Tarakan. enak dong iklannya gratis. Radar gitu loh. Wong Anda bosnya. Tinggal mengerahkan anak buah jadi deh. Anda bisa meraih suara banyak.”
“O, ya. Saya titip beberapa program ya. Jangan lupa selamatannya kalau benar-benar berhasil duduk di kursi dewan yang empuk itu. Jangan lupa lho.”
Sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal, saya jadi bingung bagaimana caranya menyela rekan saya saya ini yang kalau bicara mirip kereta api yang lagi lewat.
“Entar deh. Ini kita lagi ngomongin apa ya?” kata saya lagi.
“Ya, ampun. Ngomongin anda-lah. Kan anda caleg?” kata teman saya itu lagi.
“Caleg dimana dan partai apa?” kata saya lagi tambah bingung.
“Nih orang amnesia atau apa sih. Kan anda caleg. Itu balehonya dipasang besar-besar di depan salah satu restoran ternama di Jl Mulawarman itu lho. Kok anda nanya saya sih. Kan anda yang punya baleho,” tanyanya balik lagi.
Pecahlah suara tawa saya. “Kapan-kapan saya jadi caleg. Aktif di partai juga nggak. Saya masih di Radar Tarakan lho. Gimana sih.”
“Lho bukannya anda itu istrinya dokter. Kan ada tulisannya disitu. Terus kalau bukan anda siapa dong.”
“Ya, mana saya tahu. “
“Jadi cumi nih”
“Maksudnya”
“Cuma mirip,” katanya sambil menirukan tagline salah satu iklan.
Pecahlah tawa kami berdua. Karena teman saya itu salah mengira.
“Pakai jilbab bukan berarti saya lho. Kan banyak yang pakai jilbab. Lagian kapan waktu saya untuk mengurusi partai, mengurusi masyarakat, lha pekerjaan di Radar Tarakan juga banyak nggak ada berhentinya. Setelah mengurusi koran, saya mengurusi radio juga. Saat ini saya konsentrasi mengurusi pekerjaan dulu deh. “
“Tapi kan nggak apa-apa kalau suatu saat jadi caleg. Kan caleg perempuan harus menguasai dewan minimal 30 persen.”
“Kali…………. Suatu hari……….. Mimpi kali ye…..hehehehe.”
(Selamat berkampanye untuk para caleg. Semoga anda pilihan hati masyarakat berikutnya untuk duduk di kursi dewan)
0 Tanggapan ke “Dikira Caleg, Ternyata “Cumi””