19
Feb
08

Alamak, Ngobrol kok di Tengah Jalan

Keliling Tarakan, Belajar Mengemudi Mobil (1)

Biasanya disopiri, sekarang saya membawa mobil sendiri. Ingin mandiri? Nggak juga. Lagi pengen aja. Soalnya kalau lagi bosan naik mobil, ya saya naik ojek, naik angkot, atau minta antar teman-teman naik motor. Ya, suka-sukalah. Karena menurut saya apapun alat transportasinya pasti punya kisah tersendiri untuk dituangkan ke dalam tulisan.
Sebenarnya sejak lama ingin mengendarai mobil sendiri hanya tidak sempat untuk kursus mengemudi. Sampai suatu ketika deadline dari kantor pusat bahwa saya harus bisa mengemudi sendiri atau mobil akan ditarik, baru deh kalang kabut. Belajar sana sini dengan teman satu kantor. Sampai akhirnya pede bawa mobil sendiri. Bukannya di jam-jam sibuk jalanan, melainkan berangkat dari rumah pukul 4 atau 5 pagi, kemudian pulang ke rumah pukul 1 dinihari.
Suatu ketika pertengahan Desember lalu, saya telat bangun pagi dan hujan, nekat ke kantor mengendarai mobil karena sudah ditunggu relasi. Kejadian deh, nabrak mobil yang tengah parkir di Jl Sudirman. Waktu itu jam-jamnya sibuk pulang anak-anak sekolah. Berurusan di kepolisian tentu saja, sampai akhirnya keputusan saya harus siap mengganti kerusakan mobil.
Kapok? Nggak sih. Penasaran iya. Kok bisa nabrak ya. Pikir saya. Padahal saya sudah berada di jalur yang benar. Kok bisa nabrak ya. Masih untung tak ada korban jiwa, hanya kerusakan mobilnya salah seorang pengacara Tarakan. Spion kanannya hancur dan body kanan mobil tergores. Duh, kalaulah ada sidang yang tertunda, pastilah gara-gara saya sehingga Pak Pengacara itu harus berada juga di kepolisian untuk dimintai kesaksian. Apakah hanya cukup dengan mengganti saja? Tidak. Saya harus kursus mengemudi. Waktunya? Ini dia. Harus ada jadwal rutin yang dikorbankan. Apakah hanya ini saja pengorbanannya? Tidak. Bonus akhir tahun saya dipotong untuk biaya kursus mengemudi, gaji saya juga siap-siap dipotong untuk mengganti biaya bengkel. Terkesan habis-habisan? Yup, untuk menebus rasa bersalah, sekaligus penasaran. Saya harus bisa mengemudi. Bukan asal mengemudi, tapi bagaimana mengemudi aman, nyaman dan beretika di jalanan. Satu-satunya jalan ya kursus.
Saya mengambil kelas khusus dengan 24 kali pertemuan. Setiap hari pertemuan selama 1 jam belajar mengemudi. Teori sekaligus praktek. Saya juga meminta kelas tambahan untuk sesi mobil pribadi. Biasanya kalau disopiri aktifitas saya didalam mobil ya dengerin musik, ber-HP ria, SMS-an, baca koran atau majalah bisnis. Pokoknya apa yang terjadi di luar mobil cueklah, kan ada sopir. Tapi begitu bawa mobil sendiri ya otomatis keadaan di luar harus saya perhatikan semuanya.
Pertama kali kursus langsung dibawa ke jalan raya yang ramai. Kata instruktur saya ini untuk melatih keberanian saya melintas di jalanan ramai. Wah, deg degan.
“Mbak sudah bisa, hanya masih gugup. Jadi harus dibiasakan di jalan raya untuk tidak gugup. Tarik napas dan tenang. Fokus mengemudi ya,” kata instruktur saya menenangkan.
Selama belajar mengemudi saya sempat dilarang membawa mobil pribadi hingga sesi pertemuan ke-10 baru diperbolehkan. Tujuannya supaya saya menguasainya seluruh teori dan praktek terlebih dahulu dengan mobil tempat kursus. Lagian kan mobilnya diasuransikan, sementara mobil saya belum.
Dimana saja belajarnya? Ya, Keliling Tarakan. Selama berkeliling inilah saya jadi tahu gaya orang-orang Tarakan berkendara di jalan raya. Alamak, amburadul banget. Masih ada yang ngobrol di jalan raya, ber-HP ria nyebrang jalan,sambil belok pun asyik ber-Hp, kebut-kebutan, mobil motor dari gang langsung “slonong boy” nggak lihat kiri kanan, parkir mobil sembarangan, balik arah di tengah jalanan padat, motor protol dan mobil bermata satu alias hanya salah satu yang menyala ketika malam dan masih banyak lagi.
Saya sempat bertanya pada instruktur saya,”Saya belajar mengemudi bagaimana berkendara yang aman, nyaman dan beretika di jalanan. Terus kalau lalu lintasnya amburadul begini, lalu ngapain saya belajar?”.
“Minimal mbak memberikan contoh yang baik. Saya rasa sudah cukup. Jadi anak buah mbak akan mengikuti. Setelah itu efeknya ke lingkungan sekitarnya,” kata instruktur saya lagi.
“Ah, kelamaan. Malu lah sama tamu-tamu dari luar Tarakan kalau cara berkendara kita seperti itu. Entarlah ngobrol sama kasatlantas dan buat sosialisasi cara berkendara yang baik di jalan raya.”
Selama kursus saya diajari etika di jalan raya, tidak saja terhadap pejalan kaki, pengendara kendaraan, tetapi terhadap makhluk Tuhan yang lain. Seperti ketika banyak anak-anak kucing berlarian di jalan raya. Instruktur saya sempat turun memberikan contoh meminggirkan anak-anak kucing yang lucu-lucu itu. Saya hanya bisa bilang kepada instruktur saya itu,”Anda adalah makhluk Tuhan paling baik.” kok jadi ingat lagunya Mulan Jameela sih. (bersambung/anny@radartarakan.com)


2 Responses to “Alamak, Ngobrol kok di Tengah Jalan”


  1. Februari 19, 2008 pukul 9:04 pm

    Seru.. semrawut bin awut-awutan itulah kendaraan di Kota Tarakan!
    Ditunggu episode berikutnya… pasti bisa nyetir …😀

  2. 2 bloganny
    Februari 22, 2008 pukul 10:46 am

    Thanks atas tanggapannya Mas Rian. ya begitulah. kadang suka jengkel kalau ada yang nggak tertib, padahal kita sebisanya berusaha untuk tertib.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2008
S S R K J S M
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: