07
Agu
08

Suatu Senja di Tanah Merah Nunukan

Memilih Berdoa Singkat, Bismillah…

SAYA baru tiba di Kota Nunukan pekan lalu. Satu pesawat dengan @nima Band dan seluruh kru artis maupun Radar Tarakan. Wah, seru banget. Serunya menyaksikan band asal kota kembang Bandung ini dag dig dug naik pesawat kecil, begitu mendarat semuanya bertepuk tangan. Lalu rame-rame berseru,”Alhamdulillah, ya Allah. 15 menit tegang banget.”

Bagi saya ini penerbangan kesekian kalinya menggunakan pesawat ke Nunukan, bagi @nima band inilah kali pertama mereka ke Nunukan. Sebuah pengalaman menarik selama 15 menit di udara. Saya sih sudah biasa, mau lewat udara, sungai, laut, darat ups… saya dengar ada jalan tembus dari Malinau ke Lumbis terus ke Sebuku terus menyebrang ke Pulau Nunukan. Saya belum pernah mencobanya. Kapan-kapanlah.

Begitu sampai di Bandara Nunukan, pemandangan lain membuat mereka saling bertanya-tanya. “Kok main bola di bandara? Hehehe lucu ya.”. Ternyata memang beberapa kontingen Porseni tengah berlatih di bandara –kebetulan Kabupaten Nunukan menjadi pusat kegiatan Porseni se-Kaltim. Ada yang main sepakbola, ada yang main basket, berlari-lari kecil, dan lainnya. Tapi kontingen porseni ini main di sisi lain bandara. Tepatnya di lintasan dua. Tapi ngeri juga lho kalau sewaktu-waktu ada pesawat mendarat darurat. Mungkin mengamankan bandara dari aktivitas warga jauh lebih baik dan lebih aman.

Setelah menaruh barang-barang di hotel, saya berpisah dengan rombongan artis dan kru. Saya memilih untuk berjalan-jalan di kota yang kali pertama saya kunjungi tahun 1999 lalu. –Saat itu saya masih reporter harian Samarinda Pos (Kaltim Post Group). Saya ikut rombongan wartawan meliput kegiatan Gubernur Kaltim Suwarna AF dan Ketua DPRD Sukardi Jarwo Putro saat pemekaran Nunukan.–

Nah, rute kunjungan saya kali ini langsung ke lokasi acara, Lapangan Tanah Merah Nunukan. Nur Aksa Yahya, manajer Event Organizer inipun menyopiri saya. Begitu sampai di lokasi, matahari senja menyinari lapangan yang sudah ditutup gubengan seng. Panggung sudah berdiri megah, sound system tengah diutak-atik, beberapa warga juga tampak berkerumun menyaksikan persiapan demi persiapan yang dilakukan kru Radar Tarakan.

Saya melihat kulit beberapa kru terbakar panas matahari, hitam legam gitu deh. Duh… kasihannya. Kenapa nggak pakai krim anti sinar matahari sih? Namanya tugas, mereka sih mengaku sudah biasa. “Biasa ajalah mbak. Kita kan orang lapangan,” kata salah satu kru. Terus kenapa matanya merah? “O, ini waktu perbaiki genset solarnya nyembur ke wajah kami. Jadinya perih begini deh.” Waduh, meskipun saya khawatir, kru yang sudah terbiasa menangani persiapan konser artis-artis di Jawa inipun tak mempedulikannya. Terserahlah, yang penting saya sudah peduli.

Untuk even kali ini memang Radar Tarakan all out membawa semua perangkat, mulai panggung, rijing, soundsystem, lighting, multimedia, seluruh kru yang berjumlah 50-an orang, hingga genset sekalian di bawa. Genset bukan untuk antisipasi byar pet listrik, tapi selama acara berlangsung (Jalan Santai Nunukan Ceria dan A Mild Live Concert @nima Band) Radar Tarakan memilih menggunakan genset. Oou… solar pun ketika itu langka di Nunukan. Wah, terpaksa lagi-lagi solar dibawa dari Tarakan. Solar harus cukup, nggak boleh lebih, nggak boleh kurang. Maka harus dihitung cermat. Berapa kebutuhannya.

“Ini kali pertama seluruh perangkat EO Radar Tarakan dibawa keluar dari Tarakan. Nunukan mendapat kesempatan pertama, makanya all out,” kata Aksa kepada saya yang tengah sibuk mendokumentasikan persiapan demi persiapan.

Di tengah kesibukan saya itu, beberapa warga mendekati. Berkenalan dan menyapa ramah. Ada yang mengajak diskusi tentang Radar Tarakan, tentang EO, tentang Nunukan, tentang pilwali Tarakan, macam-macamlah. “Mengapa Anda tidak mencalonkan diri menjadi salah satu kandidat di pilwali Tarakan. Kan bisa dari calon independen misalnya. Kans Anda kan lebih besar, Anda punya koran, punya radio, punya EO,” kata salah satu warga Nunukan yang kritis banget bertanya.

“Maaf, saya tidak tertarik. Saya enjoy menjadi penulis. Penulis yang pengusaha kali ya,” kata saya sambil tertawa tak menyangka mendapat pertanyaan sekritis itu. Apakah warga Nunukan itu kritis-kritis?

Tetapi ada yang unik, saat salah satu warga meminta wawancara, rupanya dia memiliki salah satu media broadcast lokal di Nunukan. Dengan rendah hati saya bilang, maaf saya bukan artis atau selebriti, saya… ehm… tukang fotonya artis. Hehehe sambil ngacir dan terus mendokumentasikan kegiatan-kegiatan kru di lapangan. Pantang menyerah, dia terus mengikuti kemanapun saya berpindah tempat untuk mencari eangle terbaik foto. “Dengan Mas Ade saja ya,” kata saya lagi. (Ade adalah Kepala Biro Radar Tarakan di Nunukan sekaligus ketua panitia HUT Radar Tarakan yang dipusatkan di Nunukan).

Menariknya ketika saya berbincang-bincang dengan warga lainnya. Mereka berkata,”Radar mengapa berani sekali memusatkan seluruh kegiatannya di Lapangan Tanah Merah. Disini angker. ‘Penunggu’ di sini tak suka ada bunyi-bunyian apalagi soundsystem anda ini nyaring sekali. Tempo hari waktu konser artis dangdut, hujan lebat, badai, atap panggung terbang, artisnya kehujanan, lapangan jadi lautan lumpur, acaranya tidak sukses. Acara lainnya juga begitu. Tidak ada yang sukses kalau menggelar acara disini. Tidak akan pernah sukses. Saya yakin Radar Tarakan kali ini tidak akan sukses.”

Saya sempat termenung sejenak mendengar kata-kata warga tadi. Bukan kali ini saja saya mendengarnya. Sudah sejak jauh-jauh hari. Bukan hanya satu dua orang, tetapi banyak. Haruskah saya takut dengan “penunggu” Lapangan Tanah Merah? Bukankah nantinya jadinya syirik (menduakan Tuhan semesta alam)? Haruskah saya memerintahkan anak buah saya yang banyak itu bahkan sudah persiapan dua bulan sebelumnya dan dua minggu lebih berada di Nunukan untuk segera kembali ke Tarakan? Kepalang basah acara tetap lanjut apapun yang terjadi. Karena saya yang menyuruh mereka ke Nunukan, masa saya yang harus memerintahkan mereka segera kembali. Bisa-bisa saya dicap sebagai pemimpin plin-plan.

Apa yang harus saya lakukan? Saya memilih berdoa singkat di dalam hati, ya di Lapangan Tanah Merah di suatu senja yang sinar mentarinya sudah mulai beranjak ke peraduan. “Bismillahirrahmanirrohiim….” Terserah Allah-lah yang menentukan apakah acara ini sukses atau tidak, karena Dia-lah pemilik semua kesuksesan. Yang penting saya sudah berdoa, anak buah saya, seluruh kru baik Tarakan maupun Nunukan sudah bekerja keras untuk persiapan HUT Radar Tarakan kali ini. Sebuah acara ultah yang bukan sekadar tiup lilin dan potong kue semata, tetapi justru memilih mempromosikan Nunukan. Ya, kotanya, kulinernya (banyak tempat-tempat makan baru yang menarik), tempat wisatanya, pelabuhannya, hotelnya, dll.

Selama ini Nunukan terkenal dengan imej kotanya yang suka byar pet listrik, harus ada yang berbuat untuk mengubah imej negatif tersebut. Jangan larut pada sebuah ketidakberdayaan, tetapi berusaha terus memperbaiki keadaan. Stigma negatif ini yang harus dibalik menjadi positif. Apakah yang bisa dilakukan sebuah koran selain memberitakan? Bisakah Radar Tarakan memberikan solusi alternatif untuk Nunukan? Bisakah Radar Tarakan membuat acara spektakuler di Nunukan di tengah himpitan keraguan akan persoalan listrik? Jawabannya bisa. Asal berusaha, Allah pasti akan membantu dimanapun kita berada. Dan akhirnya silakan masyarakat Nunukan sendiri yang memberikan penilaian.

Sssst…soal “penunggu” itu saya masih penasaran. Jawabannya justru saya temukan pada dua petinggi Nunukan, malam sebelum kegiatan saya sempat silaturahmi ke rumah Sekda Nunukan Zainuddin HZ dan keesokan harinya saat jalan santai dengan Wakil Bupati Nunukan Kasmir Foret. (Saya juga ke rumah Bupati Nunukan Abdul Hafid Achmad, tetapi beliaunya tengah beristirahat. Lain waktulah bertemu Pak Hafidz. Karena setiap kali ke Nunukan saya jarang bertemu pejabat, selain diburu waktu harus ke Tarakan, saya lebih enjoy menikmati beragam kuliner yang mulai ramai di Nunukan)

“Siapa bilang ada penunggunya. Ah, itu hanya anggapan umum saja. Tugas Anda untuk meluruskan opini masyarakat yang telanjur keliru. Itu begini lho. Lapangan Tanah Merah kan dulunya laut yang ditimbun. Namanya laut, tentu saja angin laut seringkali berhembus kencang. Nggak terlalu kencang juga sih, karena masih ada pulau di sebelahnya kan. Saran saya mendirikan panggung jangan menghadap ke laut atau membelakangi laut, nanti bisa terbang atapnya atau malah roboh. Saya lewat ke sana tempo hari sudah bener itu cara mendirikan panggungnya,” kata Zainuddin HZ.

Sementara itu, Kasmir Foret juga menyatakan hal yang sama. “Ini (maksudnya Lapangan Tanah Merah) dulunya laut yang ditimbun. Nanti akan tembus ke jalan lingkar. Soal acara-acara yang tidak sukses kalau digelar di tempat ini, saya kira faktor cuaca saja. Saya yakin Radar Tarakan akan sukses. Anda datang di waktu yang tepat. Cuacanya bagus. Anda harus optimis. Terimakasih sudah mau datang ke Nunukan dengan personel dan peralatan lengkap. Ini hotel-hotel yang sementara masih menunggu aliran listrik. Pemkab bukan hanya diam saja, kami sedang berusaha. Berilah kami waktu dan kesempatan menyelesaikan persoalan listrik ini. Saya minta dukungan Anda dan tim Anda,” kata Kasmir Foret saat saya menemaninya bersama dengan jajaran Muspida Nunukan melewati Alun-alun, salah satu rute jalan santai Nunukan ceria dari Lapangan Tanah Merah dan finish di tempat yang sama.

Kegiatan jalan santai yang berlangsung di pagi harinya sukses, malamnya konser@nima juga sukses. Alhamdulillah. Sukses itu ternyata bila kita mampu mengatasi segala rintangan dan hambatan yang ada di depan mata. Thanks semua. (anny@radartarakan.com)


4 Responses to “Suatu Senja di Tanah Merah Nunukan”


  1. Februari 16, 2009 pukul 1:53 pm

    Panjang bgt tulisanx… sepakbola ditanah merah final selasa 17 Feb 09 gak dliput neh? ato gw aja yg liput, gw taroh diblog gw aja ye…

  2. 2 Copank
    Maret 19, 2009 pukul 12:13 am

    Waktu itu, Gue nonton ma temen2 Gue.
    Seru dan alhamdulillah acaranya sukses.
    Tp ada satu hal yg ga Gue lupakan, waktu ada acara tsb.
    Gue kena damprat ma pak polisi, karna Gue terlalu buru-buru waktu masuk.
    Jd belum diperiksa, Gue udah nyelonong duluan.

  3. Maret 19, 2009 pukul 8:09 am

    wah copank nih. jangan ditiru lho teman teman yang lain. buadaya nyelonong itu nggak bagus lho. lain kali budaya antre ya. thanks copank dah mau berkunjung ke blog saya

  4. 4 Copank
    Maret 26, 2009 pukul 7:56 pm

    Yupz, sama-sama buu’ . . . Teruz jd penulis yg kreatif ya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Flickr Photos

More Photos

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 25,249 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: