Arsip untuk Juli, 2009

27
Jul
09

Repvblik Launching Album 27 Juli 2009

Aku dan Perasaan Ini
Cipt. Ruri Herdian Wantogia, Hexa Nanta, Hepi

Berulangkali kuyakinkan cinta ini
Kepadamu yang kupuja selama ini
Namun terus kau menghancurkan diriku
Cintaku…jiwaku…
Andai kau tahu cara yang telah ku tempuh
Demi mendapatkan utuhnya hatimu
Sampai-sampai kupertaruhkan diriku
Cintaku…jiwaku…

REFF:
Semoga kau mengerti
Aku dan perasaan ini
Harusnya kau sadari
Betapa besar cintaku ini

MULANYA saya tak tahu ada persahabatan khusus antara rekan-rekan di Radar Tarakan dengan Repvblik. Setahu saya, vokalisnya Ruri Herdian Wantogia sudah tiga kali ini wara-wiri mengisi acara Radar Tarakan di Berau dan Tarakan. Kalaupun bertemu dan ngobrol hanya say hello saja. Jadi, hanya sebatas artis dan penyelenggara acara.

Saya baru tahu ketika masih berada di Balikpapan, Ruri menelepon dan berharap saya bisa hangout bareng dengan rekan-rekan satu band-nya ketika saya tiba di Jakarta. Saya iyakan saja demi menjaga hubungan baik. Bukan hanya Repvblik, karena saya juga dipesani rekan-rekan EO Radar Tarakan untuk bisa bertemu dengan Daiz (manajer Saffe Band), Wawandatu (manajer @nima). Addhey, vokalisnya Saffe akan tampil di evennya Radar Tarakan 31 Juli nanti, sementara @nima tengah meluncurkan single Ramadan berjudul “Dekap Aku ya Allah.”

Saya dijemput Repvblik pukul 9 malam usai mereka mengisi acara di sebuah radio di Jakarta. Dua mobil menjemput di hotel di Jakarta, sampai-sampai saya berpikir nih yang artis yang mana ya? Karena biasanya saya dan rekan-rekan Radar Tarakan yang menjemput artis di Bandara Juwata Tarakan.

==Kok saya ngurusin artis juga sih? Ya, begitulah. Dengan catatan kalau tidak sibuk. Saya kebagian tugas menjadi guide, tempat makanan paling enak di Tarakan dimana aja, tempat belanja oleh-oleh khas Tarakan, sampai nama-nama bekantan (saya tahunya gong xi dan fat choi karena lahirnya pas imlek) di hutan mangrove. Hitung-hitung membantu teman-teman di Dinas Pariwisata Tarakan-lah promo Tarakan. Kadang juga promo Bulungan, Berau, Nunukan, Malinau dan KTT.
Saya senang kalau para artis itu komentar,”Tarakan bersih ya”. “Saya suka kepiting Tarakan enak ya, Kapah di Amal juga yummy.” Dengan begitu saya berharap mereka bisa bercerita kepada para artis lainnya. Kalau sewaktu-waktu diundang ke Tarakan atau ke wilayah utara Kaltim lainnya sudah familiar.
Tapi begitu ditanyai Tarakan kok sering byarpet listrik, wah, saya alihkan ngobrol yang lain. Paling apes ya bilang itu urusannya PLN-lah, kan PLN Tarakan sudah mandiri menjadi perusahaan sendiri. Kalau lagi nggak moody bicara soal listrik ya diam aja. ==

Saya satu mobil dengan Dimas (road manajer), Tyar (keyboard) dan Ruri (vokalis). Sementara di mobil lainnya ada Hexa (guitar), Lavy (bass), dan Ei (guitar). Semula akan hangout di Mall Taman Anggrek, tetapi berhubung menjelang jam tutup mall akhirnya makan malam di kawasan menteng.
Sepanjang perjalanan menuju Menteng saya sempat diperdengarkan lagu-lagu Repvblik yang bakal di-launching 27 Juli nanti di MU Café Jakarta. Ke-12 lagu itu terdapat di album bertajuk “Aku dan Perasaan Ini”.

“Mbak dengerin deh. Lagunya bagus nggak?” kata Ruri sambil menyuruh Tyar yang kebetulan menjadi driver untuk memutar CD Cassete di tape mobil.

Sampai tiga lagu saya dengarkan, kemudian saya pun berkata,”Ada lagu yang rada nge-beat nggak?” Dan Tyar pun memutarkan lagi beberapa lagu di antaranya.
“Semuanya bertema tentang cinta ya?” tanya saya kepada Repvblik. Dan dijawab serentak ya.

Perjalanan kebanyakan diskusi tentang lagu-lagu Repvblik. Anehnya, mereka menunggu komentar saya berikutnya seperti saya bagian dari personel band itu. Padahal, asli nih saya cuma pendengar yang baik saja. Sebab saya harus tahu siapa sajakah artis yang diundang EO Radar Tarakan, bagaimana lagunya, dan sebagainya. Supaya memudahkan saya berdiskusi dengan rekan-rekan di EO Radar Tarakan. Apakah lagu-lagu Repvblik bakal disukai penikmat musik tanah air? Semoga….. Saya sih tetap optimistis. Setiap band pasti punya pasar tersendiri dan fans tersendiri pula.

Pulang dari hangout, saya diberi tiga buah CD Casette album baru Repvblik “Aku dan Perasaan Ini” lengkap dengan tandatangan masing-masing personel. Usai mengantar saya ke hotel, Repvblik segera bergegas ke Bandung, mengingat pagi-pagi akan mengisi acara di sebuah mall di sana.
Ruri “Repvblik” akan hadir di Bulungan tanggal 2 Agustus nanti, dalam rangkaian Jalan Sehat HUT ke-8 Radar Tarakan hasil kerja bareng dengan Pemkab Bulungan. Dapatkan tiketnya di Kantor Biro Bulungan ya….

====000===

Repvblik kali pertama dikenal publik dengan hits mereka “Hanya Ingin Kau Tahu” yang sempat merajai radio chart nasional dan top downloaded ringbacktone sebuah operator seluler. Di medio 2009 ini Repvblik meluncurkan album bertajuk Aku dan Perasaan Ini dengan mengandalkan single “Tiada Guna Lagi”.

Aku dan Perasaan Ini merupakan curhatan Ruri (lead vocal), Hexa (guitar), Tyar (keyboard dan backing vocal), Ei (guitar) dan Lavy (bass). Terjadi perubahan personel sejak Uchiel (drum) mengundurkan diri, sehingga posisi drummer diisi oleh Bounty Ramdhan (additional musician). Sebagian besar lagu di album kedua Repvblik ini mewakili pengalaman kebanyakan orang dalam percintaan.
Single Tiada Guna Lagi menceritakan tentang seseorang yang menyesal karena telah melakukan kesalahan dan mengecewakan orang lain. Warna musik dari lagu ini sama dengan lagu-lagu dari album sebelumnya, Punya Arti (2007). Selain Tiada Guna Lagi terdapat lagu-lagu yang diperkirakan akan menyusul sebagai lagu yang mudah diterima pecinta musik pop tanah air yaitu Aku dan Perasaan Ini dan Masih Adakah Aku?

Penggarapan album dilakukan di Jakarta dan Bogor, kota kelahiran band yang dibentuk 5 tahun silam oleh Ruri dan Hexa. Proses rekamannya sendiri memakan waktu kurang lebih 2 bulan. Kental dengan nuansa pop, keduabelas lagu di album ini ditulis oleh personel Repvblik. Album Aku dan Perasaan Ini diharapkan mengulangi kesuksesan album terdahulunya karena tema dan nuansa musiknya yang sangat memasyarakat.

Beberapa lagu di album Aku dan Perasaan Ini adalah, Bukan Akhir Segalanya, Masih Adakah Aku?, Setelah Kau Pergi, Tiada Guna Lagi, Takkan Pernah, Aku dan Perasaan Ini, Adinda, Izinkan Aku Mencintaimu, Yang Kuingin, Perbedaan, Tak Harus Memiliki dan Karena Cinta. (anny_susilowati@yahoo.com)
NSP Repvblik (ring(spasi)on(spasi)kodelagu kirim ke 1212)

Bukan Akhir Segalanya 0910548 (versi 2 == 0910560)

Masih Adakah Aku? 0910549 (versi 2 == 0910561)

Tiada Guna Lagi 0910551 (versi 2 == 0910562)

Aku dan Perasaan Ini 0910553 (versi 2 == 0910563)

27
Jul
09

“Curhat” Diaransemen Ulang Charly ST12

Curhat
Cipt::::::Wowon

Malam ini ku mencoba
Buangkan resah di hatimu
Dan menangisku di pelukanmu
Dengan akan diriku
Kupandangai raut wajahmu penuh kedukaan

Kisahmu tlah merubah
Sifatmu yang lalu
Kini kau telah layu
Yang dulu bersemi
Akupun tak mengerti
Akan semua ini
Mungkinkah ini takdir yang harus kita jalani

REFF:::::::::::Bersama berdua menangis sedih
Menunggu cerita malam larutkan dalam mimpimu
Sedih sepi cepatlah berlalu sudah
Ku tak mau terulang
dan tak ingin terulang dalam hidupku lagi

ho…………………………………

LUAR BIASA! Semangat para personel Patent Band menembus dapur rekaman di ibukota negara. Episode demi episode kehidupan dijalani dengan penuh kesabaran. Perjuangannya dimulai ketika band ini rekaman di Sabah Record Malaysia. Mereka pun sempat melanglang buana ke negeri jiran, bahkan identik dengan band Malaysia. Meski hanya dikontrak satu album tetapi semangat bermusik mereka tak pernah padam. Mereka pun sering tampil di wilayah utara Kaltim. Saat tampil perdana di acara HUT-1 Radio Radar Tarakan tahun 2005, kemudian menjadi band pembuka juga di acara Radar Tarakan di Samarinda tahun 2008,

Saat konser di Samarinda itu, Patent Band disebutkan kalau band ini berasal dari Nunukan. Sempat ada teriakan huuu… perbatasan ni ye… dari penonton. Sepertinya imej Nunukan jelek sekali. Entah apakah karena selama ini imej yang ada Nunukan sebagai daerah transit Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dan sebagainya. Namanya daerah pemekaran, ya masih banyak yang harus dibenahilah. Saya kok yakin suatu saat Nunukan akan berkembang pesat. Kita tunggu saja komitmen pemerintahnya, masyarakatnya, pengusahanya dan semua elemen masyarakat Nunukan-lah.

Eiiiiiiiiiiiiiiiiit… jangan underestimate dulu (mengutip kata yang sering diucapkan Tukul di acara Bukan Empat Mata). Begitu Patent Band tampil dengan instrumen pembuka khas dayak, semua langsung merapat ke bibir panggung dan berdecak kagum. Tak lama kemudian, satu persatu lagu ciptaan Patent Band dinyanyikan.

Sempat ada aksi menyalakan korek api bersama dari penonton, tangan diatas dan badan digoyang ke kiri ke kanan mengikuti instruksi sang vokalis. Dari sisi kanan pagar pembatas jebol. Penonton dari luar yang penasaran dengan aksi Patent Band merangsek masuk. Giliran panitia dan aparat keamanan yang pontang-panting mengamankan. Konser berlangsung aman hingga usai.
(Wah, nggak mudah memang mengedukasi masyarakat untuk tertib. Pengalaman menunjukkan banyak makan hatinya. hehehe)

O ya, ada satu lagu milik band luar negeri, saya lupa judulnya dinyanyikan bagus banget oleh Patent Band. Menurut saya susah, karena nadanya tinggi-tinggi. Eh, di tangan Patent Band kok lagu itu terdengar nyaman di telinga. Penonton pun berlonjak dan gembira. Tak seperti yang dibayangkan. Aplaus meriah penonton mengiringi penampilan terakhir Patent Band.

Begitu turun panggung, para personel band ini langsung diserbu penonton. Ada yang berebut menyalami, ngajak foto bareng, tandatangan, sampai ngobrol. Semua pada nggak percaya band lokal memiliki permainan yang sangat bagus. Wah, panitia jadinya yang kewalahan. Bak artis ibukota malah. “Nunukan boleh juga ya,” kata salah seorang penonton.

Lainnya pun berteriak. “Hallo Nunukan. Bagus banget musiknya. Kapan ke Samarinda lagi?” Sementara lainnya berteriak, “Nunukan memang Patent.”

Wowon (keyboard), sempat terharu. “Senang bisa mengharumkan nama Nunukan di Samarinda. Tadi sempat deg-degan. Jangan-jangan kita dilempari batu. Ternyata kalau permainan musik kita bagus, publik Samarinda juga bakal menerima. Saya kira dimanapun berada, kita akan diterima dengan baik. Terimakasih Samarinda, Terimakasih Pemkab Nunukan dan terutama terimakasih Radar Tarakan. Sungguh kenangan tak terlupakan di Kota Tepian Samarinda, 26 November 2008.

MENAKLUKKAN IBUKOTA
Seiring waktu mereka bisa memperdalam teknik bermusik dan olah vocal dengan Baron (eks bassist Gigi) di Jakarta. Bolak balik ke Jakarta sampai akhirnya benar-benar memutuskan hijrah (sementara) mengadu nasib di ibukota. Nasib baik tengah berpihak ke mereka justru di tengah kabar duka teror bom di Jakarta 17 Juli 2009. Ya, di tanggal bersejarah itulah mereka resmi digandeng Nagaswara, perusahaan rekaman yang menaungi beberapa artis sebut saja Wali, Kerispatih, T2, Merpati, The Rain, Hello, The Sister dll.

Ketika pagi-pagi disambangi penulis di kos-kosannya di wilayah Tangerang, Patent Band baru bangun dari tidurnya. Maklum, rapat dengan tim dari Nagaswara sore harinya ternyata hingga malam. Kos-kosannya sederhana. Hidup mereka pun menjadi sederhana, saling bantu satu sama lain. Tak ada yang berubah, mereka tetap kompak.

Patent Band kini dengan formasi baru, yang terdiri dari Wo2nt (keyboard), Iwan (vocal), Fadly (drum), Dedy Syahrani (bass), Naldy (gitar), dan Ilyas (gitar). Kini mereka tak melulu sejumlah anak band dari Nunukan, justru formasinya mengarah dari seluruh utara Kaltim.

Sungguh mereka sangat beruntung. Dahulu ketika di Samarinda dia menjadi band pembuka konser ST 12. Kini justru sang vokalisnya Charly bakal menjadi produsernya. Bahkan khusus untuk lagu curhat bakalan diaransemen ulang oleh Charly. “Kita juga tak menyangka, pas demo lagu kebetulan ada Charly. Dia (Charly maksudnya) langsung menawarkan diri ya surprise bangetlah kita. Padahal orang ngantri bisa bekerjasama dengan Charly,” kata Wo2n’t lagi.

Usai tandatangan kontrak, kini mereka tinggal take vocal bersama Charly. Kemudian menggarap video klip dan lain-lain. Bagaimana rasanya ditangani artis ibukota? Wo2n’t dan lainnya berujar sangat bersyukur atas karunia Allah SWT. Tidak lupa juga kepada beberapa orang yang telah berjasa mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan.

“Terimakasih untuk all crew Radar Tarakan yang selalu support kita, Pemda Nunukan dan jajarannya, serta Pemkot Tarakan dan jajarannya, rekan-rekan di Tarakan, Nunukan, Bulungan., Malinau, Berau dan KTT serta terimakasih pula untuk H Momo Sebatik dan siapa saja yang selalu mendukung Patent Band. Mohon doanya semoga Patent sukses,” kata Wo2nt mewakili rekan-rekannya.
Bagaimanakah album Patent Band berikutnya, kita tunggu saja. Semoga masih banyak anak-anak band di utara Kaltim yang mengikuti jejak Patent Band menelurkan album-album baru dan meramaikan jagat musik tanah air. (anny_susilowati@yahoo.com)

24
Jul
09

Firasat Itu…

Pekan lalu saya berada di Balikpapan, Jakarta, dan Samarinda. Justru ketika bom meledak di JW Marriot dan Ritz Carlton, saya tengah berada di Jakarta. Berikut kisahnya:

USAI rapat di Balikpapan, karena ada urusan lagi saya bertolak menuju Jakarta (Kamis, 16/7) dengan Mandala Airlines. Tak ada firasat apapun terkecuali ibu saya di Balikpapan yang agak keberatan dengan keberangkatan saya kali ini. Meski sudah saya tenangkan bahwa saya akan baik-baik saja, tapi ibu tetap saja khawatir.

“Jakarta itu kan belum aman. Banyak bom di sana. Jangan ke sanalah mbak,” kata ibu saya berharap saya membatalkan perjalanan.

Saya pun berusaha meyakinkan ibu saya, ”Bu, aparatnya kan ada. Jakarta amanlah. Kalau mati kan bisa kapan aja, di mana saja. Meski kita berada di gedung tinggi, atau berlindung di balik tembok besar sekalipun, kalau kematian datang ya pasrah saja. Takdirnya begitu bagaimana lagi.”

Tapi, bukannya reda, kekhawatiran ibu saya bertambah. Ibu menggeledah seluruh tas saya. Parfum, gunting kecil, pemotong kuku, peniti jilbab, bros, wah semuanya dilarang dibawa. Waduh, ibu saya “lebih galak” ketimbang petugas bandara.

“Bu, bismillah saja. Terserah Allah-lah, apakah ingin saya hidup atau mati,” kata saya lagi. “Zikir terus ya, jangan tidur saat di pesawat, zikir di mana saja. Bismillah ya,” kata ibu saya saat melepas saya terbang dari Bandara Sepinggan Balikpapan.

Karena menggunakan pesawat Mandala, maka ketika tiba langsung menuju terminal 3 atau C Bandara Soekarno Hatta, yang beberapa waktu lalu diresmikan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Bandara itu…. Megah, modern, elegan, itu kesan pertama saya. Kapan ya Bandara Juwata Tarakan semegah itu? Beberapa penumpang yang baru tiba dan tengah menunggu bagasi tampak menggunakan masker, antisipasi flu babi. Maklum sudah banyak jatuh korban di ibukota negara ini gara-gara virus tersebut. Tetapi lebih banyak yang tak menggunakan masker, termasuk saya.

Dari bandara, saya memilih naik taxi bandara menuju hotel Ibis –jaringan hotel Accor internasional—di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Karena lebih dekat ke Gedung Graha Pena Jakarta. Sehingga saya bisa bertemu dan koordinasi dengan wartawan Radar Tarakan, Rustam, yang sudah 3 bulan ini mengikuti pelatihan di Jawa Pos News Netrwork (JPNN) Jakarta. Secara rutin per tiga bulan Radar Tarakan mengirimkan wartawan terbaiknya ke Jakarta untuk meliput kegiatan kepresidenan dan lembaga-lembaga lainnya. Bergabung dengan tim dari Kaltim Post Group dan Jawa Pos Group lainnya.

Selama berada di taxi saya asyik membalas dan menerima telepon serta SMS, membalas email yang masuk dan juga facebook-an. Merasa aman saja. Ketika taxi tiba-tiba merayap lantaran macet, saya terpana melihat Hotel Ritz Carlton. Ini nih hotelnya (tempat menginap) Manchester United (MU) yang akan bertanding melawan Indonesian All Stars (IAS). Tapi ada yang aneh…. Apa ya?????? Ah… saya berusaha menepis. Saya melanjutkan aktifitas nge-facebook sampai tiba di hotel.

Malamnya sempat dihubungi manajemen band Repvblik dan sempat hangout bareng. (saya akan menuliskannya secara terpisah). Rustam dan rekan wartawan Kaltim Post Group giliran berikutnya yang saya temui. Akhirnya kita pun hangout lagi di kawasan Kemang. Kebetulan ada Kemang Food Festival. Diskusi sambil makan malam lagi sampai pukul 01.00 dinihari.

Berpisah dengan rekan-rekan saya, saya masih terbayang Ritz Carlton hingga saya kembali ke hotel untuk beristirahat? Ada apa ya dengan Ritz Carlton. Mata ini tak bisa terpejam hingga pagi. Usai salat subuh kantuk tak tertahankan lagi. Beberapa jadwal sudah tersusun rapi. Tapi pagi itu saya malas kemana-mana, inginnya tidur terus.

Jam menunjukkan pukul 08.00 WIB (pukul 09.00 Wita), tiba-tiba ada suara berbisik ke telinga saya, ”Ada gempa.” Saya sempat menoleh ke kanan dan ke kiri siapa yang berbicara. Nggak ada orang. Wah… saya hendak keluar kamar. Tapiiiii bukannya bergegas ke pintu saya buru-buru menyalakan televisi. Oh, ya Allah, ada breaking news ledakan di JW Marriot dan Ritz Carlton. Waktu itu masih diberitakan genset meledak bukan bom. Saya pun sibuk gonta ganti channel teve. Rustam wartawan Radar Tarakan yang saya telepon ternyata sudah menuju ke lokasi ledakan.
Melihat situasi dan kondisi Jakarta saat itu saya memilih tak beraktifitas dahulu. Istirahat saja di dalam kamar. Sambil terus memantau perkembangan, termasuk ber-facebook. Rata-rata semua teman di-facebook dalam status prihatin teror bom Jakarta. Tetapi adapula yang menuliskan dengan nada miris. “Kita ini sedih karena banyaknya korban bom atau sedih lantaran Manchester United (MU) batal ke Indonesia?”.

Menjelang siang baru telepon demi telepon berturut-turut masuk mempertanyakan keberadaan saya. Saya jawab, saya berada di Jakarta Barat sementara bom meledak di kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan. Ada juga yang iseng. Begitu menelepon dan saya menyahut langsung berucap syukur. “Oh, berarti sampean selamat, mbak. Kalau masih bisa menerima telepon. Tadi soalnya saya hubungi beberapa kali nggak bisa nyambung. Kirain jadi korban bom.” Wahhhh… perhatian banget. Berarti saya masih disayangi rekan-rekan saya di Radar Tarakan, Alhamdulillah.

Menjelang sore, Wowont, salah satu personel Patent Band –band Nunukan yang pernah rekaman di Sabah Record Malaysia—menelepon saya. “Mbak kita lagi tandatangan kontrak di Nagaswara? Mbak di mana? Kunjungi kita ya mbak, jangan pulang dulu ke Kalimantan,” katanya.
“Nagaswara??? Wow, keren banget. Berarti satu perusahaan rekaman dengan Wali, Kerispatih, T2, The Virgin-The Lucky Laki —(Swara Dewa Naga)–, sama siapa lagi ya. Keren….selamat…selamat…nggak sia-sia ya. Tinggal selangkah lagi perjuangan, ayo, ayo semangat-semangat,” kata saya lagi.

Tanggal 17 Juli 2009 bukan hanya hari di mana Jakarta diteror bom, tetapi juga hari bersejarah bagi grup band asal Nunukan tersebut. Saya memandangi jendela dan di luar pemandangan masih saja sama gedung-gedung bertingkat dan lalu lalang kendaraan yang seakan tak pernah sepi. Hingga malam, Rustam dan rekan-rekan wartawan tak pernah bisa lagi saya temui. Mereka semua sibuk di media centre, di lokasi ledakan, di rumah sakit, bandara dan lainnya.

Sabtu-nya saya mampir ke Tangerang janji bertemu dengan personel Patent Band. (Bagaimana serunya bertemu dengan anak-anak muda ini ikuti cerita bersambungnya).

Minggu (19/7) pukul 4 dinihari saya check out dari hotel lalu dengan taksi Bluebird menuju Bandara Soekarno Hatta. Penjagaan di bandara ini jauh lebih ketat dari sebelumnya. Bahkan sepatu pekerja proyek pun harus dicopot dan di-X-ray. Saya sempat bertanya ke petugas, apakah saya harus mencopot sepatu juga. Dia mengatakan tidak. Sejenak menikmati megahnya bandara di terminal 3 atau C ini sampai akhirnya terbang dengan pesawat Mandala Airlines menuju Balikpapan. Saya singgah sebentar di rumah di Balikpapan dan melanjutkan perjalanan ke Samarinda.

Ketika kembali ke Tarakan saya menjadi sering waspada. Ada orang tak dikenal saya merasa waswas, ngeliat seseorang membawa ransel dan berpakaian serba hitam langsung bertanya-tanya, padahal saya sendiri suka warna hitam hehe. Makan siang di sebuah hotel dan tengah memarkir mobil di basement-nya mesti ngeliat dulu ke sekitar. Teman-teman saya lalu mengingatkan, ”Mbak, ini Tarakan bukan Jakarta kali.” Yah, siapapun tak ingin negerinya terkoyak oleh bom. Jadi teringat pesan Bang Napi di salah satu teve swasta,” Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tetapi karena ada kesempatan. Waspada, waspadalah.”

Bom itu sungguh merugikan banget. Kalau tiket ke surga harus dengan terlebih dahulu mati dengan bom bunuh diri, ah…ogah. Bodoh banget!!!. Enak dong. Nggak perlu kerja keras siang malam, nggak perlu capek-capek, no way!!!! Bekerja keraslah untuk duniamu, akhiratmu, bangsa dan negaramu, perusahaanmu, dan untuk dirimu sendiri. Sehingga karya-karyamu bisa dinikmati anak cucumu (generasi berikutnya) kelak. Itu pesan ibu saya. (anny_susilowati@yahoo.com/sudah terbit di Radar Tarakan edisi 24 Juli 2009)




 

Juli 2009
S S R K J S M
« Mar   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Flickr Photos

More Photos

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 8,244 hits