13
Feb
08

Naik Speed Bersama Kambing ke Malinau

NAIK speed bersama artis, saya sih sudah pernah. Bersama Ayu Azhari dan pelantun tembang “Denpasar Moon” Maribet ke Nunukan 2002. Kemudian menemani Puteri Indonesia 2004 Melanie Putria (Imel) juga ke Nunukan mengunjungi barak TKI di Mambunut. Pun beberapa kali perjalanan menggunakan speedboat ke Bulungan-Nunukan-Malinau, speed kecil Sebatik-Tawau PP saat heboh-hebohnya kasus Ambalat, perahu kecil Long Midang-Desa Pa’Raye (Krayan) pulang pergi, pesawat kecil Long Bawan (Krayan)-Tarakan, naik ojek Long Bawan-Long Midang, menyusuri hutan Kayan Mentarang semuanya sudah pernah. Tapi naik speed bersama kambing, baru kali ini saat beberapa waktu lalu saya ke Malinau. Gimana ceritanya?
Gara-gara telat bangun setelah begadang semalaman, akhirnya saya pun hanya bisa pasrah saat dapat tiket speed yang hendak ke Malinau menjelang siang. Saya tetap harus ke sana, karena sudah telanjur janji untuk briefing rekan-rekan di Biro Malinau. Syukurlah cuaca cerah sekali, meski ada bayang-bayang mendung nun jauh di langit. Begitu memasuki speed, saya harus melewati 2 speed sebelumnya yang bersandar.
Duh, lupa, kenapa pakai sepatu hak tinggi dan pakaian kerja formal. Biasanya saya cukup pakai sepatu kets dan busana casual. Yah, namanya buru-buru. Rada takut-takut juga. Sebab naik turunnya ke speed-speed itu harus meminta bantuan awak kapal. Akhirnya saya duduk juga di kursi kedua dari depan setelah bersusah payah. Bisa dipahamilah, karena Pelabuhan Tengkayu tengah perbaikan. Biasanya kedatangan dan keberangkatan dibedakan lokasinya. Tapi kali ini menumpuk di satu tempat. Antrelah.
Lagi memperhatikan speed-speed lain bersandar, saya mendengar suara anak ayam. Saya tengak tengok, oalah, dari kardus-kardus berisi anak-anak ayam tersusun rapi di atap speed sebelah. Sempat geli sih. Ini speed penumpang kok dimuati binatang peliharaan ya.
Tak berapa lama, speed yang saya tumpangi segera berangkat. Tapi mampir sejenak ke sebuah kapal yang tengah bersandar. Ada muatan kambing yang ikut di atap speed. Kontan penumpang speed tertawa.
“Entar kalau kambingnya kencing, bisa basah semua nih penumpang,” celetuk salah seorang penumpang yang disambut geer yang lain.
Dan, speed pun melaju. Suara kambing yang mengembik pun menjadi bahan guyonan sesama penumpang speed kala itu.
Speed sempat merapat di Bebatu, hujan gerimis sekali lagi sempat membuat kambing mengembik. Dan lagi-lagi menjadi bahan tertawaan. Wah, mimpi apa ya, satu speed bersama kambing. Hehehehe.
Saya sih hanya memikirkan kira-kira kambing ini akan dibawa ke mana ya? Siapa pemiliknya? Kambing ini naik speed tiketnya berapa ya? Termasuk asuransi kecelakaan nggak ya? Kalau terjadi kecelakaan misalnya, mana yang didahulukan diselamatkan, kambing atau manusia? Masih banyak pertanyaan lainnya. Ah, pusing.
Tapi kalau kambing ini dimasak enak kali ya. Bisa kambing guling, gulai kambing, sate kambing, soto kambing, dendeng kambing, rendang kambing dan lain-lain olahan masakan dari kambing. Lagi asyik-asyiknya melamun perut saya keroncongan. Emang belum sarapan dari pagi. Wah, untung saja speed merapat ke Sesayap. Disini, ada penjual nasi udang yang berjejer. Harganya pun terjangkau. Hanya Rp10.000 per bungkus. Sudah termasuk nasi, udang goreng, sambal dan segelas air mineral. Rasanya? Wah, enak banget. Nasinya masih hangat, udangnya lezat, sambalnya pedes banget. Apalagi dimakan pas lagi lapar-laparnya. Enak banget. Lumayan sejenak wisata kuliner sebelum menuju ke Malinau.
Dari Sesayap, perjalanan masih 1 jam lagi. Saya masih penasaran dengan kambing diatas atap speed. Karena tak bisa melihat bagaimana kondisinya. Tarakan ke Malinau ditempuh selama 3 jam. Bisa dibayangkan capeknya sepanjang perjalanan. Untung ada hiburannya kambing selain pemandangan sepanjang perjalanan. Begitu merapat ke pelabuhan Malinau, rasa penasaran saya nggak habis-habisnya. Ternyata, selama 3 jam perjalanan itu kambing dibungkus karung beras dan diikat. Hanya kepala, dan kaki-kakinya saja yang kelihatan. Duh miris, kasihan kau kambing.
“Mbak, cepetan, kok ngelamun sih. Gara-gara kambing nih,” kata rekan saya di Malinau yang sudah datang menjemput.
Karena kebetulan juga ada janji, wah, terpaksa saya merelakan kambing ini. Padahal menurut beberapa warga di pelabuhan Malinau, inilah kali pertama kambing naik speed. Biasanya naik kapal. Sebegitu pentingnyakah kambing ini sehingga speed yang notabene untuk manusia pun harus dikalahkan dengan keberadaan kambing.
Pun begitu pulang dari Malinau, lagi-lagi saya naik speed miring. Kok miring? Iya, kelebihan barang yang ditaruh di atas speed. Ibu-ibu yang satu speed dengan saya sempat khawatir yang menyuruh sebagian penumpang untuk mengisi kursi kosong di sebelah kanan, nyatanya tak menolong juga. Speed tetap miring ke kiri hingga ke Tarakan. Untungnya cuaca cerah dan ombak tak terlalu besar.
(anny@radartarakan.com)


0 Responses to “Naik Speed Bersama Kambing ke Malinau”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2008
S S R K J S M
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: