16
Apr
08

Siang di Tideng Pale, Malam di Malinau, Esoknya di Tarakan (1)

MULAI 5 April lalu Pemerintahan di Kabupaten Tana Tidung mulai berjalan. Pjs Bupati dan sejumlah pejabat dikabarkan mulai ngantor. Jangan membayangkan kantor yang megah, karena ibarat membangun sebuah kabupaten baru maka ya dari nol lagi. Nah, weekend (3/4) tadi saya dan rekan-rekan Radar Tarakan menengok kabupaten paling muda itu, tepatnya di ibukota KTT Tideng Pale (sebelumnya selalu disebut Tidung Pala).
Berangkat dari Pelabuhan Tengkayu Tarakan, speedboat yang saya tumpangi melaju ke Malinau. Kok Malinau? Sengaja, ngetes ingatan saya manakah wilayah Tideng Pale. Karena setiap kali ke Malinau, saya jarang mampir ke Tideng Pale. Paling banter kalau speedboat-nya lewat ya penumpang rame-rame membeli nasi udang sungai plus sambal pedas yang rasanya ueeenak banget. Apalagi kalau menyantapnya pas lagi lapar.

Dan benar saja, hampir kelewatan. Meskipun sudah memberitahu petugas kalau saya akan mampir ke Tideng Pale, tapi saya lupa memberitahu ke motoris. Untunglah, akhirnya mampir juga disini. Sambil menunggu rekan Radar Tarakan lainnya dari Malinau, saya mampir ke salah satu warung yang menghadap ke sungai. Menikmati panorama lalu lalang speedboat Malinau-Tarakan dan Tarakan-Malinau, perahu-perahu nelayan dan anak-anak penjaja nasi udang yang duduk bergerombol menanti kedatangan speedboat. Jadilah kemudian setelah rekan saya dari Malinau tiba, acara menjadi makan siang bareng di Tideng Pale. Sesuatu yang jarang dilakukan. Makan siang mesti naik speedboat dulu ke lokasi yang dituju.

Soal makan siang ini mengingatkan saya saat 9 tahun lalu, tepatnya tahun 1999 saya yang masih reporter Harian Samarinda Pos (koran terbesar di Samarinda, Kaltim Post Group) meliput kegiatan Gubernur Kaltim Suwarna AF. Waktu itu peresmian pemekaran wilayah Kabupaten Malinau. Nah, sepulang dari Malinau rombongan dijamu makan siang di Tideng Pale. Seingat saya Sesayap, belakangan baru saya tahu kalau Sesayap adalah nama kecamatan sedangkan Tideng Pale adalah sebuah nama daerah bagian dari Sesayap. Setelah saya ditugaskan di Radar Tarakan, selama itupula saya tak sempat benar-benar mampir ke Sesayap ataupun ke Tideng Pale hingga Tideng Pale ditetapkan sebagai ibukota KTT. Tarakan-Malinau, Malinau-Tarakan, begitulah rute perjalanan saya. Karena setiap kali kunjungan ke daerah-daerah saya tak punya waktu banyak, mengingat kesibukan di Tarakan sangatlah padat. Perjalanan harus terencana dan sesuai jadwal.

Sementara rekan saya salat jumat di masjid, saya berkeliling ke Tideng Pale jalan kaki. Menyusuri jalan-jalan kampung tapi sudah beraspal dan bersih. Ada rambu lalu lintasnya lagi. Masih baru. Acara keliling-keliling dilanjutkan setelah rekan-rekan saya salat jumat. Jadilah kita satu rombongan ojek berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Paling menarik adalah kantor bupati sementara yang ternyata adalah sebuah puskesmas yang disulap sebagai tempat kerja orang nomor satu di KTT. Begitu melihat kantor bupati ini rasanya belumlah layak dikatakan kantor bupati. Bangunannya kecil, tapi untuk sementara tak mengapalah. Justru yang menarik adalah letak kantor bupati di puncak gunung. Wah, view-nya sangat menarik. Udaranya sejuk. Sejauh mata memandang adalah kawasan Tideng Pale yang masih hijau dan sungainya. Nah, ketika itu saya dan rekan-rekan melewati pula jalan yang menghubungan KTT dengan Malinau dan Bulungan. Masih dibangun. Kalau sudah jadi, saya yakin arus penumpang dan barang akan ramai di Tideng Pale.

Lelah berkeliling-keliling, saya dan rekan-rekan menyempatkan diri ke rumah Kepala Dinas Pendidikan di KTT. Ngobrol di beranda rumahnya yang asri. Tampak kesibukan di rumah ini lantaran ada kegiatan keesokan harinya. Yakni, saat weekend ada kegiatan pertandingan persahabatan antara pegawai kabupaten induk (Pemkab Bulungan) dengan KTT.

Perjalanan selanjutnya ke Malinau. Ternyata tak semua speedboat dari Tarakan singgah ke Tideng Pale untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Malinau. Alternatifnya carter speedboat. Bagaimana serunya carter speedboat dan mengarungi sungai kayan menuju Malinau di tengah banjir limbah kayu? Ikuti cerita bersambungnya ya….(bersambung)


0 Responses to “Siang di Tideng Pale, Malam di Malinau, Esoknya di Tarakan (1)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: