13
Feb
08

Nyaris Celaka, Kapal Miring Dari Tawau

Ini cerita lain lagi. Saat saya pulang dari Kota Kinabalu (KK) ke Tarakan pertengahan Desember tahun 2006 lalu. Subuh dari KK langsung terbang ke Tawau. Dari sini sejenak beristirahat sambil cap paspor dan tiket. Kebetulan saya waktu itu bersama rombongan Medco E&P Tarakan. Seingat saya, ada tiga kapal yang merapat di Pelabuhan Tawau. Nah, kapal yang akan saya tumpangi berada di tengah-tengah. Berarti saya harus melewati satu kapal, tapi penumpang di kapal ujung rupanya hendak keluar karena baru juga merapat. Sempat ada aba-aba agar penumpang kapal di ujung jangan keluar dulu, kapal di tengah akan segera berangkat dan melepas tali. Tapi apa daya, penumpang kadung tumplek blek di kapal di tengah. Jadilah kapal di tengah ini miring. Saya yang berada di pinggir kapal pertama yang juga ikut-ikutan miring karena sarat penumpang yang akan memasuki kapal di tengah sempat akan tercebur. Untungnya ada buruh yang sigap dan memepet saya agar tak jatuh. Memang tak jatuh, tapi jidat saya kejeduk kapal. Duk… waduh… benjol deh.
Situasi camuh, kapal miring membuat beberapa penumpang kapal menjerit-jerit. Tak ada pilihan. Saya harus masuk ke kapal yang miring itu dengan harapan kapal segera berangkat dan lepas dari situasi seperti itu. Dipandu anak buah kapal saya masuk. Wuih, penuh. Kok bisa? Padahal untuk rombongan tour biasanya ada kursi khusus. Ternyata bersamaan dengan rombongan Malaysia yang hendak ke Tarakan. Parahnya, kursi-kursi yang ada juga ditempati barang-barangnya. Kenapa nggak diatur sih, kursi ya untuk penumpang, barang ya ditaruh di tempat barang. Saya hanya bisa berdiri di tengah-tengah ruangan kapal. Disini banyak sekali barang. Banyak penumpang tak mau berbagi kursi dengan penumpang lain. Terlihat beberapa malah mendekap erat barang-barangnya di kursi penumpang. Ironis.
Jerit tangis penumpang masih terdengar. Penumpang masih terus masuk ke kapal. Saya sempat berdiskusi dengan rombongan tour dr Ronny dari Medco. “Kita semua keluar aja Mbak. Situasi nggak memungkinkan full barang dan manusia,” katanya.
Saya hanya mempersilakan Pak dokter dan rombongan untuk berpisah, sementara saya lebih tertarik untuk tetap di kapal hingga sampai ke Tarakan. “Biar barang-barangnya saya yang jaga. Saya dijemput teman-teman di Tarakan,” kata saya pelan.
Ketika dr Ronny melangkah keluar, kapal sudah berlayar tapi miring. Saya harus menjaga keseimbangan. Saya mengirim pesan pendek (Short Message Service) ke teman-teman di Radar Tarakan. Supaya kalau terjadi apa-apa mereka tahu. Perjalanan ke Tarakan dengan kapal miring selama 3 jam sempat membuat ketar ketir. Sebagian rombongan Medco E&P Tarakan yang terpisah, akhirnya menyeberang ke Nunukan. Dari Nunukan naik pesawat ke Tarakan.
O, ya, di tengah perjalanan sempat ada penumpang meminta agar penumpang yang menempatkan barang-barangnya di kursi agar menaruh barangnya di lantai, sehingga penumpang lain yang tidak kebagian bisa duduk, penumpang yang menumpuk disisi kanan juga bisa pindah ke kiri. Tapi tetap saja kapal miring kelebihan muatan barang. Di belakang tempat penumpang, masih ada barang. Sempat terjadi cekcok antara seorang ibu pemilik barang disitu dengan petugas kapal. Rupanya si ibu ini diketahui tak memiliki tiket. Kok bisa, ya? Saya hanya menguping pembicaraan mereka yang akhirnya diselesaikan dengan damai. Padahal saya untuk mendapatkan tiket saja, harus memiki paspor, harus antre di pelabuhan tawau, harus rela berdesak-desakan dengan buruh pembawa barang.
Duh, kenapa kapal ini full barang sih? Nyawa manusia nggak ada artinya. Kesel, jengkel, peluh berjatuhan, bau pesing lagi, semuanya saya sampaikan via sms ke teman-teman.
“Mbak, kalau barang dibawa lewat laut dengan kapal barang kan banyak ditangkap aparat. Makanya menyiasatinya dibawa dengan kapal penumpang. Iya, kan?” katanya yang setengah mengagetkan saya. Benarkah? Tapi setelah saya pikir-pikir, aparat juga nggak bisa disalahkan. Lha kan tugasnya menjaga laut perbatasan. Melintas bawa barang tanpa izin ya ditangkap.
Saya hanya bertanya-tanya mengapa ya nyawa manusia tidak lebih penting. Tidakkah cukup kejadian kecelakaan akhir-akhir ini menjadi pelajaran untuk memperbaiki sistem transportasi kita. Seharusnya sistem transportasi kita bisa menjadi contoh bagi daerah lain. Bukannya kita meniru mereka. Lha kan yang tahu bagaimana situasi dan kondisinya di daerah kita sendiri. Ah, seandainya naik speed atau kapal membuat penumpang merasa tetap nyaman. (anny@radartarakan.com)


0 Responses to “Nyaris Celaka, Kapal Miring Dari Tawau”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2008
S S R K J S M
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: