10
Mar
08

Thank You

SAAT menonton konser Nidji-Peterpan kemarin lusa, saya ikut mengantre tiket dan masuk ke venue (lokasi acara). Sesuai prosedur konser. Nggak boleh bawa helm, bawa makanan dan minuman botol, bawa senjata tajam apalagi, bakal kena razia tuh.
Ups… lupa saya bawa air mineral botol. Air mineral botol saya relakan untuk Pak Polisi yang saya kenal. Meskipun dipaksa untuk tetap membawa karena dia melihat jabatan saya di Radar Tarakan, saya menolaknya.

“Enggak deh pak. Saya harus mengikuti prosedur. Entar kalau ada yang ngeliat bapak memperlakukan saya dengan istimewa. Wah, berabe bisa ribut nih massa,” kata Saya pada Pak Asri anggota Polres Tarakan yang bertugas di depan pintu masuk. Pertama kali kenal pak Asri ya saat konser Cokelat di Lapangan Tenis Indoor awal 2006 lalu. Banyak nasihatnya yang kemudian sering saya ingat ketika EO Radar Tarakan akan menggelar konser.

Sebelumnya saya bertemu dengan Pak Ince, juga anggota Polres Tarakan yang menegur saya lantaran memasuki pintu khusus untuk penonton umum. “Oh, sekalian mau nulis ya. Jadi perlu lihat situasi dan kondisi sebenarnya di lapangan. Silakan. Hati-hati ya,” kata Pak Ince yang saya kenal sejak beliaunya bertugas di Polres Nunukan.

Masuk ke venue, saya memilih berada di dekat mobil PMI. Kalau capek dan tiba-tiba pingsan, teman-teman saya sudah tahu kalau saya ditangani tim medis PMI. Saya lihat jam, baru jam setengah delapan malam. Mobil pemadam, mobil tim medis RSUD Tarakan, panggung konser, soundsystem, lighting, dll sudah oke. Aparat lain juga banyak berjaga-jaga di pintu-pintu masuk.

Wakapolres Tarakan mewakili Kapolres yang tengah bertugas ke luar kota membuka acara. Gayanya gaul banget, khas anak muda. “Nidjiholic dan sahabat Peterpan, mari menonton konser ini dengan aman.” Seolah menjadi tradisi pembuka konser musik garapan EO Radar Tarakan ya kapolres atau yang mewakili.

Ketika Peterpan tampil tepat pukul 8 malam, wuih langsung deh kerumunan orang merangsek ke depan panggung. “Ariel, ariel?” teriak mereka.

Satu demi satu lagu-lagu Peterpan dinyanyikan. Ariel tak tampak lelah, tetap menghibur meskipun media infotainment gencar memberitakan kasus perceraiannya dengan Sarah Amalia, istrinya. Koor penonton pun membuat Ariel Cs senang. Saat asyik menyanyikan lagu-lagu Peterpan, pandangan saya tertuju pada pasangan muda yang membawa anak balitanya ke konser.

Balita? Bukan hanya satu dua pasangan. Tapi banyak. Waduh. Kasihan banget. Apa nggak ada yang menjaganya di rumah? Konser ini kan bukan untuk anak kecil, sekecil dia. Masih bayi. Bukannya malam jamnya tidur anak sekecil itu? Tapi oleh orangtuanya tetap disuruh melek, diajak nyanyi-nyanyi. Belum lagi kena kepulan asap rokok penonton lain.

Berikutnya band yang tampil adalah Nidji. Band yang gaya berbusana vokalisnya, Giring, menjadi ikon fashion anak muda, seperti kafieh untuk scraft di leher. Atau rambut kribo dan gaya lonjak-lonjaknya saat diatas panggung yang sering memukau fans.

Menurut saya ada satu ungkapan Giring yang menarik. “Saya abis makan malam tadi. Makan kepiting dan udang Tarakan, Man!” kata Giring yang disambut geer dan sorak sorai senang penonton.

Tahu nggak, kenapa ungkapan Giring ini menarik. Secara nggak langsung promo Tarakan lewat makanan. Moga aja Giring bercerita dengan artis-artis lain. Jadi banyak yang pada datang ke Tarakan. Namanya artis, gerak gerik, tingkah laku, kata-kata selalu jadi berita. Selebritis gitu lho.

Puas nonton, saya pun keluar dari venue. Pilihan saya pada pintu belakang. Waduh, salah pilih pintu nih. Sempat terjadi aksi dorong-dorongan. Padahal di depan jalanannya becek. Untungnya panitia mengingatkan terus bahkan pakai lampu sorot segala. Biar selamat saya minggir duluan dan menanti hingga massa kian surut. Ternyata di luar juga antre menuju halaman parkir Pasar Boom Panjang yang penuh sesak kendaraan. Ya, bersabar dulu sambil jalan-jalan ke pasar kaget. Pasar yang ada hanya saat konser. Ada pedagang minuman, makanan, pernak-pernik lainnya.

Tiap ada evennya Radar Tarakan kadang saya senang sampai menitikkan airmata kalau melihat para pedagang ini. Dibalik even-evennya Radar Tarakan ternyata ada beberapa orang yang mengais rejeki dari sini ya. Kadang saya sering berdoa dalam hati,”Ya Allah. Beri mereka rejeki. Beri mereka rejeki hingga dagangannya habis. Amin.”

Selesai keliling di pasar kaget, massa masih antre juga. Saya memilih meniti jembatan dekat rumah Pak RT 27 menuju halaman parkir pasar tradisional modern tersebut. Pasar Boom Panjang yang biasanya lengang saat malam pun berubah seperti pasar malam. Ramai orang dan kendaraan. Beberapa di antaranya ada yang antre angkot, adapula yang berjalan kaki. Saya dan adik memilih berjalan kaki menuju Hotel Dinasty tempat saya menginap. Kok nginap di hotel segala? Yup. Karena mobil saya untuk operasional artis, lagian saya harus berada di dekat lokasi konser untuk memudahkan teman-teman berkoordinasi. Saya juga nggak mau terjebak kemacetan saat banjir di depan Idec di Kampung Empat, seperti tempo hari. Wah, bisa kacau nanti.

Sampai di pertengahan jalan, kaki sudah tidak kuat lagi berjalan. Ini nih kalau kebanyakan naik mobil. Jalan sedikit kaki sakit. Walah… untung aja ada angkot.
Ya, konser usai sudah. Sukses bukan hanya milik EO Radar Tarakan, tetapi benar-benar kerja tim yang hebat. Termasuk aparat keamanan, tim medis, kru, dan A Mild Live production, Deteksi Production, serta lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.

Thanks guys.

Kini, tinggal beberapa pekerjaan rumah (PR) yang harus dituntaskan. Tempat konser musik selain di Lapangan Sepakbola Pasar boom Panjang, dimana lagi? Yang aksesnya mudah dan yang pasti nggak becek dan nggak bau kambing. Mbekkk… Kan malu. Imej Tarakan gitu lho.

Tapi senangnya dengan Rising Stars, Tarakan termasuk salah satu kota dari 33 kota se-Indonesia yang disinggahi grup band papan atas. So, kedudukan kita sejajar dengan kota-kota lain. Bersaing dengan kota-kota lain siapa takut. Kita pasti bisa meskipun kita jauh di utara Kaltim. Meskipun sering diremehkan,”Kok Tarakan nggak ada di peta ya.” Oou…. (https://bloganny.wordpress.com)


2 Responses to “Thank You”


  1. 1 gita
    Maret 11, 2008 pukul 1:02 pm

    SELAMAT mba…atas suksesnya tim kerja EO Radar Tarakan untuk acara A MILD RISSING STAR, moga acara spektakuler kayak gini bisa diadakan lagi dan tentunya dengan prasarana yang lebih bagus lagi…
    Tapi dah top deh mba meski bau kambing, dah gak kecium tuh baunya karena terhipnotis NIDJI da Peterpan ..skali lagi selamat deh atas kesuksesannya menyuguhkan hiburan buat masyarakat Tarakan…

  2. Maret 11, 2008 pukul 1:40 pm

    thanks ya gita. nonton dimana? depan, belakang atau samping dekat kambing???? hehehehe…
    jangan-jangan kamu pakai parfumnya kebanyakan kali. bercanda ya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: