10
Mar
08

Ngungsi ke Hotel, Jalan Kaki ke Venue

Ketika Nidji-Peterpan Manggung di Tarakan (1)

SABTU, 8 Maret 2008, Nidji dan Peterpan (bintangnya Rising Stars) akhirnya tiba di Tarakan. Seperti biasa, mobilku (hehehe mobil operasional kantor ding) dipakai juga oleh panitia, EO Radar Tarakan. Bagaimana dengan diriku?
Itu mah gampang aja. Dah biasa jalan kaki, naik ojek, or naik angkot. So, nggak ada kendaraan nggak masalah. Pilihanku ya ngungsi ke hotel terdekat dengan lokasi acara. Kok ngungsi? Ya, kalau aku tetap di rumahku di Kampung Empat rada sulit. Angkot jarang, kalaupun ada jurusannya beda. Terus kalau hujan banjir, terutama dekat Idec. Wah, bisa kacau nih.

Dengan ngungsi di hotel, pertama, kemana-mana dekat selama ada angkot dan ojek. Kedua, ke lokasi acara bisa jalan kaki. Ketiga, hotel nantinya bisa untuk ngumpul teman-teman usai acara sekaligus untuk mengirim berita. So, akupun menyiapkan laptop plus bahan-bahan berita. Internetnya? Hotel dynasty namanya, juga ada fasilitas internetnya. Entar kutanyakan ke Tony, deh. Tony adalah manajer sekaligus pemilik Hotel Dinasty.

Lagian kenapa pilih rumah di Kampung Empat sih? Ya, karena suasananya masih asri. Udaranya sejuk. Kampung banget. Tetangga-tetangga care satu sama lain. Kayak perkampungan jawa di lingkungan rumahku di Balikpapan lah. Jawa banget sih enggak ya di Kampung Empat ini, tapi saling care satu sama lain itu lho yang buat beda. Kadang membuatku risih, gimana gitu, karena sebelumnya tempat tinggalku rada cuek. Loe-loe, gue-gue.

Usai menaruh tas di kamar hotel, aku dan adikku memilih jalan kaki ke venue. Melihat persiapan acara garapan EO Radar Tarakan. EO lokal yang digandeng Deteksi Production, EO Jakarta yang menangani Rising Stars gaweannya A Mild Live Production. Ini adalah acara terbesar kedua garapan EO Radar Tarakan setelah konser Slank, tahun lalu.

Menyusuri Jalan Kusuma Bangsa dari Hotel Dinasty ke venue di Lapangan Sepakbola Pasar Boom Panjang punya kesan tersendiri. Jalan-jalan sore gitulah. Padahal nggak pernah-pernah lho ada acara jalan bareng begini. Apalagi dengan adikku. Ya, sejenak refreshing mengajak adik sendiri. Biasanya aku sih cuek, adikku mau ngapain aja (selama yang dilakukannya hal-hal positif) silakan asal kuliahnya di Universitas Borneo (UB) nggak terganggu.

Eh, ada bak sampah bolong lho di Jl Kusuma Bangsa. Mulanya rada aneh, kok bak sampah bolong. Lama-lama setelah diperhatikan ternyata dibawah bak sampah tadi ada semacam karung berasnya. Mungkin supaya gampang kali untuk mengangkutnya. Padahal kalau dipikir-pikir bak sampah seperti itu nyusahin, suka dihambur-hambur si guk guk. Mungkin juga maksudnya kalau hujan air nggak masuk yang bikin berat kalau diangkut ke truk sampah. Tapi tetap aja nggak indah dipandang mata. Jadilah sepanjang jalan aku dan adik melihat-lihat setiap tong sampah yang ada (bukan pemulung ya). Dan kita tertawa bareng. Hari gini tong sampah bolong di jalanan bagus? Jalan Kusuma Bangsa termasuk favoritku. Jalanannya bagus, mediannya penuh bunga-bunga, PJU-nya tertata rapi. Tapi ups… sekarang jalanan ini mulai jelek, bolong sana sini, ditambal sana sini, ya gitulah.

Belum sampai ke venue, Pak Danyon 613 Rajaalam J Robert Giri menghubungi HP-ku. Tumben komandan menelpon. Ada apa ya?
“Oi, kalau jalan jangan di tengah-tengah dong. Mau berhenti salah, mau ditabrak entar aku masuk koran. Tuh, ibu nanya kemana Mbak Anny tuh. Emang mau kemana?” kata Danyon Robert Giri.

“Oh, bapak. Tumben. Jalan bareng ma ibu sore-sore. Hehehe. Mau ke venue, lihat persiapan acara Nidji-Peterpan. Mobilku dipakai ma teman-teman. Sementara saya di hotel tuh dekat, ya jalan kaki ke lokasi acara,” kataku sambil menyampaikan salam untuk Bu Danyon.

Masuk ke Pasar Boom Panjang, aku masih melihat-lihat kalau-kalau bos pengelola Pasar Boom Panjang masih di kantornya. Yah, tutup. Soalnya kalau nggak mampir entar dikira sombong. Ya, lurus aja deh ke Lapangan Sepakbola tempat acara Rising Stars. Ternyata persiapan tengah dilakukan. Termasuk kedatangan panggung yang diangkut truk fuso.
Puas lihat-lihat persiapan acara, aku ma adikku naik angkot ke RTFM, radionya Radar Tarakan di Jl Yos Sudarso. Ini untuk mengecek persiapan ticketing. Wuih, ramenya. Sampai malam orang masih rame antre tiket.

Bertemu dengan banyak orang dan mensupport mereka untuk membeli tiket. “Saya juga antre dan beli tiket, lho. Ya, saya begini untuk mendukung upaya-upaya EO Radar Tarakan yang menginginkan penonton tertib menonton Nidji-Peterpan. Menertibkan rekan-rekan Radar Tarakan duluanlah. Mereka juga beli tiket,” Saya menjelaskan panjang lebar pada Mas Ivan, seorang guru musik dari Tanjung Selor, Bulungan.

Mas Ivan ini beberapa waktu lalu juga pernah menjadi juri di acara-acara gawean Radar Tarakan. Sekarang dia jadi sering bolak balik Tanjung selor-Tarakan karena menjadi “guru terbang” di salah satu SMK di Tarakan.

Rupanya dia tak sendirian, dia bersama beberapa anak muda asal Bulungan juga menonton Nidji-Peterpan. Ya, sempat bercerita-cerita tentang perkembangan musik Bulungan, khususnya D’Nyaru Band yang sempat juara di ajang A Mild Live Wanted, ajang pencarian bakat band-band lokal. Toh, akhirnya saat bertarung di ajang regional band ini gagal. Ya, kegagalan adalah sesuatu yang tertunda. Dengan sejumlah talenta yang dimiliki, band inipun kembali gagal untuk rekaman di Jakarta. Problem anak band daerah ya begitu. Selalu nggak bisa berkembang lantaran dana minim. Kenapa ya, recording di Jakarta itu nggak memilih anak-anak band yang jago-jago meskipun mereka nggak punya duit untuk rekaman? Selama ini band-band selalu Jakarta sentris, bandung sentris, atau Jogja sentris.

Acara ngobrol-ngobrol masih berlanjut dengan beberapa rekan dari Partai Amanat Nasional (PAN). Karena kantornya bersebelahan dengan kantor RTFM.

“Kantor kita kayaknya lebih terkenal karena bersebelahan dengan RTFM. Coba lihat berapa banyak yang tahu kantor PAN saat mereka rame-rame beli tiket Nidji-Peterpan,” kata rekan saya itu.

“Wah, awas nggak beriklan ya,” kata saya balik menimpali yang disambut geer.
Bersama rekan-rekan di PAN, kita diskusi tentang Pilwali Tarakan. Tentang siapa yang diusung PAN. Hayo siapa? Top secret deh.

Jam 10 malam, teman-teman radio yang kusuruh antar pulang ke hotel. “Ojek dadakan” hehehe. Teman-teman dah biasa melihatku apa adanya. Cuek deh.

Sesampainya di hotel pun belum bisa memejamkan mata. Masih koordinasi dengan teman-teman yang nginap di Hotel Tarakan Plaza, tempat Nidji-Peterpan juga menginap. Mendengarkan cerita teman-teman yang mendampingi Nidji-Peterpan, plus merencanakan liputan keesokan harinya. Ups, adapula negosiasi iklan pilkada. Kulihat jam menunjukkan pukul 24.00. Walah-walah tiada hari tanpa kesibukan….


0 Responses to “Ngungsi ke Hotel, Jalan Kaki ke Venue”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: