22
Feb
08

Cerita Sandal, Sepatu dan Ibu-ibu

“Seru ya, kapan lagi sepatuku disemir Mbak Anny Radar Tarakan? Hehehe,” seru Mbak Novi saat antre di depan toilet di komplek perkantoran Pemkot Tarakan. Kontan saja banyak ibu-ibu yang tertawa mendengarnya.

Saya hanya bisa tertawa dan membalas,”Awas, ye, Tagihan belakangan. Sudah tahu sandal disemir. Mana ada sandal disemir.”

“Lagian disuruh pakai sepatu, mbak Anny malah pakai sandal. Aneh, nih,” kata Novi nggak mau kalah.

“Kirain apa dikasih amplop. Eh, isinya kertas tisu. Disuruh nyemir pula. Lain kali mudahan aku bisa ikut lagi, aku bawa semir sendiri aja dari rumah.”

Pernyataan ibu inipun langsung disambut tawa ibu-ibu lainnya.

“Sepatuku ini baru, lho. Jadi nggak banyak kotorannya. Tadi pas break (istirahat sejenak) diambilkan bapaknya anak-anak di rumah. Soalnya kan panitia dah bilang disuruh pakai sepatu,” ujar seorang ibu sambil memperlihatkan sepatunya yang bersih.

“Wah, bapak ternyata sayang banget ya sama ibu. Hebat. Emang beli sepatunya dimana, Bu,” kata Novi.

“Ini bukan sepatu baru beli bah. Ini lama nggak kupakai-pakai sejak masih baru dibeli dulu. Kusimpan aja,” si ibu itu menerangkan.

“Ooooooo,” kata Novi sambil manggut-manggut.

Sebenarnya masih banyak cerita sepatu dan ibu-ibu. Kebetulan saat pelaksanaan ESQ ada sesi dimana para pesertanya, nggak peduli dia pejabat, pegawai, tua, muda, terhormat dan berpangkat atau yang biasa-biasa saja bergantian menyemir sepatu rekannya.

“Yang bersih ya ibu-ibu dan bapak-bapak. Termasuk yang didalam dan dibawah sepatu wajib dibersihkan juga,” kata M Subhan, trainer ESQ angkatan ke-5.

Kontan saja seisi ruangan serbaguna bergemuruh suara tawa. Tentu saja ada hikmah dibalik menyemir sepatu. Seperti melatih kesabaran, ikhlas, rendah hati, saling menghargai dll. Justru kalau bertemu Mbak Novi, penyiar RRI, yang paling saya ingat adalah cerita sepatu itu.

Selama tiga hari saya pindah kantor (baca: sementara) dari Gedung Silver Radar Tarakan di Jl Mulawarman (depan Bandara Juwata) ke Ruang Serbaguna Pemkot Tarakan. Saya ke sana sebagai warga biasa, menanggalkan atribut jabatan saya. Tepatnya saya mengikuti training Emosional Spiritual Quotient (ESQ) yang pelaksanaannya sudah kali kelima. Saya ikut training di angkatan ke-5.

Menjadi orang biasa, pura-pura tak dikenal, merendahkan hati, rela antre? Hmm… mulanya berat. Berat banget. Karena terbiasa disanjung puji, terbiasa dilayani, terbiasa dihormati dan segala macamnyalah. Ya, seperti di iklan akhirnya dibuat enjoy ajalah. Full selama tiga hari saya hanya 1 persen mikirin Radar Tarakan dan radionya, sedangkan 99 persen hati dan pikiran saya ke materi training. Sayang dilewatkan. Karena undangan training ini sempat saya cueki sebanyak 5 kali. 4 kali dari panitia ESQ Tarakan –waktu itu Bapak Agang Sinja, selebihnya tawaran dari sahabat baik untuk mengikuti acara serupa di Jakarta. Baru tawaran keenam dari panitia ESQ Tarakan yang tiba-tiba entah kenapa saya bisa memenuhinya. Seperti sudah ada yang mengatur.

Mulanya telepon dari ibunda Yetty –anggota DPRD Tarakan yang juga ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Tarakan, kemudian dari panitia ESQ Haryanto. Saya cek, jadwal saya kosong di tiga hari itu. Padahal biasanya selalu penuh. Bagaimana dengan teman-teman saya, ah… dah terbiasalah. Karena di Radar Tarakan ada atau tak ada saya Radar Tarakan harus tetap terbit, radio tetap mengudara. So, mereka sudah bisa mandiri. Bukankah kebahagiaan seorang pemimpin itu ketika dia bisa “melahirkan” pemimpin-pemimpin baru? Ya, proseslah. Toh, saya juga masih harus banyak belajar dan berproses.

Mengikuti training ESQ bagi saya penyesuaian diri. Mulai tempat, saya terbiasa dengan ruangan kaca penuh cahaya. Karena konsep desain gedung radar tarakan yang terbuka, full kaca dan alucupon (dinding dari bahan baja ringan). Sinar matahari bisa menerobos masuk ke kaca-kaca gedung silver, bisa merasakan rintik-rintik hujan yang terlihat membasahi tanah, bisa merasakan semilir angin bila jendela kaca dibuka, bisa melihat panorama Tarakan dari ketinggian atau melihat pesawat terbang take off dan landing. Tapi selama tiga hari semua peserta ESQ yang berjumlah 198 orang termasuk saya berada di ruangan tertutup dan disuguhi visualisasi ala bioskop 21.

Dua hari pelaksanaan acara, setiap pagi selalu turun hujan. Hari pertama malah banjir dimana-mana. Hari kedua hujan sebentar. Nah, baru hari ketiga hari yang cerah. Kok mirip album terbaru Peterpan “Hari Yang Cerah” ya. Toh, biarpun banjir, basah kuyup, peserta tetap datang. Ruangan selalu penuh. Selalu bersemangat. Peserta tak hanya dari kalangan pemkot Tarakan, tapi juga dari polres, pengadilan, KPU, panwaslu, PKK, organisasi wanita dan sejumlah tokoh masyarakat serta MUI.

Apa yang menyebabkan mereka dari berbagai latar belakang itu tetap datang? Karena materinya yang menyentuh hati dan rasa kemanusiaan kita tentang betapa agung ajaran yang dibawa Rasulullah SAW itu. Di saat-saat kritis, genting, tiada satupun penolong, hanya Allah-lah tempat kembaliku (cerita pengalaman pilot garuda yang mendarat darurat di Bengawan Solo), tentang kemajuan bangsa-bangsa dan semangat untuk perubahan. Subhanallah, Ya Rabb betapa indah jalan lurus itu bila ditempuh dengan ikhlas mendekatkan diri pada-Mu. Kumpulkanlah kami di hari yang Engkau tentukan nanti dengan mereka yang memilih-Mu, mencintai-Mu dan berpegang teguh pada ajaran Rasul-Mu dan akhirnya kepada-Mu lah nanti kembaliku.

(kenangan saat mengikuti Training ESQ di Gedung Serbaguna Pemkot Tarakan 2007, Angkatan ke-5. Sebenarnya sudah lama ditulis. Tapi baru dipublikasikan sekarang. Untuk para alumni ESQ, salam semut aja deh. Selamat pagi….)


0 Responses to “Cerita Sandal, Sepatu dan Ibu-ibu”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2008
S S R K J S M
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: