25
Feb
08

Gue, Loe, Angkot dan Tabrakan Maut

Dear My Diary,
Minggu 24 Februari 2008
Kampung Empat Tarakan

Di tengah rintik hujan dan udara dingin yang sampai ke tulang
Kembaliku ke laptop Flybook V33i kesayanganku
Menuliskan kembali rangkaian kata-kata
Pembangun jiwaku
Yang mengingatkanku
untuk lebih menghargai hidup
hidup cuma sekali friend
Detik ini kita hidup
Mungkin sedetik kemudian kita mati
Dan ketika kembaliku ke Ilahi nanti
Setidaknya goresan pena dunia mayaku
Menyapa khalayak dalam salam damai penuh cinta dariku
Today’s Campaign:
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer)

Dear my diary,
Gue nggak setuju kalau angkot dalam tabrakan maut itu disalahin. Terkecuali fakta-fakta di lapangan memang mengarah ke kesalahan angkot itu ya silakan hukum dia. Maksud gue gini. Angkot itu emang jelek friend. Nah, udah jelek jangan dijelek-jelekin lagi. Lihat dong kejadiannya gimana dari keterangan para saksi yang ada.
Kenapa gue bilang angkot itu jelek. Stigma angkot sekarang itu sopirnya suka ugal-ugalan di jalan raya, suka berhenti sembarangan saat menaikkan dan menurunkan penumpang, suka putar balik arah sembarangan di saat ramai, sopirnya suka nggak berpakaian rapi, bau lagi, kayak orang nggak mandi. Belum lagi angkot jelek masih beroperasi di tengah kota. Mbok ya dicat, dirapikan, ditambahi tong sampah kecil, dipasangi audio stasiun radio favorit yang memutar lagu-lagu terkini seperti Yovi and The Nuno, Andra and The Backbone, Nidji, Peterpan, The Titans, The Rock, Dewa, Mulan Jameela, Duo Maia, T2 dan lain-lain. Terus ditambah pengharum ruangan atau apalah, sehingga membuat betah penumpang. Ini belum kelengkapan surat-surat lo ya.
Gue bisa bilang begitu karena gue suka naik angkot. Loe nggak tahu kan? Ya sedikit banyak gue tahulah. Apalagi kalau gue lagi nyetir mobil, yang paling gue takutkan angkot yang mendadak berhenti di depan gue. Nah, loe. Ketimbang ribut terpaksalah pelan-pelan di belakangnya.
Masih adakah angkot yang baik. Ada sih satu dua bisa diitung deh. Karena yang jelek banyak makanya stigma negatif itu melekat. Padahal kalau angkot itu rapi, bersih, wangi dan taat pada aturan lalu lintas, gue bisa banggain pada daerah lain. Bukannya kota-kota modern, termasuk Singapura itu warganya tertib berlalu lintas? Lha Tarakan kan kota berjuluk The New Singapore, kalau angkotnya jelek begini malulah. Think about it!!!
So, stigma angkot yang melekat begitu jeleknya nggak bisa dong ditimpakan juga pada sopir angkot seorang dalam tabrakan maut itu. Terlebih lagi ada anggapan bila roda dua bertabrakan dengan roda empat pasti yang salah roda empat. Enak aja! Lihat dulu dong kejadiannya lewat saksi-saksi yang ada. Baru sampai pada kesimpulan.
Polisi mesti ekstra kerja keras untuk mencari saksi-saksi. Sehingga lebih adil, lebih fair dalam melihat sebuah kejadian. Soalnya pertanggungjawaban poilisi itu bukan hanya di dunia saja, lho. Di akhirat kelak mereka juga akan dimintai pertanggungjawaban. Disini, keprofesionalan polisi dipertaruhkan. Ayo dong bantuin polisi.
Dear my diary,
Gue dilaporin teman-teman kalau saksi-saksi mata yang melihat tabrakan maut itu pada takut, nggak mau dijadiin saksi polisi. Katanya ribet. Menurut teman gue. Ketimbang jadi saksi mending diam aja?
What?????
Mbak, orang nggak mau jadi saksi karena ribet dipersulit polisi.
Masa sih?????
Bayangin, katanya, saksi harus mau dipanggil polisi kapan pun, ditanyain ini itu yang pertanyaannya banyak banget, ongkos pulang pergi ditanggung saksi, lha kalau saksinya orang nggak punya, uangnya pas-pasan kan kasihan.
What?????
Cara berpikirmu kok ndeso banget sih? (ndeso = meminjam istilah Tukul Arwana, presenter Empatmata)
Udeh deh gue nggak bisa ngomong. Gue cuma ingat sang guru saat di pengajian bilang. “Katakanlah kebenaran itu meskipun itu pahit. Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan jangan tolong menolong dalam perbuatan keji dan mungkar.”
Gue pernah lho jadi saksi kasus apa ya. Lupa. Waktu itu gue dipanggil Polda Kaltim. Waktu itu Polda Kaltim masih di kantor lama dekat Pemkot Balikpapan. Nyusahin sih, mana gue sibuk banget. Ini udah panggilan kedua kalinya menuju ketiga baru dijemput paksa. Wah,… deg degan juga. Untunglah pas ada acara di Surabaya, gua mampir ke Balikpapan dan bersama seorang teman diperiksa polisi. Mulanya suasananya garing, karena gue menyangka polisi masih pakai mesin ketik zaman baheula yang bunyinya tak tik tok tak tik tok. Begitu masuk ke ruangan eh ada komputer. Pertanyaan-pertanyaan sudah ada tinggal menuliskan jawaban-jawaban saya apa. Gue jadi geli dibuatnya. Ternyata polisi-polisinya gaul banget. Suasana pemeriksaan nggak seseram yang gue bayangkan. Yang bisa gue jawab, ya gue jawab apa adanya. Yang nggak tahu, gue jawab nggak tahu. Begitu selesai gue ditraktir polisi makan bakso dekat kantornya. Alamak! Kapan lagi ditraktir polisi. Hehehe.

Tapi mbak, kata teman saya lagi. Kenapa orang-orang nggak mau cepat menolong setiap ada kecelakaan lalu lintas ya, ya, lantaran faktornya sering ditanyai rumah sakit siapa yang bakal menanggung biayanya, padahal mereka kan cuma mengantarkan korban, misalnya. Belum lagi ada mitos, kalau korban meninggal di kendaraan si penolong maka dijamin si pemilik kendaraan bakal sial terus?
What?????
Hari gene loe masih berpikir soal hartamu satu-satunya bakal berkurang, hanya gara-gara menolong orang? Loe juga masih berpikir soal mitos. Capek deh!
Guru spiritual saya bilang,”Anakku letakanlah duniamu di tanganmu. Jangan kau meletakkan duniamu di dalam hatimu.” Nasihat ini maknanya dalam banget. Tapi, sudahlah, dunia, dunia, sering membuatku terlena.

Dear my diary,
Gue kasihan sama korban. Gue pengen berkunjung ke rumah keluarganya yang berduka. Gue pengen berziarah ke makamnya. Tapi kapan ya, gue sibuk banget. Tapi gue juga nggak rela kalau sopir angkot di tabrakan maut itu dihukum. Karena menurut gue faktor-faktor lain juga mestinya jadi pertimbangan polisi dong. Misalnya Penerangan Jalan Umum (PJU) yang mati sehingga tak menerangi jalanan raya. Marka jalan yang tidak bersinar saat ditimpa sorot lampu kendaraan. Kayaknya udah beberapa kali lho kecelakaan ada di situ.
Gue termasuk yang nyaris jadi korban kecelakaan di tempat itu juga tempo hari. Karena kondisi gelap tiba-tiba saja sebuah mobil memotong jalan mobil gue, mobil itu persis lewat begitu saja di depan gue dari arah bandara. Untungnya feeling gue bilang stop. Kalau gue juga ngebut, terjadi deh kecelakaan itu. Marka jalan juga nggak terang-terang amat, jadi agak sulit kalau kita bilang sudah minggir, di tengah atau melewati batas marka yang ditetapkan. Pernah juga saya disalip mobil dan motor lain dari belakang. Laju banget. Wah, kok ngebut-ngebutan sih. Mungkinkah juga lantaran saya terlalu hati-hati di jalan raya.
Dulu juga waktu mau dibuat median jalan, kan median yang dibangun nggak diterangi lampu, pas jam 3 pagi gue sama teman-teman percetakan ngeliat sebuah mobil dari arah juata yang nggak tahu ada bangunan median langsung menghantam median. Wah, teman-teman langsung membawa ke rumah sakit. Pernah juga waktu gue ikut mengantar film untuk percetakan dari kantor lama ke kantor baru (waktu itu kantor baru Radar Tarakan masih dibangun), teman gue menghentikan mobil tiba-tiba di jalan raya yang gelap. Ternyata ada sapi di depan mobil. Untungnya feeling teman gue jalan, padahal kondisi gelap. Sapi itu duduk-duduk manis lagi di jalanan raya.
Pernah juga sapi-sapi yang diikat di padang rumput dekat bandara oleh pemiliknya, lepas saat jalanan ramai di malam hari. Teman-teman yang mengusirnya malah kewalahan. Akhirnya saya kontak rekan saya di satpol PP untuk mengamankan sapi itu. Biar pemiliknya didenda biar kapok. Punya sapi kok nggak diurusin malah nyusahin banyak orang. Dikadangkan kek, apa kek, gitu.
Sekarang trennya, depan Radar Tarakan yang gelap itu jadi tempat trek-trekan anak-anak motor, pakai taruhan berjuta-juta lagi. Belagu amat sih, mau minta diliput Radarkah? Ogah! Kalau itu anak-anak Cimot, gue nggak mau ada liputan lagi, nggak mau ada acara modifikasi lagi, nggak mau mengapresiasi apapun kegiatan mereka. Titik nggak pakai koma. Gue bilang begini karena gue fans berat cimot. Organisasi anak-anak motor yang eksis. Meskipun gue nggak punya motor.
“Mbak boss (ada lagi istilah nama panggilan untuk saya. My name is Anny, you know?), yang trek-trekan bukan Cimot bah. Jadwal konvoi cimot sudah dilaporin ke polisi. Ada hari khususnya, bukan malam minggu. Nantilah kita lapor lagi ke polisi untuk klarifikasi,” kata salah seorang pengurus Cimot.
Pokoknya gue nggak mau ada korban lagi. Mau masuk koran kok jadi korban trek-trekan di jalan raya. Jadi mayat lagi. Nggak keren amat! Mati sia-sia, bukan mati secara terhormat. No way! Nggak ada sebuah karya yang bisa dibanggain buat keluarga, sahabat, pacar dan orang-orang terdekat loe.
Dear my diary,
Aku capek, makan dulu ya…. Pasca kejadian tabrakan maut itu, mood-ku untuk makan hilang. Apalagi kalau masih ingat korban. Tapi perutku sudah keroncongan nih, sebelum lagunya berubah menjadi lebih nge- rock mending gue makan dulu deh. Ciao….


5 Responses to “Gue, Loe, Angkot dan Tabrakan Maut”


  1. 1 mawar merah
    Februari 26, 2008 pukul 5:30 pm

    kalo tulisan ini diangkat ke koran bisa jadi bahan kritikan. Buat angkot, pengendara spd motor, semua pengendara di indonesia tarakan khususnya. Sekalian promo blog ini. So kalo mau tulisan yg lebih menarik lgi silahkan kunjungi htt://………….

  2. Februari 26, 2008 pukul 9:03 pm

    Kunjungan balasan nih mbak… Makasih ya dah mengunjungi blog saya..

    Wah, tulisannya bagus dan inspiratif. Benar kata mbak, memang kalau kita sudah ga ada di dunia ini, hanya tulisan kita lah yang masih hidup. Mungkin untuk selamanya. Karena itu, menulis juga udah menjadi hobi saya yang baru. Lewat blog saya tentunya…

    Wah ada tabrakan ya ? Innalillah…

    Memang angkot di Tarakan masih jauh dari kata baik sekali, namun setidaknya lebih baik daripada angkot (pete-pete) di Makassar. Saat ini saya lagi di makassar. Dan bisa merasakan perbedaan antara kualitas angkot di sini dan di Tarakan. Lebih brutal disini. Mungkin karena angkot di sini banyak banget.

    Sebelum keadaan angkot di Tarakan makin buruk, sebaiknya angkot di Tarakan mulai dibatasi. Jangan diberikan izin lagi. Entar persaingannya menjadi tidak sehat lagi. Dan efeknya ya main serobot penumpang sembarangan hanya demi dua lembar uang seribuan plus sekeping uang logam 500. Ga lucu kan kalau gara-gara duit 2.500 jadinya tabrakan dan masuk rumah sakit. Yang bisa aja bayarnya jadi 1000 kali lipat.. 2.500.000 hehehe

    Keep blogging yah mbak…

  3. Februari 26, 2008 pukul 9:07 pm

    To. Mawar Merah. Thanks banget sarannya. memang rencananya mau dimuat di koran. tapi tujuan awalnya promo bloganny. biar warga akrab dengan internet gitu. so, berita di koran hanya seputar peluncuran blog ini saja. selengkapnya disarankan mengunjungi blog ini.

  4. Februari 26, 2008 pukul 9:10 pm

    Bung Fadli thanks ya. Beberapa waktu lalu saya pernah ke Makassar. memang pete-petenya mengerikan. hehehe. saya sampai nggak berani naik. Kapan-kapan saya ke makassar, saya hubungi anda. paling banter saya nongkrongnya di gedung graha pena makassar di KM 4. nah, di depannya ada coto bagadang yang ueeeeeeeeeenak banget. hehehe.

  5. Februari 27, 2008 pukul 8:28 pm

    Siip.. ditunggu yah…
    Entar saya ajak keliling2 kota. Naek pete-pete tentunya… Hahaha
    Entar biar saya yang jadi ‘hero’ nya. Menaklukkan monster pete-pete yang mengerikan itu…😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2008
S S R K J S M
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: