09
Jun
08

Gunawan: Ooo, Kang Abik Itu Ternyata Masih Muda ya?

Ngobrol Bareng Habiburrahman El-Shirazy, Penulis Novel “Ayat-Ayat Cinta” (1)

INI sisi lain dari seorang dai, novelis sekaligus penyair yang tengah digandrungi berbagai kalangan. Dialah Habiburrahaman El-Shirazy yang kedatangannya di Tarakan terkait acara Talk Show Nasional dan Jumpa Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta garapan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Tarakan, Minggu (1/6) lalu. Berikut tulisannya yang ditulis bersambung:

Anny Susilowati

KALI pertama bertemu dengan Habiburrahman El-Shirazy, saya sempat terkecoh. Orangnya masih sangat muda dan sangat berbeda dengan foto-fotonya yang beredar di internet maupun yang dipasang di baliho simpang Ladang, Tarakan. Nyatanya Kang Abik sangat muda dengan usia 32 tahun. Tepatnya dia kelahiran Semarang 30 September 1976.

Penulis novel mega best seller Ayat-Ayat Cinta itu datang ke Radar Tarakan bersama adiknya Anif Sirsaeba, sesaat setelah mendarat di Tarakan, Sabtu lalu. Kang Abik –sapaan akrabnya—terlihat bersahaja, wajahnya teduh, matanya bening, tutur katanya lemah lembut dan tak lupa senyum selalu tersungging di sudut bibirnya. Sama sekali tak ada raut kelelahan mengingat perjalanan ke Tarakan cukup panjang. Saat ke Radar Tarakan dia mengenakan baju kaos bertuliskan sebuah acara di Kota Malang Jawa Timur, bercelana kain panjang dan memakai sandal kulit.

Saya dan GM Telkom Kaltim Utara Gunawan Edi Wibowo serta dua tamu dari PT Medco E & P Tarakan sempat lama terdiam dan baru ngeh kalau yang datang adalah Kang Abik –panggilan akrab—Habiburrahman.

“Ooo, Kang Abik itu ternyata masih muda ya,” kata Gunawan saat saya dan lainnya berkumpul di ruang pertemuan Gedung Silver Radar Tarakan. Kebetulan saat itu kami menyambut kedatangan tokoh yang disebut-sebut sebagai The Young Hamka Indonesia itu langsung di ruang pertemuan.

Saya buru-buru menyambutnya di pintu masuk ruang redaksi. Memperkenalkan dengan seluruh awak redaksi. Seperti biasa, kali pertama ditanya pasti soal proses pembuatan Ayat-Ayat Cinta (AAC). Banyak yang masih penasaran. Selain kisah tragis Kang Abik kecelakaan sepeda motor di Yogyakarta. Saat berada di ruang pertemuan itulah Kang Abik sempat menceritakan kembali kisah memilukan yang hampir membuat dia kehilangan kakinya. Saya sempat nyeletuk, “Jadi sekarang Anda memakai kaki palsu?”

“Oh, tidak. Ini asli, lho,” katanya dengan gaya kocak dan membuat seisi ruangan tertawa.

Soal fotonya yang terlihat tua, dia pun nyeletuk yang lagi-lagi membuat saya dan tamu-tamu tertawa. “Ya, biar penasaran.” Ketika ditanyakan, apakah ini salah satu trik marketing untuk memasarkan buku-bukunya dia dan adiknya malah tertawa. “Jadi saya dikira sudah tua betul ya. Hehehe.” Salah satu panitia pun membenarkan. Anif menimpali, mungkin terlihat tua lantaran Kang Abik saat difoto tengah bercambang lebat.

Kang Abik juga menuturkan, bahwa keberuntungannya menuliskan Ayat-Ayat Cinta sebenarnya bukan tiba-tiba. Dia sudah rajin menulis sejak kuliah di Kairo, Mesir. “Baru sebatas cerpen dan terjemahan biasa. Novel juga sudah ada. Cuma yang melejit ya Ayat-Ayat Cinta itu. Jadi bukan ujug-ujug (tiba-tiba bahasa jawa.red) nulis terus booming,” ujar Kang Abik yang bukunya Ayat-Ayat Cinta kini tembus 1 juta kopi.

Beberapa karyanya adalah, Ketika Cinta Berbuah Surga (kumpulan kisah teladan), Di Atas Sajadah Cinta (kumpulan kisah teladan, 2004), Pudarnya Pesona Cleopatra (Novelet, 2004), Ayat-Ayat Cinta (Novel, 2004), Ketika Cinta Bertasbih I, Dalam Mihrab Cinta (novelet, 2007), Ketika Cinta Bertasbih II, Nyanyian Cinta dan Ketika Derita Mengabadikan Cinta.

“Novel lainnya menyusul di-launching. Tunggu saja. Judulnya, Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening dan Bulan Madu di Yerussalem,” kata Kang Abik, ayah dari Muhammad Neil Author dan Muhammad Ziaul Kautsar. Dua buah hatinya dari sang istri bernama Muyasarotun Saidah.

Diakhir pertemuan di Radar Tarakan, Kang Abik sempat didaulat untuk memimpin doa. Kali ini doanya sangat menggetarkan hati dan membuat terharu. Diawali dengan sebuah kisah seorang musafir (pengembara) dengan pakaian compang camping dan perut yang melilit kelaparan. Suatu ketika dia berdoa. Berdoa hingga khusyuk. Sangat-sangat khusyuk. Namun doanya itu tak kunjung dikabulkan. Ternyata pakaiannya yang dikenakan itu didapat dari perbuatan yang haram. Pakaiannya itu tidak halal. Sehingga membuat doa-doanya tidak dikabulkan Allah SWT. Hikmahnya apa? Kang Abik menekankan hendaknya dalam setiap makanan, minuman yang kita makan dan pakaian yang kita kenakan selalu didapat dengan jalan halal. Barulah Kang Abik melanjutkan doa khusus untuk Radar Tarakan.

Selanjutnya, ngobrol bareng Kang Abik dan adiknya bukan hanya di Radar Tarakan serta bukan melulu soal buku-bukunya. Kang Abik juga menaruh perhatian pada kenaikan BBM, dunia kuliner Tarakan, pariwisata Tarakan, otonomi daerah, dunia perfilman tanah air, hingga keinginannya untuk membuat novel di Tarakan dan Krayan, Nunukan. Penasaran kan? Ikuti ceritanya besok. (bersambung/anny@radartarakan.com)


0 Responses to “Gunawan: Ooo, Kang Abik Itu Ternyata Masih Muda ya?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: