09
Jun
08

Sup Sirip Hiu dan Ikon Komunitas Pecinta AAC

Ngobrol Bareng Habiburrahman El-Shirazy, Penulis Novel “Ayat-Ayat Cinta” (3-habis)

Tarakan terkenal dengan kepiting saosnya, tapi bagi Habiburrahman El-Shirazy (HES) sup sirip ikan hiu Tarakan yang paling enak. Apalagi dia baru kali pertama mencicipi. Selain itu, Tarakan mencatat sejarah sebagai kota pertama yang memunculkan ikon komunitas pecinta novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Benarkah?

ANNY SUSILOWATI

“Makanan khas Tarakan apa saja?” tanya Kang Abik pada panitia Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Tarakan.

Bachtiar Afifuddin, ketua panitia talk show nasional dan jumpa penulis AAC pun menjelaskan beragam makanan khas. Mulai dari kepiting saos Tarakan, ikan, udang dan lainnya.

“Khasnya Tarakan itu kepiting. Ayo siapa mau,” tawaran Gunawan Edi Wibowo, GM Telkom Kaltim Utara pun disambut hangat.

“Kalau sup-sup gitu ada ya?” tanya Kang Abik lagi.

Saya yang tengah buka-buka menu menimpali,”Kalau sup hisit atau sup sirip ikan hiu mau?”

“Hiu? Menarik. Boleh deh,” kata Kang Abik lagi.

“Mengapa Kang Abik tidak makan kepiting? Bukankah ini halal?” tanya saya.

“Ya, para ulama di Mesir juga sudah memfatwakan halal. Tidak ada masalah. Hanya saya kok inginnya sup, panas-panas biar segar badan,” jelasnya.

“Jadi ini kali pertama Anda memakan sup sirip ikan hiu?,” tanya saya balik.

“Ya. Dan ini ikan terbesar yang pernah saya makan. Hiu,” ujarnya lagi sambil menyeruput segelas teh hangat.

(Kang Abik mungkin belum tahu. Dari berbagai jurnal, dikatakan bahwa sup sirip hiu berasal dari kanton, tiongkok. Dalam jamuan makan lengkap, sup ini melambangkan kekayaan dan status sosial. Sup ini terkenal kelezatannya. Meskipun 100 persen adalah lantaran kepiawaian sang koki yang mengolahnya. Sebab sirip hiu sangat lemah dalam rasa, tetapi memiliki kemampuan untuk menyerap rasa dari bahan-bahan sup lainnya.

Dari jurnal lainnya didapati khasiat sup sirip hiu dipercaya menunda penuaan dini pada kulit, juga menambah vitalitas tubuh. Meski begitu, mitos ini dibantah ahli nutrisi dari Universitas Taiwan, Prof Chang Hung-min yang mengatakan, sebutir telur ayam pun lebih bergizi dibandingkan semangkuk sup sirip hiu. Namun peneliti-peneliti lain mengungkapkan hasil yang positif.

Peneliti dari Indonesia yang juga Kepala Pusat Studi Satwa Primata Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor, Drh. Dondin Sajuthi PhD mengakui ekstrak tulang rawan ikan hiu dapat menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru. Hal itu ia buktikan lewat penelitiannya.

Kemudian Dokter Henry Brem dan dr Allen K Sills dari Johns Hopkins University melaporkan salah satu senyawa yang berasal dari ikan hiu, Squalus, terbukti dapat menghambat pertumbuhan pembuluh darah baru yang menyalurkan makanan ke tumor otak. Intinya sup sirip hiu tetap berkhasiat.

Berapa harga sup ini? Di Tarakan rata-rata Rp300 ribu hingga Rp1 juta keatas per mangkuk. Tergantung porsinya, kecil, menengah atau besar? Mengapa mahal? Ya, karena sirip hiu lebih lezat ketimbang daging hiunya. Selain itu cara mengolahnya pun njelimet alias susah. Dari bincang-bincang saya dengan salah satu pengelola rumah makan, sirip hiu terlebih dahulu dipapar di panas matahari hingga kering. Setelah itu dimasukkan ke dalam air panas hingga berubah menjadi bihun atau soun gitu. Lebih bagus dimasukkan sekalian bumbu-bumbu jadi bisa meresap ke dalam sirip hiu. Kalau tak ada bumbu, rasanya sirip hiu itu hambar sekali. Kalau tak pintar mengolah, bau menyengat akan jadi kendala.

Di Malaysia, kementerian disana sudah melarang warga menyantap sup sirip hiu. Di Singapura, permintaan sirip hiu meningkat dari 180 ton tahun sebelumnya menjadi 320 ton di tahun berikutnya. Mengingat permintaan yang semakin besar membuat perburuan hiu kian marak. Padahal hiu adalah penjaga ekosistem di laut. Tetapi di Tarakan belum ada warning. Kita masih bebas menyantap sup sirip hiu disini. –dari berbagai sumber)

“Lho kok jauh-jauh dari semarang hanya pesan teh hangat? Sementara kami banyak memesan jus buah segar?” kata saya lagi.

“Kebiasaan dari Mesir. Apapun makanannya, minumnya harus teh manis hangat,” kata Kang Abik enteng menirukan tagline sebuah iklan teh di teve.

Anif Sirsaeba, adik kandung Kang Abik justru memesan kepiting lada hitam. Bedanya dengan hiu, kepiting Tarakan adalah hasil budidaya tambak. Jadilah makan bareng sore itu di sebuah resto ternama menjadi bincang-bincang menarik soal makanan, sambil menikmati hidangan yang ada.

Nah, menariknya lagi ketika kali kedua makan malam di resto lainnya di kawasan Kusuma Bangsa. Kang Abik sempat ditanyai Pak Gun Telkom soal kesannya selama di Tarakan.“Kesannya wisata kuliner melulu nih. Mulai dari pertama kali datang hingga mau pulang,” katanya yang disambut tawa.

Anif menimpali, bagusnya kalau ke Tarakan untuk kali kedua mengajak sutradara Ketika Cinta Bertasbih (KCB) Khairul Umam. Bersamanya, Kang Abik dan Anif sering diajak wisata kuliner hingga ke pelosok-pelosok.

“Kerang di Alam eh… Amal ya juga enak. Wuih bisa jadi pariwisata menarik untuk mereka yang berasal di luar kota. Itu memang kerangnya putih gitu ya?” ujar Anif takjub.

Selain berwisata kuliner, KangAbik juga sempat diajak panitia ke beberapa obyek wisata. Seperti pipa angguk Medco E & P, wash tank yang terkena ledakan bom perang dunia II, hingga ke hutan mangrove Tarakan melihat bekantan.

Agenda lain Kang Abik ternyata juga berkeliling ceramah ke beberapa masjid di Tarakan. Maklumlah, Kang Abik selain novelis dan penyair, dia juga da’i. jadi sekalianlah diminta memberikan nasihat-nasihat berharga.

Soal Kota Tarakan, Kang Abik takjub dengan kemajuan kota yang melampaui daerah-daerah di Jawa. Otonomi daerah menurutnya menjadi berkah tersendiri untuk kota-kota di luar Jawa. Seperti di Bintan Kepulauan Riau itu, pas dia kesana ternyata sangat maju sekali.

Sedangkan Anif lebih menekankan bahwa sebuah sejarah telah tercipta di Tarakan. Berawal dari spanduk selamat datang pecinta novel AAC pas di pintu masuk hall Kayan, Hotel Tarakan Plaza, tempat berlangsungnya acara talk show Ayat-Ayat Cinta minggu (1/6) lalu. Dia berpikir bahwa komunitas AAC dengan sendirinya telah terbentuk di Tarakan.

“Momennya pas banget. Ikon komunitas pecinta ayat-ayat cinta itu ternyata dari Tarakan yang memulai. Ini menandakan apresiasi warga Tarakan terhadap novel Kang Abik selama ini sangatlah tinggi,” ujar Anif lagi sambil meminta panitia agar diperbolehkan membawa spanduk yang dimaksudkannya tadi untuk dibahas ditingkat manajemen Habiburrahman El-Shirazy.

Kang Abik tiba-tiba menimpali. “Kayaknya perlu juga membuat novel di Tarakan, kalau sejarahnya juga dimulai dari sini. Judulnya apa ya? Cintaku Nyangkut di Tarakan kali,” yang langsung disambut geer semua.

Kehadiran pujangga muda yang satu ini bisa diartikan pula kebangkitan dunia sastra di Tarakan. Kita tunggu saja, karya-karya sastra warga Tarakan bersanding dengan karya-karya Kang Abik suatu saat kelak. Semoga. (habis/anny@radartarakan.com)


1 Response to “Sup Sirip Hiu dan Ikon Komunitas Pecinta AAC”


  1. 1 nelly
    Januari 1, 2009 pukul 10:01 pm

    salam kenal. mau tau dong bagaimana cara membersihkan sirip ikan hiu. terima kasih ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: