11
Jun
08

Kopi Arab Made In Tanjung Selor

Refreshing Sejenak Ke Bulungan-Berau (3-Habis)

SUKA kopi? Asyiknya minum kopi sambil membaca karya sastra penyanyi sekaligus penulis, Dewi Lestari berjudul Filosofi Kopi. Tapi saya tak hendak mengupas karya dari istri penyanyi Marcel “Candu Asmara” itu. Saya akan bercerita tentang Kopi Arab Made In Tanjung Selor, Bulungan:

Anny Susilowati

“Mbak, mau minum apa? Kopi, teh, susu, apa coffee mix?” tanya Plt Kepala Biro Radar Tarakan di Berau, Rahmat Effendy sesaat saya sampai di kantor biro.

“Kopi Arab,” kata saya singkat sambil merebahkan tubuh di sofa kantor yang empuk. Penat sekali usai perjalanan Bulungan-Berau.

“Maksudnya kopi arabika, robusta gitu?” kata Fendy panggilan akrab cowok asal Pulau Bunyu dan lama berkarier di koran grup Jawa pos di Makassar, sebelum akhirnya bergabung dengan Radar Tarakan.

“Bukan. Tuh, tadi pas mau ke Berau mampir dulu di kampung Arab Tanjung Selor beli kopi arab. Ada di mobil, tanya Mas Ridwan (koordinator pemasaran Bulungan),” kata saya sekenanya sambil menyalakan teve untuk menonton berita penangkapan Habib Rizieq, pimpinan Front Pembela Islam (FPI).

“Harum ya. Kopi bubuk plus rempah-rempah kayaknya. Kok mbak tahu aja sih ada kopi arab di Tanjung Selor. Kok aku nggak pernah tahu ya. Padahal sering bolak balik ke sana. Trus cara buat minumannya gimana?” tanya fendy lagi. Kali ini dengan wajah penasaran, sementara saya masih asyik memerhatikan berita.

“Seperti biasa. Diseduh dengan air panas tambahkan gula,” ujar saya lagi.
Fendy kelihatan bergegas ke dapur kantor.

“Mbak, kopinya satu sendok apa dua sendok? gulanya seberapa? Berapa sendok maksudnya?” teriaknya dari dapur.

“Kopinya satu sendok, gulanya dikit aja. Manis-manis jambu. Jangan kemanisan ya.” Kata saya lagi.

“Mbak pakai gelas besar apa kecil?” kata Fendy, lagi-lagi sambil melongokkan kepalanya di ruang tengah, tempat saya bersantai di sofa sambil menonton teve.

“Ihhhh, ganggu aja. terserahlah. Lagi asyik nih nonton berita. Biasa bikin kopi nggak sih?” kata saya masih memerhatikan berita yang lagi hangat di televisi.

“Aku nggak suka kopi, mbak. Mag-ku suka kambuh kalau minum kopi, hehehe,” kata Fendy lagi.

Sesaat kemudian, Fendy membawakan kopi arab tersebut. Hmmm harumnya semerbak ke seluruh ruangan. Ridwan yang sedari tadi di teras kantor ikut bergabung. Jadilah saya dan rekan-rekan saya diskusi mengenai berbagai hal sambil menyeruput kopi arab yang rasanya top abis. Maksudnya hanya saya yang minum, kedua rekan saya tidak karena takut mag-nya kambuh.

Kopi yang saya hanya tahu dari teve, kini justru saya tengah menikmatinya. Salah satu teve pernah menayangkan soal buka puasa warga keturunan arab di suatu tempat di Indonesia. Nah, buka puasanya adalah dengan kopi arab dan buah kurma. Dalam tayangan itu juga diceritakan mengenai cara pembuatannya. Air direbus, kemudian dicampur dengan kopi ditambahi rempah-rempah. Plus diberitahukan pula khasiatnya bisa menyegarkan kembali badan setelah seharian puasa.

Nah, begitu tahu kalau di Kampung Arab Tanjung Selor ada kopi arab, langsung saja deh saya mencaritahu tempat penjualannya. Ternyata hanya di sebuah toko kecil di pinggiran Sungai Kayan. Harga per kilonya Rp50.000. Cukup mahal memang ketimbang buat sendiri, repot.

Kenapa ya “kopi arab made in Tanjung Selor” ini tidak dikemas khusus dan lokasi penjualannya menjadi lokasi wisata menarik? Bila perlu ada café khusus kopi arab, masakan khas arab, souvenir khas arab, hingga sisha –gaya merokok khas timur tengah. (Sisha katanya sih nggak bikin kanker, lho). Padahal kalau bisa dilakukan, bukankah ini menjadi pariwisata menarik. Sebuah komunitas arab di Tanjung Selor. (cerita tentang Kampung Arab kapan-kapan saya akan ceritakan khusus).

Promosinya kalau perlu dinas pariwisata Bulungan membuat begini,”Tak perlu jauh-jauh ke Arab. Cukup ke Kampung Arab Tanjung Selor Bulungan, Anda bisa menikmati sajian kopi arab dan makanan khas timur tengah sambil bersantai di Tepian Sungai Kayan. Little Arab in Tanjung Selor, Bulungan.” Menarik!

“Mbak, ke Tepian, yuk! Tandatangan kontrak even Berau dan Tarakan di sana aja kah? Aksa (manajer EO) menyusul ke Berau nih. Dia sama rombongan bos-bos koleganya Radar Tarakan. Lagi dalam perjalanan katanya nyusul Mbak,” kata Ridwan mengagetkan lamunan saya soal kopi arab.

“Liatlah entar. Wisata kuliner dulu, oke,” kata saya sambil bergegas menuju mobil yang menuju ke Tepian.

Tepian adalah lokasi wisata kuliner favorit tiap kali berkunjung ke Berau. Lokasinya yang persis di sisi Sungai Segah mengingatkan saya saat berada di Tepian Mahakam Samarinda atau di Melawai Balikpapan. Berada di Tepian Sungai Segah Berau, saya dan rekan-rekan saya memilih menu sate padang dan minumnya jus buah segar. Di sini ada beragam makanan, tinggal pilih. Gerobak pedagang sepanjang kurang lebih satu kilometer ini ramai saat sore hingga pukul 3 dinihari. Pagi hari bisa dipastikan lokasi ini sangat bersih dan rapi. Tak tampak tanda-tanda kalau semalam ada keramaian di lokasi ini.

Yah, refreshing sejenak, membuat banyak pengalaman baru sebelum akhirnya balik ke Tarakan via Tanjung Selor Bulungan. (habis/anny@radartarakan.com)


0 Responses to “Kopi Arab Made In Tanjung Selor”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: