07
Jul
08

Resep Siap Kalah ala Yusuf Abdullah

HARI masih pagi. Sekitar pukul 6 kurang seperempat. Setelah memarkir mobil di pelataran parkir Pelabuhan Tengkayu, saya jalan kaki ditemani salah seorang buruh pelabuhan yang juga tetangga saya di kantor lama, menuju pelabuhan speedboat. Sejuknya udara pagi tak menyurutkan langkah saya untuk memenuhi undangan PJ Bupati Kabupaten Tana Tidung (KTT) Zaini Anwar untuk menghadiri undangan pelantikan anggota DPRD KTT beberapa waktu lalu.

Saya suka ke pelabuhan tengkayu. Mau datang pagi, siang, sore, malam kondisinya sama. Bersih. Kok tahu? Ya karena sering bepergian dengan speedboat keluar daerah, ya tahulah. Kalau pun ada sampah-sampah ya paling ketika padat-padatnya manusia di pelabuhan, tapi setelah itu ya bersih. Atau sampah-sampah di perairan. Duhhhh, masih ada aja sih yang buang sampah ke laut. Tarakan sudah dapat Adipura, lho.

Banyak suka duka yang saya alami di pelabuhan ini, salah satunya nyaris terperosok ke sela-sela kayu tahun 1999. Waktu itu pelabuhan tengkayu masih papan kayu. Saya masih reporter harian Samarinda Pos (Kaltim Post Group) dan tergabung dalam satu tim rombongan wartawan dari Pemprov Kaltim untuk liputan pemekaran Malinau dan Nunukan. Jadilah saya ke Malinau dan Nunukan via Tarakan untuk kali pertama.

Pernah juga nyaris nyemplung ke laut tahun 2001 atau 2002 lalu. Waktu itu air surut, pelabuhan jaraknya jauh ke speedboat. Penumpang harus turun melewati ban yang tergantung. Saya sempat ragu-ragu, teman saya membantu memegangi tangan saya terlepas dan buk! jatuh deh. Waktu itu saya cuma berucap Allahuakbar, Ya Allah, saya nggak bisa berenang. Begitu sadar, saya rupanya terjatuh di dek kanan depan speedboat. Antara malu dan sakit di bahu ditolongin kru speedboat. Kalau ingat itu saya suka senyum-senyum sendiri. Pun beberapa pengalaman lainnya, di antaranya naik speed bersama kambing (2006) sudah saya tulis di blog saya https://bloganny.wordpress.com.
Banyak pengalaman seru, lucu, menegangkan kalau naik speedboat.

Kalau malam di pelabuhan yang juga menjadi lokasi favorit untuk resepsi pernikahan itu, saya suka kongkow-kongkow ngajak teman ke café camfilo. Beberapa relasi dari luar kota yang saya ajak ke café inipun sempat memuji. Pelabuhan tapi kok bersih ya? Wah, yang tahu jawabannya Mas Budi, pimpinannya CV Camfilo pengelola Pelabuhan Tengkayu.

Menikmati pagi di pelabuhan tengkayu saya harus segera mendapatkan speedboat menuju ke Tideng Pale (ibukota KTT). Oou, speedboat dicarter semua. Satu-satunya jalan ya nebeng alias numpang. Sama siapa? Aha, ada Datuk Norbeck, Chaerul Saleh, dan rombongan Presidium Tana Tidung. Yang tidak saya sangka-sangka adalah keikutsertaan Yusuf Abdullah, mantan Wakil Walikota Tarakan periode 2001-2004 atau yang terkenal dengan julukan Yusuf Putih.

“Apa kabar, pak? Sehatkah?” kata saya kepada sahabat sejak kecil Walikota Tarakan dr H Jusuf SK tersebut.

“Sehat saja. Alhamdulillah. Wah, lama ya kita tidak bertemu. Rasanya berapa tahun lalu sejak Anda mewawancarai saya usai kalah pertarungan Pilwali itu,” katanya balik sambil menyalami saya.

Saya memang ditugasi mewawancarai Yusuf Abdullah usai kalah Pilwali 2004, di kediamannya di Sebengkok. Gayanya ketika itu masih meledak-ledak. Terkesan marah yang terpendam. Uniknya, dia masih membacakan sebuah puisi berbahasa tidung untuk saya. Begitu di-translete ke bahasa Indonesia, wow, syairnya indah. Dia juga menunjukkan seluruh koleksi puisi-puisinya. Kebanyakan berisi curahan hati yang dituangkan dalam sebuah buku bersampul usang dengan tulisan tangan yang indah sekali. Sempat juga dia gusar soal lagu-lagu berbahasa tidung yang kini mulai pudar.

“Tak ada lagi ibu-ibu yang meninabobokkan anaknya sambil menyenandungkan lagu-lagu tidung,” keluhnya saat itu dengan mata berkaca-kaca menahan haru. Ada gurat kesedihan budaya tidung akan punah ditelan zaman.

(Ups… sudah ada album lagu-lagu tidung lho. Saya pernah diberi hadiah itu oleh mantan kasubbag humas Pemkab Nunukan. Wah, saya lupa namanya. Lagunya bagus-bagus dinyanyikan oleh paduan suara ibu-ibu Nunukan. Lagu tidung favorit saya, Bebilin).

“Anny, sekarang ini kan musim pilkada. Masing-masing calon mengklaim siap menang. Mengapa tidak ada yang mengklaim siap kalah?” katanya.

“Padahal”, lanjutnya lagi, “dengan komitmen calon-calon untuk bilang siap kalah, maka minimal bisa meredam konflik lanjutan usai pilkada digelar. Para kandidat ini kan punya massa banyak. Kita kan tidak mau kota kita seperti Maluku Utara itu. Setelah pilkada masih saja ribut-ribut.”

“Karena mereka (kontestan pilkada) belum punya pengalaman kalah dua kali dalam pilkada seperti bapak kali,” kata saya sekenanya.

“Ah, kamu ini. Ada-ada saja,” ujar Yusuf Abdullah tertawa.

“Lho, emang bener kan. Bapak yang punya banyak pengalaman kalah pilkada. Sudah kalah di pilkada Tarakan, di Pilkada Bulungan pun kalah lagi, tapi salut-lah. Sampai sekarang bapak masih eksis, nggak peduli apa kata orang,” sahut saya.

“Iya, bener-bener. Kalah pilkada dulu masih bisa ikut Lari 10 KM kan? Sekarang sudah tidak ada lagi,” katanya yang kali ini diiringi tawa lepas.

Saya ingat dulu, banyak pihak yang mengkhawatirkan Yusuf Abdullah mengikuti even Radar Tarakan-KNPI Tarakan berupa “Lomba Lari 10 KM”. Yusuf Abdullah dituding cari sensasi dengan melampiaskan kekesalannya tak terpilih dalam pilkada Tarakan dengan mengikuti lomba lari yang untuk ukuran dirinya kala itu sangat riskan. Saya dan panitia pun sangat mengkhawatirkan itu, hingga finish ambulans selalu berada di dekat dia. Toh, yang dikhawatirkan banyak orang tak benar. Yusuf Abdullah terlihat tegar. Mampu berlari 10 km tanpa henti. Meski tak juara, setidaknya pemberitaan tentang dirinya yang gencar membuatnya terlihat happy.

Apakah dalam pilkada Tarakan ini Yusuf Abdullah akan maju lagi? “Nggak lah. Bukan takut kalah. Tapi kita sudah komitmen mendukung Pak Anang (Maksudnya Anang Dahlan Djauhari, mantan Bupati Bulungan). Suara saya untuk beliau,” katanya sambil menatap langit yang mulai cerah.

Ngobrol dengan Yusuf Abdullah bukan melulu soal perpolitikan Tarakan dan Kaltim, tetapi juga tentang hilangnya budaya. “Tahun 50-an saya ke Tawau, pemerintah di sana sudah sangat konsisten mengajak warganya untuk tertib, tidak merokok ataupun meludah di sembarang tempat, selalu ramah dan tersenyum bila bertemu dengan pendatang. Tapi lihatlah kita sekarang. Kita sama sekali kehilangan akar budaya sendiri. Mestinya pembangunan yang kita laksanakan tidaklah lantas menghilangkan identitas kita sebagai bangsa yang berbudaya,” katanya panjang lebar.

Kepeduliannya yang tinggi terhadap persoalan politik, sosial dan budaya mengisyaratkan kalau Yusuf Abdullah masih eksis. Tutur katanya tak lagi meledak-ledak seperti dulu. Teduh, dan sebagai orangtua dia paham benar kalau sekarang saatnya dia harus banyak memberi nasihat kepada kalangan muda.

Speedboat berlayar menuju Tideng Pale. Usai acara pun, Yusuf Abdullah tak lagi bersama saya dan rombongan presidium Tana Tidung untuk kembali ke Tarakan. Dia memilih menginap di sana. Benarkah Yusuf Abdullah akan “comeback” ke politik dengan menjadi kandidat Bupati Tana Tidung? Ah, sayangnya saya belum sempat bertemu dengannya lagi untuk konfirmasi. Kapan-kapanlah kalau saya sedang tak sibuk. (anny@radartarakan.com)


0 Responses to “Resep Siap Kalah ala Yusuf Abdullah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: