22
Feb
08

Duh, Malunya, Bosku Rela Jadi “Sopirku”

Keliling Tarakan, Belajar Mengemudi Mobil (2-Habis)

Menjelang detik-detik selesai kursus mengemudi mobil, tahapan lain yang saya lalui adalah mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM). Saya pilih tidak mengurusnya sendiri tapi satu paket dengan biaya kursus. Mau enaknya aja nih. Ya, kan saya nggak punya waktu banyak. Selain itu saya orangnya mudah bosan kala antre atau menunggu. Wah, nggak suka banget.
Nah, saya dan instruktur saya menuju Kantor Polres Tarakan. Jarang-jarang ke Polres membuat saya dag dig dug. Bukan takut tapi grogi berat. Inilah kali kedua saya ke Polres pasca saya menabrak mobil pengacara Tarakan tempo hari. Sebelumnya memang sudah beberapa kali ke Polres untuk suatu urusan, tapi bisa diitung dengan jari. Nggak perlu proses lama-lama karena semuanya sudah diuruskan. Tinggal foto, jadi deh SIM saya. Senang, bangga, setelah jatuh bangun eh maksudnya belajar mati-matian mengemudi mobil. Ibarat anak sekolah yang lulus ujian. Gembiranya ya seperti itu.
Eiiiiit, tapi tunggu dulu. Apa cukup sampai disitu? Ternyata tidak, karena saya masih ada sesi belajar mengemudi untuk kendaraan pribadi, pengenalan mobil, cara merawat dan lain-lain.
O, ya, selama menjalani sesi terakhir ini saya sempat ditegur instruktur saya lantaran mulai ngebut saat melewati jalan berlubang. Ceritanya gembira nih.
“Kalau cara mengemudi Mbak seperti itu. Mobil yang bagus bisa rusak dong,” katanya kali ini serius.
Saya pun menjawab,”Lho, bukan salah saya dong. Mana jalanan bagus di Tarakan. Kalau nggak berlubang, rusak digerus air, terendam air, bergelombang, tambal sulam, ya gitu deh. Sebentar-sebentar dibaiki, sebentar-sebentar rusak.”
“Hindari jalanan rusak dan jangan ngebut. Oke,” kali ini instruktur saya tegas.
Wah, saya jadi takut. Kali ini, galak amat instruktur saya ini. Hehehe. Padahal biasanya dia suka melucu, tapi bukan pelawak. Sedikit tentang instruktur saya ini, dia mantan karyawan Radar Tarakan, kemudian mengundurkan diri dan bekerja di tambang batu bara. Setelah itu banting stir menjadi instruktur kursus mengemudi mobil. Istrinya yang cantik, dulunya adalah wartawati Radar Tarakan.
Dia sering berkata,”Kalau saya ajarin mengemudi Mbak, hari-hari harus ada kemajuan ya. Seperti yang selalu mbak katakan dulu ketika saya jadi anak buah mbak. Nah, sekarang mbak jadi siswa saya. Jadi saya mau mbak bisa mengemudi mobil, oke.” Wah, ternyata hidup berputar ya, kadang kita diatas, kadang kita berada di bawah.
Mengapa saya cepat bisa mengemudi mobil, salah satunya karena di-deadline. Selebihnya lantaran metode di kursus ini adalah siswa –istilah untuk mereka yang mengikuti kursus—diwajibkan menjemput siswa lainnya saat latihan. Dengan medan yang berbeda-beda diharapkan terbiasa dan bisa saling tukar informasi serta pengalaman baru. Seru pokoknya. Teman satu latihan saya adalah Mbak Erna. Istri salah seorang pengusaha Tarakan. Rumahnya di Gunung Lingkas. Jalan menuju rumahnya tuh sempit banget dan berputarnya juga sulit. Tapi saya harus bisa membawa mobil bahkan menjemputnya. Teman kursus saya lainnya adalah, anak dari pemilik salah satu hotel di Gunung Lingkas, saya lupa namanya. Dan seorang ibu yang tinggal di dekat Garindo Sebengkok. Lebih susah lagi berputar di halaman rumahnya yang sempit plus mepet dengan jalan. Acara jemput menjemput selesai dan akhirnya saya dilepas instruktur saya untuk mengemudikan mobil sendirian.
Usai kursus mengemudi, belajarnya saya lanjutkan sendiri. Beberapa teknik saya hapalkan sendiri. Harus bisa mandiri tanpa instruktur. Pun ketika bos saya dari Balikpapan datang. Terpaksalah lantaran saya belum pede mengemudi, akhirnya bos saya itu sendiri yang mengemudi. Saya disampingnya. Begitulah. Malu iya, grogi iya, gimana gitu. Antara tega dan nggak tega. Harus tega, ketimbang saya grogi dan nabrak, hehehe. Untungnya bos saya itu pengertian.
Nah, lain lagi saat saya membawa mobil ke Pantai Amal dan sepulangnya saya dari sana membawa penumpang. Ceritanya ada undangan Telkom di Bais Hills Pantai Amal. Jam 8 pagi. Waduh, menuju Pantai Amal itu terbayang kan tingginya gunung yang hendak dilewati. Supaya nggak malu dengan undangan lainnya, saya pilih pagi-pagi ke sana. Undangan jam 8, jam setengah 8 saya sudah sampai. Gathering lancar. Pas pulangnya seorang ibu dari RRI hendak menumpang, kan satu jalan. Kalau lewat Kampung Empat, ya lewat RRI. Waduh, grogi berat. Tapi saya memberanikan diri dengan berkata terus terang dengan ibu itu, kalau saya masih belajar. Alhamdulillah, beliaunya baik sekali. Akhirnya saya sukses mengantarkannya hingga halaman RRI. Malah di-support terus untuk bisa.
Ada cerita lucu lagi saat saya harus menjamu tamu dari Bulungan. Karena lagi-lagi grogi, saya meminta tamu itu untuk membawakan mobil menuju ke tempat kita makan. Ramai-ramai dengan teman-teman iklan. Sepulangnya, tamu tadi minta diri untuk berhenti di depan hotel di bilangan jalan Mulawarman. Jadilah saya yang akhirnya mengemudikan mobil. Tahu ajakan, teman-teman iklan gimana reaksinya. Antara takut dan nggak mau ditinggal di jalanan. Saya jadi geli dibuatnya. Peraturannya dilarang berkomentar yang membuat saya grogi. Oke. Sepanjang perjalanan itu saya diam, tapi mereka asyik melucu yang membuat saya tersenyum. Pas mau berbelok ke a rah kantor dari arah warung buah-buahan, salah satu teman iklan nyeletuk. Waduh, nggak nyampe nih dan mobil pun akhirnya berhenti. Di-starter lagi dan akhirnya sampai kantor juga. Begitu keluar dari mobil semuanya berucap syukur. “Alhamdulillah selamat,” kata mereka hampir berbarengan. Wah, ngolok nih teman-teman iklan. Belum tahu dia kalau saya juga dag dig dug.
Untuk menghindari grogi saat membawa penumpang lain saya sering mengajak serta adik saya. Itu pun dengan pesan dilarang cerewet. Alhasil, adik saya cuma diam saja di mobil sambil mendengarkan radio. Begitupun bila teman-teman saya hendak menumpang. Saya memilih menjadi penumpang ketimbang sopir.
Tampaknya memang saya harus sesering mungkin membawa mobil, sesering mungkin ngajak jalan tean-teman, untuk menghilangkan rasa grogi saat membawa penumpang. Ya, belajar lagi deh. (anny@radartarakan.com)


1 Response to “Duh, Malunya, Bosku Rela Jadi “Sopirku””


  1. 1 agustina
    November 14, 2011 pukul 11:21 pm

    sy lg bljr nyetir & blm bs. mbl sy zebra. pdhal sy mahir naik mtr bebek 4 tak. tp knp sy ngeri bgt ya nyetir mbl?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2008
S S R K J S M
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: