18
Feb
08

Si Mbah Penjaja Gorengan

“Dhenok mau beli kue kah? Sanggar sama ote-otenya masih panas. Baru digoreng,” kata seorang nenek tua yang menjajakan dagangannya usai magrib di halaman parkir Gedung Silver.
“Boleh deh, Mbah,” jawab saya singkat.
Dhenok, itu adalah nama panggilan untuk saya dari si Mbah penjaja gorengan. Tapi biasanya, dalam tradisi jawa, dhenok itu adalah nama panggilan untuk anak kecil perempuan. Dulu ketika saya bertanya pada ibu saya yang orang Jogya itu kenapa saya dipanggil dhenok, padahal nama saya bukan itu. Dengan halus ibu saya bilang, dhenok itu nama panggilan untuk anak kecil perempuan yang tubuhnya gendut, pipinya tembem, ngegemesin, ya kayak kamu itu. Makanya, kata ibu saya lagi, saya dipanggil dhenok. Hehehehe.
Hari itu padat aktifitas. Dari pagi sampai sore rapat terus sampai saya lupa makan. Kalau sudah begitu, saya malas kemana-mana. Saya pilih makan apa aja yang penting halal di dekat kantor. Di depan kantor Nunukan Sakti –tetangganya Radar Tarakan—kini tiga pedagang. Yang satu penjual nasi goreng, yang satunya lagi penjual minuman. Masih ada satu lagi, warung bentukan intern karyawan radar tarakan tapi letaknya di dalam halaman parkir.
Kebetulan rekan-rekan saya juga ikutan bergabung, jadilah arena halaman parkir menjadi tempat diskusi menarik. Dan ups… ketika tengah menyeruput kopi hangat, mata saya tertuju pada si Mbah yang duduk ndeplok di lantai paving di dekat tempat duduk saya. Saya sempat keselek dan terbatuk-batuk.
“Duh, astagfirullah Mbah. Saya lupa saking asyik ngobrol. Maaf-maaf Mbah. Saya minta ote-ote dan sanggarnya ya Mbah,” kata saya sambil memilih jajanan dan sejurus kemudian membayarnya dengan lembaran Rp20.000.
“Alhamdulillah ya Allah, akhirnya ada yang beli daganganku hari ini. Terimakasih ya Allah,” katanya sambil menciumi uang yang saya berikan.
Deg. Jantung saya seperti berhenti berdetak. Pemandangan di depan saya barusan sungguh mengharukan. Seolah-olah dalam sekali si mbah mengucapkan Alhamdulillah. Lafal yang berarti ucapan syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT selama ini. Dalam banget. Terasa menyentuh hati. Lafal yang seperti tenggelam bersama dengan kesibukan saya akhir-akhir ini. Ya, Allah. Dia seperti malaikat yang tiba-tiba datang mengingatkan saya. Sudahkah anda bersyukur hari ini?
Saya masih terdiam dan mengamati si mbah itu ketika satu persatu tangannya menyimpuni dagangannya. Merapikan penutup ember yang seperti bakul dan menggendongkannya di punggung. Mirip mbok jamu langganan saya.
“Kenapa to Mbah, kok sepertinya senang betul dagangannya saya beli. Kan saya cuma ngasih uang Rp20.000. Tapi ucapan mbah barusan, Alhamdulillah itu dalaaaaaaaaam banget?” kata saya memberanikan diri bertanya ditengah kegembiraannya mendapatkan selembar uang dua puluh ribuan.
“Aku tadi sudah jalan jauh. Kok tumben hari ini nggak ada yang beli daganganku. Mana kakiku rasanya capek betul. Pas lewat depan Radar saya lihat dhenok, eh mbok menowo (siapa tahu/bahasa jawa red.) mau beli,” katanya si mbah itu menerangkan.
“Ooo…,” kata saya sambil manggut-manggut.
“Ini kembaliannya,” kata si Mbah yang sampai sekarang saya nggak tahu siapa nama aslinya. Biasanya saya dan teman-teman memanggilnya dengan sebutan mbah.
“Nggak usah. Buat besok aja, mbah datang lagi ya. Saya tunggu, daaaa mbah,” kata saya sambil berlalu karena ada panggilan telepon masuk.
Kata rekan-rekan saya, si mbah itu rumahnya di sekitar perumnas. Menjelang sore setiap harinya dia berjalan kaki menjajakan dagangannya. Sebenarnya dia tinggal dengan anaknya, tapi si mbah ngotot nggak mau membebani anak dan menantunya. Dia memilih bekerja dan bekerja, walaupun itu hanya menjajakan gorengan. Baginya, berjualan keliling dengan berjalan kaki sekaligus menyehatkan badan. Hal itulah yang membuatnya bahagia. Bisa bertemu banyak orang, bisa bercerita tentang kenangan masa mudanya, dan masih banyak lagi.
Tapi, sampai kapankah si Mbah akan berjualan terus. Tidakkah usianya kian renta? Apakah seperti ini nasib orang-orang tua di Tarakan? Wajah keriput, mata tirus, tubuh kurus, rambut memutih, kian lama kian terpinggirkan. Apakah semuanya akan berakhir di panti-panti jompo? Sepi, sendiri, tanpa kasih sayang keluarga terdekat, menjelang ajal menjemput.
Tak bisa dipungkiri kemajuan sebuah kota meninggalkan sebuah ironi kaum terpinggirkan. Salah satunya ya seperti si Mbah itu. Ya, hari gini mana ada perusahaan yang mempekerjakan orang-orang tua, semua mempersyaratkan muda, laki-laki atau perempuan, baru lulus sekolah, dan sebagainya. Ah, dunia, dunia. (anny@radartarakan.com)


0 Responses to “Si Mbah Penjaja Gorengan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2008
S S R K J S M
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: