28
Okt
08

Tabrakan di Depan Gang Paguntaka

Hari yang cerah. Pagi-pagi saya sudah menuju ke kantor. Ngerasain ngantor pagi-lah. Kalau biasanya sih terserah, bisa siang, sore atau malam. Aktifitas saya kebanyakan di luar kantor sekarang. Kalaupun ngantor ya paling ngecek anak buah.
Ya, kemudahan teknologi telah memudahkan segalanya. Kalau perlu sesuatu tinggal SMS atau telepon, periksa laporan tinggal buka laptop internetan dimanapun berada. Tapi ngantor tetap wajib. Sehari nggak ngeliat kantor rasanya seperti “hari yang aneh”. Kantor ibaratnya sudah menjadi rumah kedua.
Jalan-jalan ramai banget dengan aktifitas warga. Ada yang berangkat ke kantor, ke sekolah atau ke pasar. Polisi juga tampak mengatur lalu lintas di beberapa titik perempatan dan pertigaan. Karena nggak semua jalan ada trafficlight-nya
Biasanya saya lebih suka lewat jalan Kampung Bugis dalam lewati sekolah Indo Tionghoa, tembus Jl Mulawarman samping rukan yang baru dibangun. Kali ini saya memilih melewati Jl Sudirman, stop sejenak di lampu merah, belok kanan ke Jl Mulawarman. Di sini harus hati-hati karena banyak gang dan persimpangan. Kadang harus menyetel lampu tanda jalan lurus supaya kendaraan lain mengalah. Karena saya nggak mau telat sampai kantor. Sekaligus saya nggak suka kalau jalan saya dipotong-potong. Hehehehe egois ya. Padahal salah satu pelajaran dari instruktur mengemudi saya adalah, kendalikan emosi saat di jalan, meski di jalan tetap jaga sopan santun berkendara. Ya proses lah.
Dari Jl Mulawarman depan Bais Café agak di depan sedikit, saya berbelok lewat jembatan dekat kepiting saos, belok lagi ke kiri menuju Gedung Silver. Baru beberapa meter mengendarai mobil tiba-tiba:
“Allahu Akbar.”
Citttttttttttttttttttt…. Bunyi ban berderit saat saya tiba-tiba mengerem laju kendaraan dan sontak klakson mobil berbunyi nyaring.
Sebuah tabrakan antardua sepeda motor terjadi di depan mobil saya. Tepatnya di Gang Paguntaka Jl Mulawarman. Kurang lebih 200 meter dari Gedung Silver Radar Tarakan. atau sekitar 1 atau 2 meter di depan mobil yang saya kendarai.
Kendaraan yang satu dari arah Gang Paguntaka, pengendaranya langsung berbelok ke kiri ke arah jalan dekat Kepiting Saos. Satunya lagi dari arah berlawanan dengan saya, tetapi tujuannya sama ke arah jalan dekat Kepiting Saos juga.
Sejurus kemudian saya sempat blank sambil memandangi handrem. Sempat berpikir sejenak caranya memfungsikan handrem gimana ya. Terus caranya memposisikan tuas netral gimana ya. Wah…
Kedua kaki saya masih dalam posisi mengerem. Untungnya pakai sabuk pengaman jadi pas ngerem mendadak jidat (dahi) nggak membentur setir atau dashboard. Cuma tas ransel saya di samping tempat duduk yang berisi laptop sempat membentur dashboard. Yah, apes deh.
Sejenak rileks, sambil menarik napas panjang. Handphone saya mana ya? Kata saya dalam hati sambil merogoh saku samping.
“Pak, keluar pos satpam dulu deh. Liat ke jalan. Kesini deh. Cepetan. Cepetan. Buruan ya,” kata saya kepada Satpam yang bertugas di Gedung Silver pagi itu.
Saya melongok ke jam di HP, pukul 07.30. Saya keluar dari mobil dan masih dengan lutut bergetar bersender di body mobil sambil melihat kejadian tabrakan. Seorang perempuan, terjatuh di aspal. Disampingnya ada sepeda motor.
Siapa yang salah? Sama-sama nggak sengaja menabrak sih. Yang satu keluar dari gang langsung berbelok ke kiri, wajar kalau nggak tahu ada kendaraan lain yang lewat karena pandangan dari arah kanan terhalang seng pembangunan ruko yang baru tahap pengerjaan akhir. Pandangan dari arah kiri terhalang tembok pembatas tanah milik warga.
Pengendara satunya lagi dari arah berlawanan, posisinya pengendara itu sama sekali tidak tahu kalau ada kendaraan dari dalam gang. Karena dari jauh terlihat tertutup seng.
Karena hari-hari lewat di depan Gang Paguntaka terutama saat pulang kantor, saya hapal benar kondisinya. Saya juga pernah nyaris menabrak pengendara motor dari gang ini. Kalau lewat gang ini pertama saya memelankan laju kendaraan, kemudian membunyikan klakson dua kali saat siang atau mengedipkan lampu saat malam, baru kemudian laju deh.
Pernah saya lewat depan gang ini saat pulang kantor malam dan mengedipkan lampu, eh, tiba-tiba ada kendaraan tetap nyelonong aja dari dalam gang. Wah, sekalian saya klakson panjang. Kaget tuh orang. Emang nggak tahu apa kalau kedipkan lampu itu sebagai penanda. Sambil mengumpat,”Uhhhhhhhhh, slonong boy aja. Nggak liat kiri kanan kalau keluar gang.” Saat itu bener-bener kesal.
=====0o0====
Begitu Pak Satpam terlihat di jalan raya saya sempat melambaikan tangan dan berharap segera datang. Beberapa karyawan Office Boy (OB) berhamburan mendatangi saya.
“Mbak nabrak motor?,” kata mereka ramai-ramai.
“Nggak. Untung sempat ngerem sih,” kata saya lagi.
Warga sekitar juga berhamburan melihat. Ada pula yang membantu mengangkat pengendara motor yang terjatuh. Pengendara ini seorang ibu berjilbab dan berpakaian kerja. Kayaknya sih mau pergi kerja. Tapi saya tak sempat bertanya-tanya. Dia terduduk di samping parit besar di Jl Mulawarman. Kakinya pun diluruskan. Sakit? Pastilah.
Kantor Radar Tarakan masih beberapa meter lagi, tapi saya tak sanggup lagi mengendarai mobil. Saya menyuruh teman-teman OB untuk mengantar saya sampai di kantor.
Saya sempat menawari ibu yang terjatuh itu untuk diantar teman-teman saya, tapi dia menolak sambil mengucapkan terimakasih. Akhirnya saya pun disopiri teman-teman OB, ke kantor. Kejadian itu tak berlanjut ke polisi, karena dua-duanya merasa kasihan kali ya. Saya pun tak sempat mencatat nomor kendaraan mereka. Yang ada dalam benak saya bagaimana sampai di kantor segera.
Leganya sudah sampai kantor dengan selamat. Alhamdulillah. Saya membayangkan, kalau seandainya saya sangat laju sekali mengendarai mobil waktu itu, mungkin nyawa ibu itu tak tertolong karena kepalanya terlindas mobil saya. Mungkin juga nyawa saya tak tertolong lagi karena pilihannya nggak ada lain selain menabrakkan mobil ke penahan parit dan mobil nyemplung ke parit. Ah… cumi. Cuma mikir. Subhanallah, Allah masih memberi saya hidup.
Pelajaran menyetir mobil kali ini; kalau keluar masuk gang wajib liat kiri kanan jalan dahulu. Kalau melewati gang pastikan tak ada kendaraan yang nyelonong tiba-tiba dengan antisipasi bunyikan klakson atau kedipkan lampu. Saat mengendarai mobil di jalan penuh gang di sisi kiri dan kanan, perlahankan mobil.
Kok belajar menyetir lagi? Ya, belajar setiap hari. Menemukan masalah dan solusinya tiap hari. Tapi semrawut juga lho sebenarnya lalu lintas Tarakan itu. Kalau ada polisi tertib, kalau nggak ada polisi yah… gitu deh. Sembarangan aja di jalan, nggak ada sopan santunnya. Kapan-kapan deh saya nulis. (anny@radartarakan.com)


0 Responses to “Tabrakan di Depan Gang Paguntaka”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Oktober 2008
S S R K J S M
« Agu   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Klik tertinggi

  • Tak ada

Flickr Photos

Lebih Banyak Foto

JUMLAH PENGUNJUNG HINGGA SAAT INI

  • 41,647 hits

%d blogger menyukai ini: