08
Apr
08

Ingat Pak Dahlan, Ingat Ayah Saya

Kick Andy, program talk show di Metro TV dengan pemandu acara Andy F Noya sangat spesial. Pekan lalu menampilkan bos Jawa Pos Group, Dahlan Iskan. Saya sampai menontonnya dua kali. Pertama, Kamis malam. Kedua, Minggu sore, yang merupakan siaran ulang.

Seperti biasa, gayanya Pak Dahlan yang kocak menyegarkan suasana. Penjelasan detail soal penyakit itu tak beda jauh dengan tulisan bersambungnya di seluruh media Jawa Pos Group, atau lebih lengkap dengan foto-foto dan tanggapan-tanggapan via SMS serta email di bukunya yang berjudul “Ganti Hati”.

Tapi justru ketika Pak Dahlan menangis di acara yang memiliki rating tinggi itu, suasana mendadak berubah menjadi mengharu biru. Pak Dahlan menyesali kenapa tak bisa menolong guru sekaligus idolanya (Cak Nur atau Nurcholish Majid) menghadapi sakit yang sama dengan dirinya.

Ini mengingatkan saya pada ayah saya. Ayah saya sudah tiada, juga dengan penyakit yang sama dengan Pak Dahlan. Ah, seandainya saya tahu sejak dulu… seandainya saya punya duit banyak… tapi sudahlah mungkin sudah takdir ayah saya begitu. Saya dulu tahu kalau ayah saya sempat muntah darah, beberapa kali masuk rumah sakit, sampai berobat ke RSU Dr Sutomo Surabaya. Waktu itu sekilas ibu hanya bilang “hatinya ayah di las di Surabaya”. Saya ingin tahu lebih banyak tapi selalu dicegah. Saya hanya diperbolehkan kembali ke Samarinda dan melanjutkan kuliah.

Belakangan, ketika ayah wafat dan beberapa hari di rumah ibu bercerita dan menunjukkan surat-surat dari dokter. Saya sempat membacanya SIROSIS HATI. Kata dokter, hati ayah saya sudah mengeras dan tak bisa lagi ditolong. Lama, saya termangu nggak ngerti harus berbuat seperti apa lagi. Ini pertama kalinya dalam hidup tiba-tiba ditinggalkan ayah kembali ke hadirat ilahi rabbi. Saya sempat limbung, bingung, tapi ya tetap semangat untuk melanjutkan kuliah. Sebagai anak pertama, sayalah yang kemudian menggantikan tugas ayah sebagai kepala keluarga. Karena di keluarga sayalah anak pertama dari 4 bersaudara yang perempuan semua. Dari adik-adik saya, sempat terbetik cerita kalau mereka sempat vaksin setelah ayah diketahui memiliki penyakit sirosis hati. Inipun saya tahunya belakangan.

Begitu kisah-kisah Pak Dahlan dipublikasikan, baru saya tahu vaksinasi hepatitis B. Supaya tak terkena penyakit seperti ayah. Bagaimana dengan saya? Alhamdulillah saya baik-baik saja sampai saat ini. Semogalah Allah selalu melindungi saya.

Di akhir acara, pak Dahlan menerima bingkisan berupa karikatur dirinya dengan “dua mercy”. Satu mobil mercy miliknya yang harganya ditaksir Rp3 miliar. Sedangkan satunya lagi kalung berlogo mercy. Ya, karena bekas operasi Pak Dahlan di perut membentuk logo mirip logo mercy.

Setelah menonton Kick Andy dan cita-cita mulia Pak Dahlan untuk kampanye vaksinasi hepatitis B, mungkin ada baiknya gerakan itu dimulai dari lingkungan sendiri. Teman-teman saya di Samarinda sudah melakukan itu. Bagaimana dengan saya dan teman-teman saya? Yang jelas nanti akan ada pemberitahuan lebih lanjut. (*)


0 Responses to “Ingat Pak Dahlan, Ingat Ayah Saya”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: